Pasang Iklanmu Di Sini!


Temanggung, Hariantemanggung.com - Dalam rangka menyongsong Hari Santri Nasional (HSN), Desa Kemiriombo, Kecamatan Gemawang, Temanggung, mengadakan Upacara Bendera dengan Khidmad, pada 20 Oktober 2019.

Upacara dilaksanakan di lapangan Desa Kemiriombo Kecamatan Gemawang.upacara tersebut  dihadiri oleh Pemerintah Desa Kemiriombo,  lembaga pendidikan keagamaan, organisasi Masyarakat, Banser dan seluruh lapisan masyarakat Desa Kemiriombo.

“Seluruh masyarakat baik pemerintah maupun ulama harus selalu bersinergi dalam mewujudkan masyarakat yang damai dan agamis, Santri merupakan kekuatan bagi Negeri tercinta. Maka dari itu tetap dukung pergerakan santri di Negeri ini “ ujar Zaeni ( Ketua Badqo TPQ Kecamatan Gemawang ) dalam sambutanya sebagai pembina Upacara.

Upacara terlaksana dengan khidmad, setelah upacara selesai ada pembagian piala bagi santriwan dan santriwati yang berprestasi dalam lomba yang diadakan oleh Badqo TPQ  Desa Kemiriombo.

Kegiatan tersebut dimaksudkan agar masyarakat menyadari betapa pentingnya pendidikan agama untuk putra putrinya, pendidikan agama yang merupakan dasar pembentukan karakter dan pondasi untuk moral santri. (Htm44/ Jumilah).

Oleh Siti Mulyani

Banyak yang beranggapan bahwa pendindikan itu tidak penting. Manusia tidak berpendidikan pun masih bisa bertahan hidup. Itu jawaban dari anak – anak SMA yang tidak melanjutkan ke bangku kuliyah.

‘’Bukan ijazah SMA atau gelar sarjana yang menetukan kesuksesan seseorang, melainkan keterampilan dan pengalaman kita’’Kata mereka. Melihat sejarah manusia terdahulu , jauh sebelum teknologi berkembang manusia mampu bertahan hidup dengan kebodohan.

Sehinggah apakah manusia masih tetap membutuhkan pendidikan? Perbedaan pandangan seseorang sangat terlihat antara yang telah melanjutkan pendidikannya dengan orang yang kolot  atau orang yang beranggapan pendidikan itu tidak penting .Mereka beranggapan bahwa seorang wanita yang pendidikanya setinggi apapun ujung-ujungnya hanya mengasuh anak-anaknya dan mengurus rumah, mereka rasa pendidika untuk seorang wanita itu percmaf. Semua berpegang teguh pada pendidikannya masing-masing.

Pendidikan di Indonesia ini masih menjadi misteri bagi masyarakat di daerah terpecil. Minimnya pendidikan dan kurangnya sosialisasi terhadap masyarkat membuat masyarakat setempat acuh dan tidak peduli dengan pendidikan.Alhasil pendidikan mereka tidak dikejar dan hanya ber pasrah dengan alam.

Selembar kertas yang konon katanya ada penentu nasib, tak sempat terbesit didalam pikiran masyarakat di pedalaman Indonesia. Jangankan selembar kertas , untuk membuat jamban pembuangan tinja saja mereka belum kepikiran. Inilah Indonesia di pedalaman ( perbatasan Indonesia).

Statemen bahwa nenek moyang kita mampu bertahan hidup tanpa adanya pendidikan. Tentu dizamannya belum ada transportasi canggih seperti sekarang, belum ada mesin ketik seperti sekarang dan bahan kertas tulis yang kita gunakanpun belum juga ditemukan.

Di zaman nya belum ada semua tapi jika nenek moyang kita terus berada pada masa kebodohan, kenapa zaman sekarang  bisa secanggih ini? Karena pada masanya pendidikan dilakukan oleh nenek moyang. Kemauannya untuk berkembang,berfikir dan menciptakan sesuatu itu adalah pendidikan dimasanya.

Tapi jiaka dimasa sekarang generasi milenial tidak ingin maju bagaimana nasib bangsa ini. Jika kita lihat negara-negara maju diluar sana yang kemajuan tehnologinya sangat canggih, maka seharusnya kita malu dengan keadaan negara kita yang serba tertinggal.

Jika dilihat hasil bumi kita ini yang melimpah ruah,kita seharusnya bisa mengolahnya sendiri. Sehingga pemasukan negara akan lebih banyak dan akan memakmurkan rakyat. Maka dari itu mulailah kita mengembangkan SDM. SDM adalah masalah yang paling utama untuk kemajuan negara. Kalau kita lihat di daerah pedesaan yang jauh dari kota, masih banyak perempuan disana yang  sekolahnya hanya sampai SMA bahkan ada yang hanya sampai SMP.

Mereka masih menurut oleh orang tuanya untuk dinikahkan. Sehingga mereka belum tahu cara menghadapi bahtera rumah tangga alhasil ujung-ujungnya bercerai. Maka dari itu sebelum negara kita ini hancur untuk generasi muda haus bisa menempuh pendidikan yang setinggi-tingginya.

-Penulis adalah Mahasiswi PAI C STAINU Temanggung 

Oleh Siti Muyhayhanah

Saat ini, kaum hawa tidak bisa lepas dari jilbab, baik yang muslimah maupun nonmuslimah. Pemakaian jilbab wajib bagi muslimah yang sudah baligh dan dilakukan untuk menutupi aurat. Alasannya, jilbab untuk menutupi bagian kepala terkecuali wajah. Jilbab bukan sekadar menutup kepala saja, namun rambut pun kalau bisa jangan sampai kelihatan.

Dalam berjilbab harus bisa menyerasikan pakaiannya. Mengapa? Karena tidak mungkin berjilbab dengan berpakain pendek? Jika memang demikian, dilihat pun kurang layak dan kurang menarik. Lagi pula berjilbab dengan pakian yang panjang akan lebih sopan, baik dan enak dipandang.

Kini jilbab sudah menjadi budaya perempuan. Ini terjadi karena berbagai macam model jilbab, mulai yang panjang sampai pendek, dengan motif warnanya unik. Model jilbab membuat perempuan ingin memilikinya. Bahkan mereka merelakan mengeluarkan banyak uang untuk membelinya.

Berjilbab hukumnya wajib, sudah dijelaskan dalam firman Allah yang terdapat dalam Alquran surah Al-Ahzab ayat 59 yang intinya menyuruh anak istrinya untuk berjilbab. Tidak hanya itu anjuran memakai jilbab juga ada pada lagu dari Nasida Ria yang berjudul “Jilbab Putih”. Tidak hanya anjuran saja tetapi memiliki makna yang mendalam, dengan memakai jilbab, muslimah inner beauty dan pesona ketaqwaannya akan terlihat lebih memancar.

Pergeseran Tradisi Berjilbab
Dewasa ini pemakaian jilbab bukan hanya sekadar mematuhi  aturan agama, namun juga menjadi gaya mutakhir atau yang disebut tren. Di mana-mana ada hijabers. Padahal zaman dahulu orang yang memakai jilbab sering dikatakan “jadul” atau tidak modis.  Memang benar dari ucapan Cak Nun yang saya dengar, Indonesia ini akan menjadi “lautan jilbab”, yang di mana  jilbab menjadi identitas yang ditampilkan.

Bukan hanya itu, sekarang perkembangan fashion sangat mempengaruhi masyarakat untuk mencari popularitas, bahkan saat ini jilbab dimiliki hanya sebagai identitas saja. Misal, dilihat dari harga-harga jilbab yang ada di store, jilbab yang mahal dan bagus hanya bisa dibeli oleh orang kaya, jilbab yang standar gak bagus-bagus amat bisa dibeli oleh orang di kalangan biasa.

Banyaknya model-model jilbab yang bervariasi, perempuan menyalahi aturan seperti halnya berniat untuk mendapat simpati dari lawan jenisnya maupun orang yang ada di sekitarnya, karena yang ia inginkan supaya dipuji oleh orang lain. Demikian tujuan jilbab yang awalnya untuk menutup aurat malah diperliahatkan supaya mendapatkan pujian dari orang lain alias menyalahgunakan jilbab.

Tren jilbab yang kesannya biar modis, akan tetapi dadanya di perlihatkan merupakan perbuatan yang tidak baik untuk dibicarakan. Aurat yang semestinya harus ditutup malah terpampang nyata demi penampilan modisnya. Bukan hanya di situ, baju, celana panjang yang tipis dan ketat juga menjadi sorotan. Sehingga pakaian dalamnya sangat menerawang. Ini bukannya sangat mempermalukan?

Meluruskan Pergeseran
Di balik tren jilbab yang sangat populer dalam dunia, ada aja komentar-komentar miring yang menyertainya. Komentar inilah yang membuat sebagian muslimah terusik dari cibiran-cibiran tersebut. Mulai dari calon hijabers yang akan memulai dalam pemakaian jilbabnya sampai hijaber yang sudah dari zaman dahulu.

Memang ada beberapa muslimah yang mengenakan jilbabnya hanya birniatan untuk diperlihatkan. Tetapi tidak semua muslimah berniat seperti itu. Di sini bukan berarti semua wanita hijab memiliki sikap yang buruk. Manusiawi lah jika muslimah pernah melakukan kesalahan. Bagi mereka yang beranggapan kalau berjilbab adalah persoalan yang melenceng, hargailah! Memang pemikirannya baru sampai disitu.

Tidak usah mencibir kehidupan orang lain, koreksilah diri sendiri apakah pantas dianggap baik sehingga mengolok-olok orang lain yang akan belajar menjadi lebih baik. Buang jauh-jauh beranggapan yang negatif. Biarlah mereka berjilbab sesuai dengan kewajibannya. Soal dirinya baik maupun buruk itu urusannya dengan Tuhan mereka. Ingatlah! Wanita berjilbab belum tentu sholihah, tetapi wanita sholihah pasti berjibab.

Wahai kaum wanita muslim, sayangilah dirimu dengan aurat sempurnamu. Janganlah salah memilih dalam berjilbab. Karena kebanyakan golongan perempuan yang masuk ke neraka karena kurang telitinya dalam segala hal yang diperbuat. Hanya sekadar memperlihatkan auratnya demi mendapatkan kepuasan mengikuti zaman, tetapi malah menjadi kerugian kepada dirinya di akhirat nanti.

Jika masih ada yang ragu akan kebenarannya, lagi-lagi saya merujuk ke firman Allah yang bersumber dari Alquran. Karena Alquran merupakan petunjuk dari kehidupan. Seperti perintah menutup aurat yang disebutkan diatas, dan kesalahpahaman dalam berjilbab.  Bisa dilihat bahwa aurat dipandang sebagai sesuatu yang esensial, yang tidak boleh perempuan tampakan kepada sembarang orang, kecuali kepada mahramnya ataupun kepada golongan tertentu sebagaimana yang dijelaskan dalam Q.S An-Nur ayat 31.

Percaya Diri
Saat wanita memutuskan ingin berjilbab tentu saja banyak godaan-godaan dan bully-an dari lingkungan sekitar. Suuzon-suuzon yang dilontarkan untuk meremehkan, dari yang dibilang “sok suci paling juga dilepas lagi” dan lain sebagainya ucapan yang tidak mengenakkan hati. Berjilbab bukan berarti tidak memiliki dosa akan tetapi untuk menghentikan perbuatan dosa.

Bukan masalah bagi muslimah yang akan memulai berjilbab. Berjilbab tidak harus menunggu jadi orang baik. Tidak usah pedulikan cibiran orang untuk menjalankan kewajiban menutup auratmu. Yang penting sudah memiliki niatan memenuhi kewajiban untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka Allah lah yang akan membalaskannya.Yang terpenting jangan mudah terhasut oleh ocehan orang, istiqomahlah dalam hijabmu dan berupayalah akan menjadi lebih baik. Bukannya menjadi lebih baik membutuhkan proses dan perjuangan?

-Penulis adalah Aktivis dan Mahasiswi Temanggung



Oleh Fitria Nur Hidayati

Pergaulan anak muda di luar pada zaman sekarang sangat bebas, mulai dari pacaran, mabuk-mabukan, bonceng-boncengan, bahkan sampai melakukan hubungan intim di luar nikah, naudzubillah. Ketika anak sudah terjerumus dalam perzinaan sampai hamil di luar nikah maka pihak siapakah yang disalahkan? Pasti orang tua, karena pandangan orang ketika anak sudah masuk dalam dunia perzinaan yang ada dalam benak mereka adalah bagaimana pola pendidikan yang diajarkannya kok bisa sampai melakukan hubungan intim diluar nikah.

Untuk mengatasi hal-hal semacam itu seharusnya pihak orangtua bisa membengkelkan anaknya dalam pesantren . karena dalam pesantren pendidikan yang paling ditonjolkan adalah akhlak dan adab sebagai seorang santri. Akhlak dan adab itu diatas segalanya, ketika seseorang sudah tidak mempunyai keduanya maka hilanglah aji dalam diri seorang tersebut. Bahkan orang yang berakhlak lebih baik daripada orang yang berilmu tapi tidak mempunyai akhlak dan adab.

Kekhawatiran orangtua
Kebanyakan dari orangtua takut untuk memasukkan anaknya dalam pondok pesantren. Mereka berpikir bahwa ketika anaknya masuk dalam pondok pesantren pikiran anak akan tambah terbebani dengan ilmu-ilmu agama dan ilmu umum akan kalah. Padahal tidak sama sekali, ibaratkanlah orang yang mengejar dunia maka akhirat tidak bisa mengikuti, tapi sebaliknya orang yang mengejar akhirat otomatis dunia pun akan mengikuti dengan sendirinya.

Dari pihak anak pun mereka berpikir ketika nanti sudah berada dalam pesantren pasti apa-apa sendiri, dan terbebani dengan tugas ini itu, dengan hafalannya dengan tugas sekolahnya. Ingatlah ketika kita ingin mulya maka bersusah payah dahulu. Kudu wani rekoso yen pengen mulyo (harus berani bersusah payah dahulu ketika pingin mulya).

Itulah alasan orangtua takut untuk memasukkan anaknya dalam pesantren, takut nantinya anak jadi kurang pergaulan, kurang menguasai ilmu umum menjadi kurang update, dan lain sebagainya. Padahal kebanyakan para santri pengetahuannya sangat luas mulai dari ilmu umum ataupun ilmu agama. Percuma anak menguasai ilmu umum, gaul, update tapi tidak berakhlakul karimah. Karena yang terpenting menjadi seorang santri harus mempunyai akhlakul karimah yang nantinya akan menjadi contoh dalam masyarakat luar.

Dalam duna luar anak muda yang kurang asupan dalam pendidikan karakter pasti kurang tahu adab terhadap orangtua, guru dan sesama teman. Bahkan sampai hilang adab terhadap orangtua dan guru yang sebagaimana mestinya dihormati dan dita’dimi. Tapi beda dengan seorang santri yang selalu ta’dim terhadap orangtua, ustadz-ustadzah dan Kyainya.

Bahkan santri ketika bertemu dengan kyainya pasti nunduk-nunduk, itulah tanda ta’dim seorang santri. Ta’dimnya seorang santri tersebut menggambarkan bahwa betapa tingginya ilmu yang dimiliki oleh sang kyai tersebut sehingga mereka dengan sangat menghormatinya. Ketika lewat di depan orang, santripun selalu berkata nderek langkung (permisi).

Beda lagi dengan anak muda luar zaman sekarang, lewat depan orang tidak bilang permisi atau menundukkan kepala bahkan ketika diajak bicara selalu sambil main gawai entah apa yang telah merasukinya. Bahkan anehnya lagi mereka bangga ketika bisa berpacaran, bonceng-boncengan sampai melakukan hubungan intim diluar nikah. Padahal mendekati zina dilarang oleh agama apalagi melakukannya, naudzubillah.

Ketika perbuatan tersebut dibiarkan maka rusaklah moral para generasi bangsa. Mereka sudah tidak berakhlak, tidak tahu tata krama dan bangga dalam melakukan perbuatan tercela. Faktor yang mempengaruhinya yaitu karena mereka kurang dengan asupan pendidikan karakter atau akhlak dan kurangnya pengawasan terhadap orangtua.

Perbengkelan akhlak
Untuk meminimalisir hal-hal tersebut, pesantrenlah tempat yang tepat sebagai perbengkelan akhlakul karimah. Tidak hanya kecerdasan intelektual saja yang diajarkan tapi kecerdasan emosional dan spiritual. Para orangtua tidak usah takut untuk memasukkan anaknya dalam pondok pesantren. Jaminan pasti anak kalau sudah masuk dunia pesantren minimal mengetahui ilmu agama dan bahkan sampai dapat menguasainya. Seiring dengan berjalannya waktu, akhlakul karimah pasti sudah dimilikinya dan melekat dalam jiwa seorang santri.

Dalam pondok pesantren, pendidikan yang paling ditonjolkan adalah pembentukan akhlak. Karena dalam pesantren pasti selalu mengkaji kitab tentang akhlak. Mulai dari kitab Akhlakul Banat, Akhlakul Banan, wasoya al-aba lil-abna dan ta’lim muta’alim. Dan dalam pesantren selalu diajari bagaimana cara menghormati kepada yang lebih tua dan bagaimana cara mengasihi kepada yang lebih kecil.

Orangtua pun tidak perlu khawatir ketika anaknya sudah masuk dalam pondok pesanten. Karena mereka akan lebih mandiri, lebih berpikir dewasa, selalu menghormati, menghargai terhadap sesama dan yang terpenting berakhlakul karimah yang nantinya akan menjadi sumber panutan bagi masyarakat ketika sudah keluar dari pondok pesantren.

Karena sumber pasti akan selalu dicari datangnya dari mana. Dan pesantrenlah memang tempat yang paling tepat sebagai perbengkelan akhlak. Dan menjadi seorang santri itu sangat istimewa, karena seorang santri yang berakhlakul karimah selalu dimulyakan dan dihormati. Karena akhlak itu diatas segalanya. Dan santri besok akan menjadi generasi-generasi penerus bangsa dan meneruskan perjuangan para ulama untuk memajukan bangsa Indonesia. Dari santri untuk negeri.

- Penulis adalah Mahasiswi STAINU Temanggung