Pasang Iklanmu Di Sini!


Pati, Hariantemanggung.com - Bertempat di halaman SMPQT As Salafiyah di desa Bageng Gembong Pati KH. Mustamir Al Hafidh memberikan tausiyah kepada Para tamu undangan dan masyarakat setempat, Senin 12 April, beberapa waktu lalu.

KH Mustamir al Hafidh adalah santri 8KH.Arwani Amin Kudus selama 14 tahun jadi perihal ke ilmuan tak dapat diragukan lagi. 

"Bahwa SMP Qur an terpadu merupakan obat bagi manusia yang hidup pada masa millenial sekarang ini, dalam surat an-Nahl 66-69 bahwa umat muslim seharusnya membuat madu yang bisa menjadi obat dan disenangi oleh siapapun" jelasnya

Lanjut KH Mustamir inti dari  filosofi ini adalah manusia diharapkan bisa mengambil tindakan baik, tawadhu, bermanfaat, sebagaimana lebah.Lebah menjaga hubungan dengan hal-hal yang baik secara lahir dan batin, lebah tidak pernah menempel pada kotoran binatang, dia hanya mengunjungi bunga-bunga yang mekar dan wangi wangi. 

Semua yang berasal dari perut binatang adalah kotor dan menjijikkan, lebah malah menghasilkan madu yg semua orang suka dan membutuhkannya, lebah berani membela dirinya jika diganggu. Tambahnya lebah tetap ikhlas menjalankan tugas dan aktifitasnya dan tidak sombong pada sesuatu yang telah dihasilkan. Sifat tawadhu' inilah yang di dapat dari amaliya KH.Arwani Amin Kudus, yang menganggap semua orang baik, guru thariqoh yang menyampaikan salam di akui sebagai gurunya. Sifat-sifat seperti inilah yang bisa menjadi obat bagi semuanya dan siapa saja. 

Maka dengan diresmikannya SMPQT As-Salafiyah, sebagai pengembangan madrasah diniyah yang berdiri tahun 1984, diberi oleh  KH. Turaichan Adjhuri Kudus.

"SMPQT As Salafiyah mudah mudahan menjadi solusi bagi peserta didik diera seperti sekarang ini. Kurikulumnya mengedepankan menghafal dan mendalami al Quran, serta ditunjang pengetahuan umum akan menjadi bekal kelak bagi santri ketika sudah berbaur dengan masyarakat luas" pungkasnya

Sementara itu, dalam peresmian  tersebut smpqt hadir pula Ketua PAC Pergunu Kec Gembong Ro'fat Hilmi, SHI, MSI, 

Ro'fat Hilmi mengemukakan  kehadirannya  selain silaturrahim dengan guru guru SMPQT, juga ingin sama-sama bersinergi dalam mencerdaskan bangsa dan melanjutkan pendidikan berbasis pesantren yang dirinstis para ulama terdahulu.

Tabloid Bintang

Oleh Septa Eka Permatasari

Mahasiswi Prodi PIAUD STAINU Temanggung 

Pendidikan agama Islam merupakan proses untuk mempelajari agama Islam secara detail dan membentuk karakter generasi milenial menjadi sesuai dengan ajaran Islam. Munculnya teknologi yang semakin canggih dapat mempengaruhi karakter mereka karena tidak pernah dibekali dengan ilmu agama. Oleh karena itu pendidikan agama Islam sangat dibutuhkan guna membentuk karakter (ahklak karimah).

Generasi milenial merupakan generasi yang lahir pada awal 2000. Anak muda sekarang banyak yang didominasi oleh generasi milenial. Oleh karena itu pendidikan agama Islam sangat penting di pelajari agar generasi milineal memiliki karakter yang baik. Ilmu pengetahuan umum juga penting namun lebih baik di seimbangkan dengan karakter yang baik.

Perbedaan pendidikan dan pengajaran terletak pada penekanan pendidikan terhadap pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik. Dengan proses pembelajaran yang baik bangsa atau negara dapat mewariskan nilai -- nilai keagamaan, kebudayaan, pemikiran dan keahlian kepada generasi muda (milenial) , sehingga mereka dapat memiliki karakter yang baik. Pendidikan agama Islam seharusnya diajarkan pertama kali oleh orang tua, pendikan agama Islam diajarkan pelan-pelan melalui hal kecil. Misalnya, mengajarkan anak dengan berbicara santun, mengajarkan doa-doa dan membiasakannya. Sehingga anaknya dapat menjadikan kebiasaan.

Generasi milenial harus memelajari pendidikan agama Islam supaya selaras dengan pendidikan umum. Pendidikan Islam menyiapkan peranan generasi milenial dalam meneruskan tugas di dunia dan kelak dapat memetik pahalanya di akhirat. Pendidikan agama Islam merupakan bimbingan untuk membentuk kepribadian dan karakteristik yang baik. Agar generasi milenial dapat menggunakan fasilitas modern sesuai dengan ajaran agama.

Pendidikan Islam ditujukan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan dari pribadi, manusia secara menyeluruh melalui latihan -- latihan kejiwaan, akal pikiran, kecerdasan, perasaan, dan pancaindra. Oleh karena itu, pendidikan Islami harus mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia, baik spritual, intelektual, imajinasi (fantasi), jasmaniah, keilmiahannya, bahasanya, baik secara individual aupun kelompok serta mendorong aspek-aspek itu kearah kebaikan dan pencapaian kesempurnaan hidup.

Pendidikan Islam merupakan salah satu aspek saja dari ajaran Islam secara keseluruhan. Karena, tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dan Islam, yaitu menciptakan pribadi hamba Allah yang selalu bertaqwa kepada-Nya dan dapat mencapai kebahagiaan kehidupan bahagia dunia dan akhirat. Dalam konteks sosial masyarakat, bangsa, dan negara pribadi bertakwa ini dapat menjadi rahmatan lil-alamin, baik dalam skala kecil maupun besar tujuan hidup manusia dalam Islam inilah yang dapat disebut juga sebagai tujuan akhir pendidikan Islam. Selain tujuan umum itu, terdapat pula tujuan khusus yang lebih spesifik menjelaskan apa yang ingin dicapai melalui pendidikan Islam.

Banyak generasi milenial pada zaman sekarang yang kurang mau memplajari ilmu agama Islam. Sebenarnyanya hal ini terjadi karena banyak faktor yang mempengaruhi dari keluarga, lingkungan, teman, dan pergaulan yang salah. Keluarga sebagai sebuah institusi mini yang dapat memberikan pemenuhan kebutuhan anak sebagai makhluk biopsiko-sosio-spritual dengan pengembangan kepribadiannya. Dengan kepedulian keluargalah juga kebutuhan akualisasi diri anak, yang merupakan puncak dari tahap pengembangan diri dari anak, sebelum anak bersikap dengan hal yang tidak diinginkan. Mendidik anak memerlukan materi kesabaran dan ilmu.

Membangun jembatan dan mendidik anak adalah proses yang sama-sama mempersiapkan sebuah jalan menuju masa depan. Orang tua pasti menyadari bahwa mereka tidak dapat mengendalikan setiap waktu dalam peristiwa yang dilakukan oleh anaknya. Oleh karena itu, yang bisa mereka lakukan adalah mempunyai keahlian dan kemampuan menghadapi setiap peristiwa tersebut dengan menanamkan karakter yang baik kepada anak generasi milenial.

Hampir 70% orang tua kurang mempedulikan anaknya salah pendidikan agama, ada yang peduli dan mencoba disekolahkan ke lembaga pendidikan agama Islam namun, orang tua sendiri tidak memberikan contoh dari penerapan yang diajarkan agama. Apabila orang tua ikut serta memberikan contoh dan menerapkan maka anak akan mengikuti apa yang dilakukan orang tua dan mnjadi kebiasaan.

 

Generasi milenial sangat memiliki potensi yang banyak dan menguntungkan bagi kemajuan bangsa dan Negara. Dengan catatan memiliki potensi yang disertai pendidikan agama Islam supaya seimbang. Ada beberapa fenomena yang menunjukkan kemajuan yang signifikan dan diminati masyarakat dengan gejala-gejala kemajuan terjadi pada beberapa lembaga pendidkan Islam sebagai bagian dari proses santrinisasi atau kebangkitan Islam. Minat masyarakat muslim terhadap lembaga pendidikan Islam belakagan ini sudah berkurang, terutama masyarakat yang hidup diperkotaan. Mereka tidak serta merta memasukkan putra-putrinya kemadrasah atau sekolah Islam hanya kesamaan identitas keIslaman. Akan tetapi, mereka melakukan seleksi. Jika ternyata pendidikan Islam tersebut maju, mereka tertari untuk menjadikannya pilihan. Lembaga pendidikan Islam, seperti juga pendidikan lainnya akan menghadapi gejala-gejala.

Seorang yang pada waktu kecilnya tidak pernah mendapatkan pendidikan agama, maka pada masa dewasanya nanti tidak akan merasakan pentingnya agama dalam kehidupannya atau bahkan mungkin kurang perduli terhadap agama. Lain halnya dengan seorang yang sejak kecil sudah banyak mendapatkan pendidikan agama atau telah ada pengaruh lingkungan untuk mengembangkan potensi keagamaannya, maka setelah siswa atau dewasa mempunyai kecenderungan kepada hidup yang selalu dilandasi oleh nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya.[2 masa depan pendidikan Islam dipengaruhi tiga isu besar: 

Globalisasi

Demokratisasi

liberalisasi Islam

Globalisasi juga mempengaruhi sistem pendidikan. Penetrasi budaya global terhadap kehidupan masyarakat Indonesia akan direspon secara berbeda oleh kalangan pendidikan: permisif, defensif, dan transformatif. Tuntutan demokratisasi pada akhirnya juga mengarah pada sistem pengolaan pendidikan; tuntutan pengolaan pendidikan yang lebih otonom dan beragam., tuntutan partisipasinya masyarakat khususnya dalam pengawasan mutu pendidikan yang transparan dan bertanggung jawab, dan tuntutan untuk mengimplemantasikan pradigma pendidikan yang menekankan peran aktif siswa.

Lembaga pendidkan Islam harus memiliki orientasi yang jelas ibarat kendaraan, orientasi seperti trayek, yaitu jalur yang harus dilalui untuk mencapai tujuan. Dengan pengertian lain, orientasi itu layaknya sasaran yang mengantarkan pada tujuan, oleh karena itu orientasi dapat membuat gerak pendidikan lebih terarah, teratur, dan terencana. Untuk merumuskan orientasi tersebut perlu mempertimbangkan fenomena-fenomena yang terjadi dimasyarakat terkait dengan pendidikan anak.

Selain dari pengawasan keluarga dan lembaga , generasi milineal harus diperhatikan saat bergaul dan berbaur dilingkungannya, karena lingkungan adalah sebagai tempat interaksinya manusia dengan makhluk hidup lainnnya. Jadi, otomatis jika kita tak menanamkan pendidikan Islam sejak dini maka anak-anak generasi milineal tidak akan  besikap baik seperti orang yang tak bermoral, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang memiliki rasa tanggung jawab dan sikap bermoral. Secara potensial memang setiap individu (anak) dilahirkan membawa fitrah agama, namun potensi yang dimiliki tersebut tanpa adanya dukungan atau pengaruh dari luar atau lingkungan dimana ia tinggal, keluarga, sekolah dan masyarakat, maka jauh kemungkinannya bisa berkembang sebagaimana semestinya.

Perkembangan agama pada generasi milineal, terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak lahir, dalam keluarga, di sekolah dan di masyarakat. Semakin banyak pengalaman bersifat agama, tindakan, kelakuan dan cara menghadapi hidup akan sesuai dengan ajaran agama. Pendidikan agama Islam dilakukan agar generasi milineal tidak terjerumus ke hal negativ yang tidak diinginkan dan dapan memiliki etika, karakteristik yang baik sesuai dengan ajaran agama dan Negara.

 

 

 

 

 


Oleh : Rizki Dwi Septiani

Mahasiswi Prodi PAI STAINU Temanggung

Mengisi waktu untuk diri sendiri alias me-time bukan hanya bisa dilakukan dengan menonton serial drama atau tidur sepanjang hari. Kita sebaiknya juga menggunakan waktu luang tersebut untuk melakukan introspeksi diri. Introspeksi diri adalah tindakan melihat ke dalam pikiran maupun perasaan Kita sendiri. Ketika melakukan introspeksi diri, Kita akan banyak melihat ke belakang mengenai hal-hal yang sudah Kita lakukan, baik itu positif maupun negatif.Bukan, tujuan introspeksi diri bukanlah mengungkit masa lalu dan tenggelam di dalamnya. Sebaliknya, hal ini dilakukan dengan tujuan mengevaluasi perilaku kita sehingga kita dapat berdamai dengan diri sendiri maupun memperbaiki hubungan dengan orang lain.

Introspeksi diri adalah cara utama untuk menilai kekurangan dan kelebihan diri kita sendiri yang akan dilihat oleh orang lain. Oleh karena itu, kita harus melakukannya secara sadar dan jujur agar mendapatkan manfaat dari introspeksi diri, seperti mengurangi kecemasan karena kita akan dapat berpikir dengan lebih efisien, menaikkan level kepercayaan diri karena kita dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan diri sendiri, membuat kita lebih mampu berempati terhadap orang lain, memunculkan ide-ide baru, termasuk dalam mengembangkan bakat yang ada dalam diri kita.

Introspeksi diri seharusnya melahirkan pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Sayangnya, ada pula orang yang justru jatuh ke lubang yang salah ketika selesai mengevaluasi dirinya sendiri.Para psikolog membagi introspeksi diri ke dalam dua tipe, yaitu: refleksi diri dan ruminasi diri. Refleksi adalah bentuk introspeksi diri yang positif. Dengan melakukan refleksi diri, orang tersebut akan menghargai setiap pemikiran maupun tindakan yang telah dilakukannya.Tak hanya itu, refleksi juga akan membuat seseorang dapat menerima dan belajar dari kesalahan yang mereka perbuat. Pada akhirnya, refleksi diri akan melahirkan pribadi yang lebih baik dan lebih sadar akan kemampuan dan ketidakmampuan dirinya sendiri.

Ruminasi adalah bentuk introspeksi diri negatif dan berkebalikan dengan refleksi diri. Ketika melakukan ruminasi, seseorang cenderung melebih-lebihkan kegagalan yang dialaminya sehingga ia meragukan diri sendiri dan menilai dirinya lebih rendah dari orang lain.Ruminasi inilah yang harus dihindari dalam introspeksi diri. Jika kita merasa terjebak pada ruminasi diri, ada beberapa tips yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dampak negatifnya, yaitu:

Menyibukkan diri pada kegiatan yang melahirkan pikiran positif, misalnya berolahraga, bersosialisasi dengan orang yang positif, maupun belajar meditasi.

Fokus pada memecahkan masalah daripada sibuk menyalahkan diri sendiri. Misalnya saat Kita melakukan kesalahan di tempat kerja, coba berdiskusi dengan teman atau atasan untuk mencari solusi agar hal yang sama tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Tips melakukan introspeksi diri yang benar

kita tentu tidak ingin fokus pada refleksi ketimbang ruminasi saat melakukan introspeksi diri, bukan? Nah, untuk itu, ada tips dari psikolog tentang cara melakukan introspeksi yang benar, yaitu:

Berdamailah dengan diri sendiri

Jangan terlalu sering menyalahkan diri sendiri atas kesalahan apa pun yang Kita pernah lakukan di masa lalu. Apabila Kita tidak 100 persen jujur dengan diri sendiri terkait hal yang tengah terjadi, atau cara Kita berperilaku selama ini, proses membantu diri sendiri pun akan menjadi sulit dilakukan.Terkadang, kebiasaan buruk memang sulit untuk disingkirkan. Kita tak harus melakukan perubahan dalam sekejap. Jika ada resolusi dan tujuan tak tercapai, Kita tak perlu menyalahkan diri sendiri. Maafkanlah diri sendiri walau terkadang membuat kesalahan.

Bedakan sifat dengan perilaku

Jika Kita merasa memiliki sifat dermawan, lalu tidak memberi bantuan pada orang lain sesekali, hal itu tidak akan mengubah sifat Kita. Memprioritaskan diri Kita bukanlah hal yang salah selagi Kita tidak melakukan hal yang negatif.

Menghargai proses

Misalnya ketika Kita sudah tidak merokok selama 10 tahun, kemudian kembali merokok hari ini, jangan melihat diri Kita sebagai orang yang gagal karena Kita pernah berhasil menahan diri selama 10 tahun dan bisa melakukannya lagi di kemudian hari.

Jangan melebih-lebihkan kesalahan diri sendiri

Sesekali melakukan kesalahan adalah hal yang manusiawi, jadi janganlah melebih-lebihkan kesalahan yang dibuat tersebut. Sebab, pada akhirnya, kita semua adalah manusia. Dan sangat manusiawi jika kita melakukan kesalahan.

Membuat pola kebiasaan baru

Sebagai manusia, tentu kita sering menjalankan banyak kebiasaan. Beberapa kebiasaan tersebut bermanfaat, namun sebagian lagi bisa saja merugikan diri sendiri dan orang lain.Dalam melakukan proses introspeksi dan refleksi diri, Kita perlu mengenali dan mengelompokkan kebiasaan yang sering dilakukan. Dengan mempelajari kebiasaan-kebiasaan tersebu. Kita bisa menghilangkan kebiasaan yang tak bermanfaat, sekaligus menambah kebiasaan sehat dan positif.

Saat melakukan introspeksi diri, cobalah sejajarkan antara impian dengan usaha yang Kita lakukan alias realistis. Jangan menggantungkan cita-cita setinggi langit bila Kita memang tidak bisa mencurahkan usaha secara maksimal agar ekspektasi diri juga tidak terlalu tinggi.Introspeksi dan refleksi diri menjadi bagian penting dalam memahami dan mempelajari fenomena hidup. Beberapa orang mungkin sulit melakukannya di awal. Namun, dengan sedikit latihan, refleksi diri dapat menjadi senjata Kita untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Nah, mari kita saling introspeksi. Tak usah mencari kesalahan orang lain. Sudahkah memperbaiki akhlaknya masing-masing? Jika kita masih susah mengendalikan nafsu dan amarah, berarti kita masih punya pekerjaan persoalan yang harus diselesaikan. Jika kita masih belum membekali diri dengan ilmu pengetahuan, tingkat literasi rendah, mudah percaya dengan pernyataan orang lain maka sejatinya kita juga harus ada persoalan personal yang harus diselesaikan. Karena orang yang minim ilmu pengetahuan, akan mudah sekali terprovokasi hoaks dan ujaran kebencian.

Dan jika kita masih belum bisa berlaku adil terhadap diri sendiri dan orang lain, maka harus selalu introspeksi untuk memperbaiki. Karena pada dasarnya kita adalah pribadi yang kurang berakhlak. Kita harus terus belajar untuk memperbaiki akhlak kita untuk menjadi lebih baik. Dan untuk bisa belajar akhlak, maka tidak bisa secara teori tapi juga harus diimplementasikan dalam kehidupan nyata.

Jika kita lihat sekeliling, memang masih banyak orang-orang, tokoh masyarakat, tokoh politik, tokoh agama yang banyak mengumbar nafsu dan amarahnya di depan publik. Banyak para pemimpin yang tidak membekali dengan ilmu pengetahuan dan belum bisa berlaku adil kepada masyarakat. Namun tidak sedikit dari mereka berbicara tentang akhlak dan lain sebagainya. Tak heran jika banyak tokoh yang berbicara anti korupsi padahal dialah koruptor itu sendiri. Banyak orang yang mengkafirkan orang lain, padahal bisa jadi dialah yang kafir. Mari saling menahan diri dan terus memperbaiki akhlak dalam diri.

 


Oleh : Desi Putri Cahyani

PIAUD STAINU Temanggung 

Pondok pesantren merupakan dua istilah yang mengandung satu arti. Orang Jawa menyebutnya “pondok” atau “pesantren”. Sering pula menyebut sebagai pondok pesantren. Istilah pondok barangkali berasal dari pengertian asrama-asrama para santri yang disebut pondok atau tempat tinggal yang terbuat dari bambu atau barangkali berasal dari bahasa Arab “funduq” artinya asrama besar yang disediakan untuk persinggahan. Sekarang lebih dikenal dengan nama pondok pesantren. yakni asrama tempat santri, tempat murid atau santri mengaji.

Dapat disimpulkan bahwa pengertian pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan dan keagamaan yang berusaha melestarikan, mengajarkan dan menyebarkan ajaran Islam serta melatih para santri untuk siap dan mampu mandiri. Atau dapat diambil pengertian dasarnya sebagai suatu tempat dimana para santri belajar pada seorang kyai untuk memperdalam atau memperoleh ilmu-ilmu agama yang diharapkan nantinya menjadi bekal bagi santri dalam menghadapi kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Pada umumnya, unsur-unsur pondok pesantren terdiri dari Kiai, Santri, Masjid, Kitab kuning ,Al-qur’an dan asrama.Jika pondok pesantren tidak memiliki salah satu dari yang disebutkan diatas, maka tidak dapat dikatakan sebagai pondok pesantren.

Secara garis besar, pesantren dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar, yaitu : Pertama, pesantren Salafi yakni pesantren yang masih mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren. Adapun sistem madrasah diterapkan untuk memudahkan sistem sorogan yang dipakai dalam Lembaga - lembaga pengajian bentuk lama, tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum. Kedua, pesantren khalafi yakni pesantren yang telah memasukkan pelajaran-pelajaran umum dalam madrasah-madrasah yang dikembangkannya, atau pesantren tersebut, sebagaimana dipahami warga pesantren selama ini .

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan pesantren adalah dalam rangka membina kepribadian Islami, yaitu kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Allah Subānahu Wa Taālâ, berakhlak mulia, bermanfaat dan berkhidmat kepada masyarakat dengan menjadi pelayan umat (khadim al-ummaħ) sebagaimana kepribadian Rasulullah allâ Allah ‘Alaihi Wa Sallam dalam menyebarkan agama Islam.

Dalam perspektif masyarakat Indonesia pondok pesantren diartikan sebagai tempat berlangsungya suatu pendidikan Agama Islam yang telah melembaga sejak zaman dahulu. Jadi, pada hakikatnya pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang memberikan pengajaran, pendidikan, pembinaan dan menyebarkan agama Islam. Metode utama sistem pengajarannya adalah sistem bandongan atau weton dan sorogan.

Sejarah pendidikan islam di Indonesia berlangsung sejak awal masuk dan berkembangnya agama islam. Dengan kata lain, sejarah pendidikan islam sama tuanya masuknya agama islam ke Indonesia, sehingga memiliki sejarah pertumbuhannya dan perkembangannya yang panjang. Hal ini disebabkan karena pendidikan islam selalu mendapat perhatian utama masyarakat muslim Indonesia. Di samping karena besarnya minat setiap muslim untuk mempelajari dan mengetahui lebih dalam tentang ajaran-ajaran islam sekalipun masih dalam keadaan yang sangat sederhana. Sejalan dengan perkembangan umat islam, sejarah pendidikan islampun mengalami perkembangan pula.

Tidak diketahui secara pasti, bagaimana pelaksanaan pendidikan islam pada masa permulaan di Indonesia. Yang pasti, bagaimana pelaksanaan pendidikan Islam pada masa itu berlangsung dalam bentuk yang sangat sederhana, dimana pengajaran dibrikan dalam satu majelis dengan system halaqah (murid berkumpul melingkari gurunya untuk belajar) yang dilakukan di tempat-tempat ibadah, seperti masjid, langgar/surau, dan rumah-rumah ulama’/kiai.

Beberapa Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia menyebutkan bahwa di Jawa umat Islam mengambil alih bentuk pendidikan keagamaan Hindu-Budha menjadi pesantren. Meskipun lembaga pendidikan Islam di Jawa pada masa permulaan belum diberi nama pesantren, namun disepakati bahwa lembaga pendidikan tradisional yang berkembang ketika itu merupakan cikal bakal sistem pendidikan pesantren. Sebagai lembaga Pendidikan Islam tertua dan asli Indonesia, pesantren telah didirikan sejak masa wali Songo. Tokoh pendiri pesantren adalah Maulana Malik Ibrahim.

Dalam perkembanganya, kehadiran sebuah pesantren selalu di tandai dengan kehadiran seorang ulama yang bercita-cita menyebarkan agama Islam. Pada umumnya mereka adalah lulusan pesantren yang memiliki kemampuan pemahaman pengetahuan agama Islam. Semula mereka mendirikan langgar/suarau yang dipergunakan tempat shalat berjamaah. Pada setiap menjelang atau selesai mengerjakan shalat, sang ulama mengadakan pengajian sekedarnya. Isi pengajian biasanya seputar pada masalah rukun iman (akidah), rukun Islam (ibadah), dan akhlak. Karena gaya penampilannya yang simpatik, keikhlasan dalam memberi pelajaran dan perilaku sehari-hari yang sesuai dengan isi pengajiannya, santrinyapun semakin berkembang. Bukan saja orang dalam satu desanya yang mengikuti pengajiannya, tetapi orang-orang dari desa lain dan sekitarnya pun tertarik untuk mengikuti pengajian dan dakwahnya.

Demikianlah pesantren tumbuh dan berkembang di Indonesia sejak awal pertumbuhan dan perkembangan agama Islam. Tujuan pesantren adalah lembaga tempat bibit kader-kader ulama dan muballigh dididik. Dengan demikian diketahui bahwa pesantren merupakan benteng pertahanan dan pengawal terdepan bagi keberlangsungan dakwah Islamiyah di Indonesia.