Pasang Iklanmu Di Sini!


Temanggung, Hariantemanggung.com
- Bertempat di ruang Kepala Dinas Kominfo Temanggung, jajaran dosen Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menggelar diskusi terbatas tentang Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV pada Rabu (22/9/2021) di Jl. Jenderal Sudirman No.42, Dongkelan Selatan, Jampiroso, Temanggung.

Hadir Pjs Warek I INISNU Hamidulloh Ibda, PJs Warek II Khamim Saifuddin, Pjs Kepala L2M Moh. Syafi' dan Asih Puji Hastuti. Mereka diterima langsung oleh Kepala Dinas Kominfo Temanggung Samsul Hadi dan Ekape Prasetyo.

Dalam kesempatan itu, Hamidulloh Ibda yang juga Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV mengatakan bahwa dalam Perda Nomor 12 tahun 2017 tentang Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV perlu dikaji secara akademik. Sebab, menurut mantan jurnalis tersebut, beberapa hal sudah tidak relevan sesuai perkembangan zaman.

"Kami baru mengantongi beberapa masalah. Mulai dari lembaga di atas Temanggung TV yang dulu adalah Humas sekarang pindah ke Kominfo sesuai SOTK terbaru, lalu status Temanggung TV yang semi BLUD, dan belum masuknya Temanggung TV sebagai media massa yang terverifikasi Dewan Pers," beber dia.

Selain itu, isu lain adalah dampak UU Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang berakibat pada TV analog harus migrasi ke TB Digital. Secara resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika mengagendakan tahapan migrasi televisi analog ke televisi digital dengan tahapan switch off menjadi 3 tahap, yakni pada April, Agustus, dan November 2022.

Merespon hal itu, Kepala Dinas Kominfo Temanggung Samsul Hadi mengatakan bahwa sebenarnya Perda Nomor 12 tahun 2017 harus diteliti pasal demi pasal khususnya tentang pengelolaan yang sekarang sudah di bawah Kominfo.

Ia berharap ke depan ada diskusi lagi karena INISNU mendapat kepercayaan untuk membuat Kajian Akademik tentang Perda Nomor 12 tahun 2017 tersebut. (htm/sul).


Temanggung, Hariantemanggung.com
- Panitia pelaksana Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung mengundang lembaga mitra sebanyak 14 dalam pembinaan PPL pada Selasa (21/9/2021) di aula kampus setempat.

Dalam pengarahannya, PJs Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan INISNU Temanggung Hamidulloh Ibda mengatakan PPL tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Sebab, tahun lalu masih murni daring dan tahun ini sudah ada kebijakan tatap muka terbatas.

"Semua calon peserta PPL sudah tervaksin. Panitia sudah membuat syarat tambahan ada tes kesehatan dibuktikan dengan surat keterangan sehat sebagai syarat tambahan," ujar Dewan Pengawas LPPL Temanggung TV tersebut.

Selain itu, pihaknya menegaskan bahwa capaian PPL disusun berdasarkan profil lulusan di masing-masing program studi. "PPL ini adalah bagian dari kegiatan PkM selain KKN. PPL adalah mata kuliah wajib dalam ranah aplikatif di lembaga yang sesuai dengan profil lulusan program studi masing-masing," ujar penulis buku Media Literasi Sekolah tersebut.

Selain itu, MoU yang sudah dilakukan ke depan diharapkan tidak hanya ditindaklanjuti dalam bentuk PKS atau MoA, namun mengarah kepada peningkatan mutu guru, tendik atau karyawan di masing-masing lembaga. "Kita sudah memiliki banyak pakar dan doktor. Harapannya MoU tidak hanya ditindaklanjuti saat PPL saja namun juga kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bentuk yang lain," bebernya.

Usai pengarahan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan teknis oleh Ketua Panitia PPL Yuni Setya Hartati bersama perwakilan lembaga mitra dan DPL. (htm/ank)

Oleh Rimatul Ulya

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam INISNU Temanggung


Mahasiswa merupakan salah satu orang yang beruntung bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, terkadang masih banyak orang di luar sana yang ingin melanjutkan sekolah tetapi tidak bisa. Namun ada kalanya mahasiswa merasakan bosan dan ditambah dengan tugas kuliah yang amat banyak, faktor tersebut membuat mahasiswa berpikiran yang tidak-tidak. Salah satunya yaitu berpikiran “Ah capek kuliah, nikah aja”. Pasti banyak banget yang sering berpikiran seperti itu kan, entah hal tesebut terucap waktu mahasiswa sedang mengerjakan tugas sampai di caption sosial media.

Apakah kalian yakin setelah menikah beban kalian akan mengilang begitu saja? Lalu yang ada hanya kehidupan romansa suami istri? Kalau yang berfikiran demikian artinya kalian malah sama sekali belum siap untuk menikah. Karena pada dasarnya seseorang yang siap menikah yaitu seseorang yang sudah berfikiran maju ke depan, entah itu dalam keadaan susah tidak dengan senangnya saja.

Di dalam sebuah keluarga pasti ada saatnya tertimpa sebuah masalah. Dan masalah tersebut hanya bisa diselesaikan dengan pemikiran dewasa. Umur yang dewasa belum tentu dewasa pula pemikirannya. Apalagi seorang mahasiswa yang kebanyakan umurnya masih dua puluhan. Pada umur dua puluhan bahkan yang kurang dari umur tersebut masih banyak yang terbilang labil dan kebanyakan masih belum bisa mengontrol emosinya. Maka dari itu kita sebagai mahasiswa harus bisa berfikiran maju dan hilangkan sifat terlalu terburu-buru. Apalagi berfikiran untuk menikah akibat tugas kuliah yang amat banyak.

Pasti banyak juga yang berfikir mengenai solusi terbaik dari permasalahan menumpuknya tugas kuliah yakni dengan menikah. Yah pemikiran tersebut salah besar lho. Malahan pada saat sudah menikah beban tanggung jawab kalian akan lebih besar daripada sebelumnya. Entah itu baban dalam mengurus suami, mengurus rumah tangga, menggurus orang tua suami dan orang tua istri, perhitungan dalam keuangan rumah tangga, bahkan kalau sudah mempunyai anak pasti beban akan bertambah banyak. 

Apalagi kalau kalian memutuskan untuk menikah sambil kuliah, beban yang dipikul pun akan berkali lipat tambah besar. Bayangkan saja jika menulis skripsi sambil mengendong anak, bukannya tulisan kita selesai tetapi yang ada malah kita akan disibukkan dengan mengurus anak yang rewel dan sebagainnya.

Perlu diketahui, menikah itu harus dilakukan dalam keadaan siap bukan hanya karena capek akan kegiatan keseharian ataupun tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Menikah itu merupakan penyatuan dua insan menjadi satu, dua pemikiran yang harus dijadikan satu, serta dua keluarga menjadi satu. Karena setelah kita berumah tangga banyak kebiasaan yang berubah, misalkan wanita sebelum menikah di pagi hari selalu bersantai, nah setelah menikah pagi hari wanita berubah jadi kesibukan mengurus rumah, mengurus suami, memasak, dan lain sebagainya.

Kalau kita belum siap dalam semua hal tersebut mendingan jangan menikah dulu. Pikiran semua tindakan kita dengan pikiran yang matang dan hati yang dingin. Jalani saja keseharian kita dengan senang hati dan hadapilah tugas-tugas yang memumpuk, bukannya malah kabur dengan menikah. 

Menjadi mahasiswa itu harus siap susah dan senang pada kemudian hari. Dan kalau kalian tau tugas-tugas tersebut menjadikan kita tambah cerdas dan kuat lagi untuk menghadapi hari esok. Serta selesaikan kuliah sampai wisuda, karena momen langka tersebut akan dikenang sepanjang hayat.



Yogyakarta, Hariantemanggung.com
- Melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan tugas dan kewajiban setiap dosen. Dalam mewujudkan hal tersebut, dosen yang juga PJs Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, Sumarjoko menggelar pelatihan macapat pada hari Senin (20/9/2021) pukul 19:00 WIB hingga selesai. 

Pelaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) mengusung tema moderasi beragama melalui pelatihan dan peningkatan macapat pada objek dampingan Paguyuban Anggoro Kasih, Kembang, Kepanewonan Nanggulan, Kulon Progo. 

Sumarjoko selaku pendamping sekaligus Rektor INISNU Temanggung dalam sambutan pembukaan acara tersebut mengatakan, tujuan dilaksankannya PkM adalah untuk meningkatkan kompetensi dan kreativitas macapat.

Dalam acara tersebut dihadiri narasumber dari Keraton Ngayogyakarta, Kanjeng Mas Tumenggung Projosuasono yang akrap dikenal sebagai Romo Projo. Romo Projo melatih tembang dihadapan 30 peserta paguyuban Angoro Kasih dari kalangan Muslim dan Katholik.


Menurut Romo, macapat itu sebagai media belajar sejarah. Macapat juga sebagai sarana pembangunan masyarakat dalam menciptakan moderasi beragama. Sebenarnya, sebagian kecil peserta sudah layak dalam "nembang" namun belum layak untuk tampil secara publik.

Oleh karena itu, harapannya, setelah perlaksanaan ini, peserta dapat meningkatkan secara maksimal. Acara tersebut juga dihadiri oleh pemerhati kesenian dan budaya, Raden Mas Anton Sutopo dan beberapa tamu undangan dari pemuka Muslim dan Katholik. 

Dalam kesempatan tersebut, R.M. Anton Sutopo memberikan kajian sejarah macapat. Menurutnya,macapat bukan berasal dari Keraton melainkan telah ada sebelum Islam di Jawa. 

Dia juga menyayangkan kebanyakan generasi milineral tidak mengenal budaya macapat ini. Oleh karena itu, kegiatan malam ini diharapkan menjadi motivasi para generasi milenial. (htn/ibd)