Hadroh Trisula Temanggung

Hadroh Trisula Temanggung

Pasang Iklanmu Di Sini!


Temanggung, Hariantemanggung.com
- Sekelompok pemuda yang mengatasnamakan Jaringan Muda Ahmad Luthfi kabupaten Temanggung adakan perkumpulan untuk mendukung dan mendeklarasikan Irjen.Pol. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.,M.K sebagai gubernur Jawa Tengah periode 2024-2029 pada Selasa, 21 Mei 2024.

Bertempat di Cafe Titik Temu, Gianti, Temanggung kegiatan deklarasi ini bertujuan mendukung dan memenangkan Ahmad Luthfi dalam pemilihan gubernur 27 November 2024 mendatang. Kegiatan ini sekaligus diisi dengan diskusi kepemudaan, mengusung tema "peran pemuda membangun bangsa", Kemudian memperbincangkan kondisi politik saat ini.

Koordinator Jaringan Muda Ahmad Luthfi kabupaten Temanggung Arfin Mustofa mengungkapkan bahwa, "Bapak Ahmad Luthfi telah membuktikan kinerjanya sebagai Kapolda Jawa Tengah dengan baik dan teruji, maka kinerja yang baik itu harapannya bisa dilanjutkan untuk memimpin Jawa Tengah".

“Beliau ini dikenal memiliki jiwa sosial serta loyal dengan negara. Selain itu, beliau juga dikenal dekat dengan para pemuda. Oleh karena itu, kami selaku generasi muda memiliki inisiatif untuk mendeklarasikan dan mendukung beliau sebagai Gubernur periode 2024-2029,” lanjutnya.

Arfin, koordinator mengatakan bahwa gerakan relawan Jaringan Muda Ahmad Luthfi Temanggung siap memenangkan Ahmad Luthfi sebagai Gubernur Jawa Tengah periode 2024-2029. (htm/far)


Temanggung, Hariantemanggung.com
- Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menggelar Kuliah Umum dan Sosialisasi Pusat Kajian Budaya dan Kebijakan Publik (PKBKP) INISNU Temanggung yang bertempat di Aula lantai 3 INSINU Temanggung. (20/05/2024)

Pada kuliah umum tersebut, narasumber yang dihadirkan sebagai Pakar/Ahli, Peneliti dan Akademisi Budaya Gayo, sekaligus Ketua Pusat Kajian Budaya dan Kebijakan Publik (PKBKP), Dr. Joni M.N. M.Pd B.I. 

Tak luput pula, turut hadir dalam acara tersebut, Wakil Rektor III Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerjasama, Moh. Syafi', M. Hum., Sekertaris Pusat Kajian Budaya dan Kebijakan Publik (PKBKP), Sigit Tri Utomo, M. Pd., dari Pusat Kajian Aswaja An-Nahdliyah (PKAN), Abdul Muchit M. Ag., Dekan Fakultas Tarbiyah dan Kegiatan, Adrian Gandi Wijanarko, M. Pd., Komunitas Diskusi Aktualisasi Filsafat, dan ORMAWA (Organisasi Mahasiswa) INISNU Temanggung.

Wakil Rektor III , Moh Syafi', M. Hum. Mengatakan, Mahasiswa lulusan INISNU bukan hanya bisa doa tapi banyak potensi potensi dari mahasiswa lulusan INISNU, baik itu di bidang kajian budaya ataupun yang lainnya. Bekerjasama dengan pakar Ama ( ketua adat dari Gayo) bapak Joni, INISNU memberi peluang besar bagi temanggung untuk berkembang di bidang kebudayaan.

Kuliah umum dengan tema "Pentingnya Kebudayaan" bertujuan untuk mengedukasi mahasiswa terkait pentingnya kebudayaan. Selain itu, mahasiswa juga di ajak untuk merefleksikan kebudayaan yang ada di temanggung. 

Selain Kuliah Umum , Kegiatan ini merupakan sosialisasi dan launching pertama Pusat Kajian Budaya dan Kebijakan Publik (PKBKP) INISNU Temanggung. (htm/tuti)


Oleh Fatimah Azzahra

Sosiologi pendidikan adalah salah satu cabang sosiologi yang mempelajari interaksi sosial dalam konteks pendidikan. Salah satunya dalam konteks pendidikan Islam, sosiologi pendidikan juga memiliki peran penting dalam memahami bagaimana faktor sosial mempengaruhi pendidikan islam, yaitu memahami interaksi sosial antara peserta didik dan pendidik, serta tantangan yang dihadapi dalam pendidikan Islam. Artikel ini akan membahas sosiologi pendidikan yang terkhusus dalam konteks pendidikan islam, termasuk peran dan tantangan yang terkait.

Peran Sosiologi Pendidikan Islam

Sosiologi pendidikan islam membantu kita dalam memahami bagaimana faktor-faktor sosial seperti agama, budaya, dan struktur sosial mempengaruhi sistem pendidikan Islam. Hal ini melibatkan analisis terhadap sejumlah aspek termasuk peran keluarga lembaga pendidikan dan masyarakat, serta faktor-faktor eksternal lainnya yang berkontribusi terhadap pengalaman pendidikan islam seseorang.

Selain itu sosiologi pendidikan islam juga berperan sebagai :

Memahami masyarakat islam, membantu dalam memahami masyarakat isalam secara lebih dalam, ini melibatkan mempelajari nilai-nilai norma, kepercayaan, dan praktik-praktik sosial dalam masyarakat muslim yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi pendidikan.

Menganalisis interaksi sosial, menganalisis interkasi sosial di dalam institusi pendidikan islam. Hal ini mecangkup hubungan antara guru dan siswa, hubungan antara siswa, dan hubungan antara istitusi pendidikan islam dengan masyarakat di sekitarnya. Dengan memahami interaksi sosial ini, sosiologi pendidikan islam dapat membantu menigkatkan kualita proses pendidikan.

Memahami faktor sosial yang mempengaruhi pendidikan islam, memperhatikan faktor-faktor sosial yang mempengaruhi pendidikan islam. Misalnya, ekonomi, politik, budaya, dan faktor-faktor sosial lainnya dapat mempengaruhi kebijakan pendidikan, aksesbilitas pendidikan, kurikulum, dan praktik pengajaran dalam institusi pendidikan islam.

Tantangan Dalam Pendidikan Islam

Analisis tentang sejumlah tantangan pendidikan islam dapat dilakukan dengan pendekatan sosiologi pendidikan. Ada tiga tantangan utama yang kini dihadapi oleh pendidiakan islam, yaitu:

Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Pendidikan islam saat ini sedang menghadapi perubahan sistem pembelajaran pada budaya modern yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Ada banyak pendapat yang mengatakan bahwa pendidikan islam tidak terlalu fokus memprioritaskan aspek yang bersifat praktis dan pragmatis, seperti penguasaan teknologi. Hal tersebut mengakibtakan pendidikan islam tidak mampu bersaing pada level pendidikan ditingkat global.

Demokratisasi

Demokratisasi yaitu isu lain yang mempengaruhi pendidikan islam indonesia. “Bahwa tuntutan demokratisasi pada awalnya ditujukan pada sistem politik negara sebagai antitesis terhadap sistem politik yang otoriter” Dede Rosyada (2004).

Dekadensi Moral

Revolusi teknologi mengakibatkan pergeseran nilai dan norma budaya, pada dasarnya nilai-nilai budaya dari pihak yang lebih dominan dalam menguasai iptek akan cenderung berposisi dominan pola dalam interkasi kultural yang terjadi. Dalam hal ini, Hasbi Indra (2005:72) menjelaskan bahwa budaya barat telah memperlihatkan superioritasnya terhadap budaya islam.

              Tantangan lainnya adalah kesenjangan pendidikan antara kelompok sosial dalam masyarakan islam. Faktor-faktor seperti ekonomi dan latar belakang sosial dapat mempengaruhi kualitas serta akses pendidikan yang diterima oleh setiap pelajar. Salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk membantu mengidentifikasi faktor-faktor ini adalah melakukan analisis sosiologi pendidikan islam.

Selain hal diatas pendidikan islam juga menghadapi tantangan antara lain:

Modernitas dan perubahan sosial, perubahan sosial yang cepat dan modenisasi seringkali menjadi tantangan dalam sosiologi pendidikan islam. Tantangan ini meliputi bagaimana pendidikan islam dapat tetap relevan dalam menghadapi perubahan sosial dan nilai-nial yang muncul dengan modernitas.

Ketidakseimbangan akses pendidikan, tantangan dalam sosiologi pendidikan islam termasuk ketidakseimbangan akses pendidikan bagi semua lapisan masyarakat muslim. Hal ini dapat terjadi karena perbedaan ekonomi, geografis, gender, atau faktor sosial lainnya. Memastikan akses yang adil dan merata terhadap pendidikan islam tetap menjadi tantangan penting.

Harmonisasi antara tradisi dan modernitas, juga menghadapiaa tantangan dalam harmonisasi antara tradisi dan nilai-nilai islam dengan tuntutan modernitas. Penting untuk mempertahankan nilai-nilai kemurnian etika dan cara mengintegrasikannya secara positif dengan doktrin agama serta mengintegrasikan elemen-elemen yang relevan dengan perkembangan sosial dan teknologi.

Pergeseran suatu sistem keyakinan yang menjadikan islam sebagai nilai untuk menghukumi realita kehidupan. Hal tersebut mencakup perubahan dalam pendekatan pengajaran, penekanan pada keterampilan dalam pembelajaran, dan adaptasi dengan tuntutan dunia kerja.

Pemahaman tentang peran dan tantangan dalam sosiologi pendidikan islam penting untuk mengembangkan pendidikan islam yang lebih baik.


Oleh: Rida Wahyuningsih

Kurikulum merupakan salah satu unsur terpenting yang harus ada dalam pelaksanakan satuan lembaga pendidikan. Karena kurikulum dijadikan sebagai alat untuk membuat perencanaan kegiatan pembelajaran berupa proses untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam kegiatan sekolah sesuai dengan kebutuhan pada masanya. Jadi apa bila terjadi perubahan pada kurikulum, guru atau pendidik harus bisa mendalami dan mengimplementasikkannya dengan tepat sesuai kurikulum yang berlaku agar tujuan dari pendidikan itu dapat tercapai.

Pengembangan kurikulum berjalan seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju sesuai kebutuhan. Faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum yaitu teknologi informasi, ilmu pengetahuan, masyarakat, perkembangan dunia, politik, psikologis dan masih bnayak lagi. Hal ini  membuat pendidik harus pandai mengolah informasi agar pembelajaran yang berjalan menjadi aktif efektif dan menarik.

Dilangsir dari kemdikbud kurikulum yang sedang digerakkan saat ini adalah kurikulum merdeka dimana guru memberi kebebasan kepada siswa (peserta didik) untuk memilih materi pembelajaran yang sesuai dengan minat dan bakat siswa itu sendiri. Hal ini akan menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih maksimal dan memiliki waktu yang lebih untuk mendalami konsep-konsep pelajaran yang diajarkan. Dimana keunggulan dari kurikulum merdeka belajar yaitu dengan memfokuskan pada materi esensial serta pengembangan kompetensi siswa sesuai tahapnya, yang menjadikan pembelajaran menjadi bermakna, mendalam, menyenangkan dan tidak terburu-buru. Adapun tujuan dari kurikulum merdeka belajar adalah untuk mengembangkan potensi siswa dan meningkatakan kualitas pendidikan.

Struktur kurikulum merdeka terdiri atas tiga dasar yaitu: pertama, pembelajaran yang fleksibel dimana siswa dapat belajar dimanapun dan kapanpun berada sesuai dengan keinginannya. Kedua, berbasis kompetensi dimana siswa belajar dengan pencapaian kopetensi yang dimiliki, artinya siswa dapat memaksimalkan pengetahuan yang siswa itu miliki. Ketiga, karakter Pancasila dimana siswa harus mempunyai enam karakter yaitu: Percaya, berakhlak mulia dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kreatif, berpikir kritis, mandiri, bekerja sama dan memiliki keragaman global. 

Jadi dari sini dapat dipahami bahwa dalam kurikulum merdeka pembelajaran PAI sangat penting dimana diharuskan memberi bimbingan kepada siswa agar tahu spiritual keagamaan, memiliki akhlak yang mulia dimana akhlak yang benar sesuai dengan syariat seduai peradaban, menjalin kasih sayang, dan adanya sikap toleransi antar agama, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam mengambil keputusan.

Dilansir dari situs web uin-antasari kurikulum pendidikan Islam merupakan beberapa bahan pendidikan Islam yang berupa kegiatan pengalaman dan pembelajaran yang diberikan secata sistematis kepada siswa agar sesuai tujuan pendidikan Islam. Dimana berfungsi sebagai pengembangan, perbaikan penyaluran, penyesuaian, pencegahan dan sumber nilai. Dengan tujuan terbentuknya karakter anak bangsa yang beriman dan martabat serta dapat diimplementasikan dalam bermasyarakat dan bernegara.

Dilnsir dari web digilibadmin.unismuh ada upaya agar dapat dilakukan peningkataan mutu pembelajaran PAI yaitu pertama, Meningkatkan kualitas belajar siswa untuk pembelajaran mata pelajaran PAI, kedua, Perolehan panduan atau literatur bergambar Pelajaran dalam Pelajaran PAI, ketiga, Metodologi pembelajaran bagi guru mata pelajaran pendidikan agama Islam.

Dilansir dari jurnal.markandeyabali meskipun implementasi kurikulum merdeka telah berjalan efektif dalam beberapa bulan terakhir, namun masih terdapat beberapa kendala seperti kurangnya pengalaman kemandirian belajar, referensi yang terbatas, akses belajar yang tidak merata dan manajemen waktu. Implementasi kurikulum mandiri tidak efektif karena beberapa alasan berikut. Pertama, tidak semua guru terlatih. Kedua, guru tidak memahami isi kurikulum sehingga tidak dapat menerapkannya dengan benar. Kelemahan terbesar guru dalam belajar adalah kurangnya pemahaman pendekatan mata pelajaran saintifik tanpa pengujian kognitif dan evaluasi hasil belajar siswa. Ketiga, dukungan sekolah masih rendah karena banyak anak sekolah yang belum dididik dengan kurikulum ini. Alasan utama rendahnya dukungan sekolah adalah kurangnya pemahaman siswa sekolah, terutama kepala sekolah dan konselor, tentang kurikulum baru. Keempat, pemerintah provinsi mendukung anggaran pendidikan, anggaran pendampingan, anggaran pembelian buku dan pengiriman guru, kepala sekolah, dan pelatih ke kursus pelatihan yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan kabupaten dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tetapi hasilnya tidak tersedia secara optimal. Kelima, kurangnya perencanaan dalam pelaksanaan kurikulum mandiri menjadi faktor penghambat. Kelemahan lain adalah kurangnya koordinasi antara tingkat pemerintah yang bertanggung jawab untuk melaksanakan kurikulum. Keenam, manajemen penyampaian kurikulum perlu diperbaiki, mulai dari penetapan target penyampaian, penganggaran, pengadaan fasilitas pelatihan, pelatihan, implementasi dan pendampingan, serta evaluasi keberhasilan dan kegagalan. Di era desentralisasi, implementasi kurikulum juga harus didesentralisasikan. Yang terpenting adalah koordinasi yang baik antar berbagai tingkatan pemerintahan, baik dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten maupun kota. 

Saran perbaikan dalam pelaksanaan kurikulum merdeka kelemahan yang disebutkan di atas adalah sebagai berikut. Perencanaan yang matang harus dilakukan terlebih dahulu, dimulai dengan penetapan tujuan, penganggaran, pengadaan fasilitas, pelatihan, implementasi dan dukungan, serta evaluasi. Kedua, meningkatkan koordinasi antara dinas pendidikan kabupaten atau kota, dinas pendidikan provinsi, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menyelenggarakan pelatihan guru, kepala sekolah, dan direktur. Ini termasuk mengoordinasikan pengadaan buku dan mengirimkannya ke sekolah-sekolah untuk menghindari keterlambatan.