Oleh Virama Isaroh

Mahasiswa INISNU Temanggung

Saya menulis ini terinspirasi dari saudara saya sendiri tentang dia waktu kecil suka sekali dengan menari. Goyangannya lemah gemulai dan dia menari daerah manapun bisa dan dia juga sering mengikuti lomba untuk mewakili sekolah sampai di tingkat Kabupaten, dia juga mendapatkan 5 besar. Sekali anak lihat video tentang tarian dia langsung bisa menirukan gerakannya, dia juga memiliki cita-cita untuk menjadi penari yang terkenal.

Kita lama sekali tidak berjumpa, terakhir berjumpa waktu kelas 6 Sekolah Dasar kita terpisahkan karena aku harus pergi keluar kota untuk mecari ilmu di Pondok Pesantren. Karena sedikit canggung untuk saling menyapa akhirnya aku bertanya ‘’sudah berapa aja tarian daerah yang kamu hafal?’’ namun dia menjawab ‘’sekarang aku sudah tidak suka lagi dengan tarian’’ ujarnya. Akupun Tanya kenapa alasannya, aku kaget mendengar alasan dari anak itu.orang tua dan keluarga tidak medukung karena tarian tidak bisa mendapatkan uang yang maksimal,biaya hidup aja pasti kurang kalau hanya bekerja sebagai penari. Memang benar sih orang tua serta keluarganya pasti menginginkan anaknya yang terbaik dan ingin anaknya waktu dewasa memiliki penghasilan yang besar dan tetap.

Tapi, kalian bisa menerka tidak, dimana letak kejanggalannya?

Karena hal itu dikatakan oleh orang-orang sekitar sedangkan saudaraku masih dibangku Sekolah Dasar, masih terlalu dini untuk orang tua dan keluarganya mengatakan itu semua. Orang tua dan lingkungan yang paling dekat dengan anak, lingkungan serta orang tua adalah factor pertama dan utama, yang membuat anak kehilangan bakat yang dimilikinya saat usia dini karena kurangnya respon ataupun kurangnya tanggapan.

Sebagai orang Indonesia pasti tahu dengan istilah nyinyir?

Nyinyir itu seperti permintaan atau cerewet. 

Apabila kita sambungkan dengan kasus diatas yang di alami saudaraku dimana orang tua beserta keluarganya nyinyir sebab anaknya ingin menjadi penari yang terkenal. Apabila orang tua dan keluarga hanya berkata satu kali saja pasti anak tidak akan menggubris hal-hal itu. Tapi jika orang tua beserta keluarganya terus mengulang-ngulang sebagai seorang anak pasti akan ditanggapi sebagai hal serius.

Sebuah bakat yang terkubur itu karena tidak di asah sejak usia dini, makanya bakat itu kemudian terkubur namun masih ada kemungkinan untuk kembali muncul. Misalkan saudaraku yang suka menari dan sekarang tidak pernah melatih kemampuan untuk menari, buktinya akan tenggelam atau terkubur bakatnya. Anak itu juga memiliki bakat Lahiriyah atau bakat karena keturunan, akan dipengaruhi juga oleh lingkungan disekitarnya.

Bakat yang tenggelam atau terkubur dapat digali kembali apabila orang tua dan keluarganya mendukung. Seperti orang tua saudaraku sadar, bahwa anaknya memiliki bakat menari kemudian daftarkan anaknya untuk mengikuti les privat menari dan juga daftarkan anak nya pada kompetensi-kopetensi seni,bisa jadi bakat saudaraku akan tumbuh lagi.

Terakhir ada pesan Hti-hati menjaga lisan maupun omongan, sebab, lisan mampu mematahkan suatu hal yang terkadang tidak Nampak di kenyataan. Dan jangan sampai kita menjadi salah seorang dari mereka yang sukanya nyinyir. Ketika anak usia dini mencintai bakat, janganlah kita nyinyir, hati-hati bakat anak akan terusir. Jadilah orang yang selalu memberikan semangat dan selalu memberikan alasan bagi anak untuk lebih menyayangi bakat yang anak miliki, pasti anak akan menjaganya sebaik mungkin.

Dan jadilah orang tua maupun keluarga yang selalu mendukung anaknya dalam hal apapun itu, jika anak itu salah kita hrus beri alasan dengan jelas jangan asal melarang saja. Tetap semangat untuk ibu-ibu di luar sana yang mendidik anak untuk menjadi orang yang hebat pada waktu dewasa nanti.

Terimaksih.

Bagikan :

Tambahkan Komentar