PMB STAINU Temanggung 2018-2019

Hariantemanggung.com - Relawan Jaringan Nasional Garda Depan (JAGAD) telah mendeklarasikan secara Nasional dukunganya kepada Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo untuk maju dalam Pilpres 2019, dukungan yang di gelorakan dari kota solo semata mata untuk memberikan pemahaman bahwasanya di Negara kita masih ada putra terbaik bangsa indonesia yang layak untuk memimpin NKRI.

Agus Yusuf, Ketua Presidium Nasional JAGAD dalam keterangan pers menjelaskan "Dalam analisa dan investigasi yang sudah kami lakukan di seluruh penjuru negeri ini, rakyat menginginkan pemimpin baru 2019, hampir semua lapisan masyarakat menginginkan ada wajah baru dalam Pilpres 2019 nantinya, banyak putra terbaik bangsa indonesia, salah satunya yang kami dukung bersama adalah Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo" Jelas Agus Yusuf via komunikasi elektronik kepada Hariantemanggung.com, Jumat (20/4/2018).

Perlu diketahui, Relawan JAGAD sudah mendeklarasikan dukungan kepada Gatot Nurmantyo sebagai Capres 2019 pada tanggal 15 april yang lalu di Alana Hotel Solo. Bersama ratusan relawan dari berbagai penjuru provinsi sekaligus menggelar Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS) pertama dengan dihadiri pengurus relawan dari 28 propinsi se indonesia.

Agus Yusuf juga menambahkan "Dukungan dari berbagai lapisan masyarakat untuk pak Gatot sudah menggema di seluruh indonesia, maka dari itu dalam penilaian kami dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa Kun Fa Yakun dan kami Haqul yakin hanya pak gatot yang mampu mengimbangi Jokowi di Pilpres 2019" tandasnya. 

Agus Yusuf juga menambahkan, Dukungan yang kami berikan berdasarkan alisa, pengamatan, telaah, tinjauan dan penilaian rekam jejak secara khusus dan menyimpulkan bahwa bapak Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo sangat layak untuk menimpin Bangsa Indonesia dan menjadi Presiden Republik Indonesia. 

"kami berharap besar kepada seluruh elit partai yang terhormat, silahkan terjunkan tim dan dengarkan suara rakyat juga jeritan rakyat Indonesia yang menginginkan perubahan" pungkasnya. (htm55/hms).

Judul Buku       : Menyandi Sepi
Penerbit            : Tonggak Pustaka
Tebal                : xii + 124 hlm.
Terbit               : 2017
Peresensi          : Asrul Sanie

Kesepian terasa setelah kehilangan sesuatu yang biasa dekat. Rasa itu datang kemudian melekat di dinding pikir orang-orang yang kehilangan. Mereka hanya bisa mencari-cari yang hilang itu dengan alat penyimpan kenang. Mereka tak bisa menemukannya dalam nyata. Semua sirna dan sepi terus melingkupi.

“Menyandi Sepi” karya 23 penyair memuat sandi-sandi sepi yang melingkupi perasaan orang-orang yang sedang menuju rasa sepi dan mengalami sepi. Mereka bercerita lewat tanda-tanda dan /atau perantara siapa saja dan apa saja yang bisa menjadi perantara.

Kesepian datang dari berbagai sebab, misal karena ditinggal kekasih yang sangat dicintai, rindu yang tak kunjung terobati, penantian yang amat panjang, kenangan indah yang begitu menyakitkan, patah hati karena dikhianati, harapan-harapan palsu, rasa takut dalam kesendirian, ketidakcocokan, perpisahan, dusta, dan sebagainya. Dari sebab-sebab tersebut, maka tak heran bila air mata terpaksa mengucur deras, pikiran melayang, lebih banyak melamun, bahkan perasaan sesal yang mendalam.

Akibat dari kesepian, rindu-rindu bermekaran. Tidak hanya rindu pada kekasih, tapi juga kepada banyak hal: rindu kepada tuhan, teman, orang tua, anak, tempat kelahiran, bahkan kepada keadilan. Secangkir kopi adalah teman setia menjaga rindu yang kian akut. Entah mengapa, sekuntum doa yang terkirimkan belum juga mendapat jawaban. Bila yang dinanti semua telah pergi, maka barangkali rindu tak akan pernah terobati.

Dalam “Menyandi Sepi”, setidaknya ada dua hal penting dalam menyikapi persoalan sepi dan rindu. Bila berasal dari rasa bahagia dan bangga, ia akan selalu disimpan di hati dan dijaga dengan baik, bagaimanapun sakitnya terasa. Akan tetapi bila berasal dari sesal dan patah hati, tanpa basa-basi ia akan dipangkas tuntas, dibuang jauh-jauh, tak akan diingat-ingat lagi.

Demikian buku ini menyajikan sandi-sandi tentang kerinduan dan kesepian. Akan tetapi tak hanya itu saja, ada juga tema lain yang dihadirkan dalam buku ini, misalnya tema tentang persoalan sosial, semangat, petani, juga kepahlawanan.

Kehadiran buku ini menjadi penyemangat tersendiri, khususnya bagi para penyair yang menjadi kontributor di dalamnya. Para kontributor berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selain bermanfaat untuk mempererat silaturahmi, mereka juga bisa saling berbagi dan mengenal karya satu sama lain. (htm).
Madureso, Hariantemanggung.com - Rangkaian Dies Natalis STAINU Temanggung ke 48 ini sangat meriah. Lomba tonnis yang dihelat pada Kamis (19/4/2018), menjadi lomba yang mengawali kegiatan Dies Natalis STAINU Temanggung yang pertama kali yangd iikuti antarcivitas akademika STAINU Temanggung.

Baca: Dari Tonnis Sampai Duta, Dies Natalis STAINU Temanggung ke 48 Tampil Beda

BEM STANU Temanggung yang menjadi panitia dalam rangkaian acara Dies Natalis STAINU Temanggung itu, melangsungkan kegiatan yang pertama yaitu perlombaan tonnis.

Ana Sofiyatul Azizah Pembantu Ketua STAINU Temanggugn, dalam kesempatan itu membuka acara tersebut dan berharap agar pertandingan berjalan dengan fair dan sportif.

Sementara itu, Wakil Presiden BEM STAINU Temanggung, Ulfi, menjelaskan bahwa lomba tonnis diadakan selain menjadi salah satu rangkaian acara Harlah STAINU Temanggung ke 48, tonnis merupakan olahraga yang belum mashur khusunya kalangan temanggung sendiri. "Karena meruapakan olahraga yang notabene baru diusung oleh dosen UNNES dan diharap bisa menjadi ikon olahraga yang diangkat di Temanggung sendiri," beber dia, Jumat (20/4/2018).

Sementara M. Fadholi AH perintis olahraga tersebut menjelaskan bahwa olahraga ini bukan termasuk kategori lomba yang sulit seperti sepakbola atau basket. "Olahraga ini bisa dilakukan oleh kalangan civitas akademika STAINU yang masih awam akan tonnis itu sendiri jadi akan tetap berjalan ramai," beber dosen Prodi PGMI STAINU Temanggung itu.

Selain tonnis, ada sejumlah rangkaian Dies Natalis STAINU Temanggung. Panitia berharap agar kegiatan tahunan ini menjadi wahana memajukan kampus. (htm55/Robin).

Baca: Buruan Daftar, Panitia Dies Natalis ke 48 Cari Duta STAINU 2018 Lo!
Semarang, Hariantemanggung.com  - Dalam rangka ulang tahun (Dies Natalis) ke UIN Walisongo  Semarang ke 48, BEM dan Ketua STAINU Temanggung turut menghadiri  Ngaji Kebangsaan bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Jumat (20/4/2018) di kampus tersebut.

Baca: Buruan Daftar, Panitia Dies Natalis ke 48 Cari Duta STAINU 2018 Lo!

UIN Walisongo menyelenggarakan acara bersama Kementerian Agama yang dihadiri ratusan orang dari berbagai kalangan. Mahasiswa STAINU yang diwakili BEM  turut mensukseskan acara Ngaji Kebangsaan bersama Menteri Agama dengan tema "Mengasah Jatidiri Indonesia" yang diawali dengan bacaan ayat suci Alqur an beserta lagu kebangsaan Indonesia Raya serta Mars Syubbanul Wathan dan serangkaian acara lainnya.

Menag menyampaikan sebagai bangsa Indonesia harus bangga karena negeri ini memiliki keistimewaan yang melimpah. "Kita sebagai bangsa Indonesia harus bangga karena berbagai keistimewaan yang dimiliki oleh negara Indonesia, berbagai suku yang beragam, berbagai kekayaan flora dan fauna dengan keberagaman tersebut kita patut bangga kepada negara ini," kata dia.

Pihaknya menambahkan, berbagai keragaman yang ada di Indonesia ini tidak menghalangi bagi bangsa Indonesia untuk hidup tentram dan damai yang dilandasi dengan ideologi pancasila dan UUD 1945.

"Ideologi bangsa, UUD 1945, dan semua bidang kenegaraan tidak terlepas dari unsur religiusitas dan agama, karena Indonesia mengatur bidang keagamaan, walaupun mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim tetapi Indonesia bukan negara Islam, dan Indonesia juga bukan negara sekuler bersyukurlah kita dapat menjalankan Ibadah dengan tenang walaupun saat ini ada hal-hal yang mengatasnamakan agama," tambahnya.

Sebagai penutup, Lukman menyampaikan agama dan bangsa itu seperti uang logam yang mempunyai dua sisi yang berbeda tetapi keduannya tidak dapat dipisahkan, saat menjaga keutuhan negara secara tidak langsung juga menjalankan keagamaan begitulah sebaliknya.

Dalam kesempatan itu, Ketua STAINU Temanggung, Moh. Baehaqi beserta BEM STAINU Temanggung turut mendukung keragaman Indonesia. Tentunya, hal itu sudah sesuai dengan cita-cita NU yang selama ini komitmen menjaga NKRI. (htm78/Sri Astuti).