Articles by "Kampus"
Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan

Magelang, Hariantemanggung.com - Pagelaran wayang kulit kembali menghidupkan tradisi masyarakat dalam rangkaian kegiatan Nyadran Kali. Acara yang diselenggarakan di Dusun Grogol, Muneg Warangan, Pakis, di lereng Gunung Merbabu, menampilkan suguhan seni budaya melalui pementasan Wayang Kulit 6 Dalang Muda UNY dengan lakon “Banyu Suci Perwitasari.” (26/08/26)

Kegiatan ini dihadiri sejumlah pejabat daerah dan tokoh penting, di antaranya Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, anggota DPRD Magelang, Ariyanto, S.A.P., serta Kepala Departemen Pendidikan Bahasa Daerah UNY, Prof. Dr. Afendy Widayat, M.Phil. Turut hadir pula Prof. Dr. Suwarno, M.SI., dosen dan mahasiswa dari berbagai unsur, termasuk perwakilan HIMA, Wakil Rektor I INISNU Temanggung, Kabid Kebudayaan Magelang, Camat, Koramil Pakis, dan Kepala Desa setempat.

6 Dalang Muda, Kolaborasi Mahasiswa Pendidikan Bahasa Daerah UNY

Pementasan wayang kali ini menjadi perhatian karena melibatkan enam dalang muda serta seluruh mahasiswa Pendidikan Bahasa Daerah UNY. Kolaborasi tersebut tidak hanya menghadirkan penampilan seni pertunjukan, tetapi juga menunjukkan keterpaduan antara pembelajaran akademik dan pelestarian budaya.

Lakon Banyu Suci Perwitasari dibawakan secara apik dengan dinamika cerita dan penyampaian pesan moral khas wayang. Dalam pementasan tersebut, penonton dapat menangkap nilai-nilai kehidupan yang dibalut simbol dan pesan yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

Dalam sambutannya, Bupati Magelang Grengseng Pamuji menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menyoroti pentingnya menjaga dan melestarikan khazanah budaya, khususnya terkait peradaban dan manuskrip yang pernah tumbuh di kawasan Merapi–Merbabu.

Bupati menyebut, jumlah manuskrip di wilayah tersebut diperkirakan sekitar 1.500 manuskrip. Menurutnya, manuskrip-manuskrip tersebut merupakan warisan berharga yang memerlukan tanggung jawab bersama agar dapat diolah menjadi karya ilmiah, sehingga mendorong dan mengangkat derajat bangsa.

Selain itu, Pemda Magelang, lanjut Bupati, terus berupaya melakukan pelestarian melalui pembiayaan duplikasi manuskrip serta kerja sama dengan berbagai pihak sebagai langkah penting agar jati diri budaya tidak hilang.

Bupati juga menyampaikan terima kasih kepada sivitas akademika UNY dan panitia masyarakat yang telah bekerja keras sehingga kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik.

Pagelaran wayang dalam rangka Nyadran Kali tidak semata menjadi agenda seremonial, melainkan juga menjadi media pelestarian tradisi dan penguatan identitas budaya. Dengan melibatkan generasi muda dan lingkungan akademik, kegiatan ini diharapkan mampu menghadirkan kesinambungan budaya dari waktu ke waktu.

Kegiatan kemudian diakhiri dengan rangkaian penghormatan dan apresiasi dari penyelenggara kepada seluruh unsur yang terlibat, sekaligus mempertegas bahwa tradisi lokal dapat terus berkembang melalui kolaborasi lintas unsur


Temanggung, Hariantemanggung.com
- Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip) bersama INISNU dan Akper Al Kautsar menjajaki kolaborasi penelitian terkait stunting, kesehatan, gizi, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat di wilayah penghasil kopi Kabupaten Temanggung. (20/08/2026)

Penjajakan kolaborasi tersebut dilakukan sebagai persiapan penelitian yang direncanakan mulai dilaksanakan pada awal September 2026. Penelitian akan menyasar tiga kecamatan penghasil kopi, yakni Kecamatan Kandangan, Kledung, dan Gemawang.

Dalam pertemuan tersebut hadir Farid Agushybana, SKM, DEA, PhD., bersama Tim Peneliti FKM Universitas Diponegoro, Wakil Rektor I INISNU Andrian Gandi W, M.Pd., Wakil Rektor II INISNU Dr. Joni, M.Pd.B.I., Ketua PPPM INISNU Moh Syafi’ M.Hum., Humas INISNU Nur Fatihah Amnur, S.E., serta Direktur Akper Al Kautsar Ratna Kurniawati, S.Kep., Ns., M.Kep.

Farid Agushybana menjelaskan, kolaborasi tersebut bertujuan memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi masyarakat di wilayah penghasil kopi, terutama terkait kesehatan dan gizi anak.

Menurut Farid, persoalan stunting tidak dapat dilihat hanya dari sisi kesehatan. Kondisi gizi anak berkaitan erat dengan pola makan, konsumsi pangan, kondisi ekonomi keluarga, serta berbagai faktor sosial yang berkembang di lingkungan masyarakat.

“Riset ini diharapkan dapat memberikan gambaran kondisi awal masyarakat secara komprehensif. Data yang diperoleh nantinya dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah dan pengembangan program yang sesuai dengan kondisi serta potensi lokal masyarakat,” jelas Farid.

Ia menambahkan, penelitian juga dirancang memiliki keberlanjutan. Setelah kondisi kesehatan, gizi, pola makan, dan sosial ekonomi masyarakat dipetakan pada tahun pertama, riset pada tahun kedua akan dikembangkan pada aspek ekonomi sirkuler, terutama pemanfaatan limbah kopi.

Pemanfaatan limbah kopi tersebut diharapkan dapat menghasilkan nilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.


Wakil Rektor I INISNU, Andrian Gandi W, M.Pd., menyambut baik rencana kolaborasi tersebut. INISNU menyatakan kesediaannya untuk mendukung proses penelitian, terutama dalam pelaksanaan kegiatan lapangan dan penyediaan enumerator. “INISNU siap mendukung kolaborasi riset ini melalui kerja sama kelembagaan, penyiapan enumerator dalam proses pengumpulan data. Setelah penelitian berjalan, kami juga siap melakukan tindak lanjut bersama agar hasil riset tidak berhenti sebagai data, tetapi dapat dikembangkan menjadi rekomendasi atau kajian lanjutan yang bermanfaat dan maslahat,” ujar Gandi.

Wakil Rektor II Dr Joni M.Pd.B.I menambahkan pentingnya koordinasi tim dalam menjalankan riset kolaborasi ini, "Diperlukan koordinasi bersama sejak tahap persiapan, pelaksanaan penelitian, hingga penyusunan tindak lanjut. Dengan demikian, masing-masing lembaga dapat mengambil peran sesuai kapasitas dan keahliannya dalam mendukung keberhasilan riset. Semoga kolaborasi antara FKM Universitas Diponegoro, INISNU, dan Akper Al Kautsar dapat berlangsung secara berkelanjutan, untuk memperkuat kualitas penelitian sekaligus memastikan hasilnya relevan."Pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Akper Al Kautsar, Ratna Kurniawati, S.Kep., Ns., M.Kep., menyatakan kesiapan institusinya untuk terlibat dalam proses penelitian. Akper Al Kautsar siap mendukung kebutuhan tenaga enumerator dan pengumpulan data di lapangan. " Keterlibatan dalam penelitian tersebut menjadi kesempatan bagi Akper Al Kautsar untuk berkontribusi dalam pengembangan riset kesehatan sekaligus memberikan pengalaman lapangan kepada sumber daya yang terlibat."paparnya.

Pada tahap pertama, penelitian ini akan melibatkan 200 keluarga yang tersebar di tiga kecamatan. Lima enumerator dari INISNU dan Akper Al Kautsar akan disiapkan dan dibekali oleh tim peneliti FKM UNDIP untuk membantu dalam proses pengumpulan data. Para enumerator nantinya akan berkoordinasi dengan petugas puskesmas di Kecamatan Kandangan, Kledung, dan Gemawang.

Penelitian tahun pertama yang direncanakan dimulai pada awal September 2026 dengan tujuan pemetakan situasi kesehatan dan status gizi anak, kondisi serta karakteristik ekonomi keluarga, pola makan dan konsumsi pangan masyarakat, serta faktor-faktor yang berkaitan dengan kondisi kesehatan dan gizi anak.

Sementara itu, penelitian tahun kedua akan diarahkan pada pengembangan ekonomi sirkuler dengan mengkaji potensi pemanfaatan limbah kopi sebagai sumber nilai tambah dan ekonomi baru bagi masyarakat.

Sebagai tindak lanjut, para pihak akan menyiapkan MoU kelembagaan antara FKM Undip, INISNU, dan Akper Al Kautsar. Selain itu, akan dilakukan pembagian lokasi dan jumlah sampel, perekrutan enumerator, serta koordinasi dengan puskesmas di tiga kecamatan lokasi penelitian.

Kolaborasi ini diharapkan mampu menghasilkan data yang kuat mengenai kondisi kesehatan, gizi, pola makan, dan sosial ekonomi keluarga di wilayah penghasil kopi Temanggung. Hasil penelitian tersebut selanjutnya menjadi pijakan untuk mengembangkan riset ekonomi sirkuler dan pemanfaatan limbah kopi pada tahun kedua.


Temanggung, Hariantemanggung.com
- Rangkaian Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Riset mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga di Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung resmi berakhir. Prosesi penarikan mahasiswa yang berlangsung pada Sabtu, 15 Agustus 2026, tersebut menjadi penanda selesainya rangkaian kegiatan riset akademik sekaligus pengalaman pengabdian mahasiswa di lingkungan kampus INISNU Temanggung.

Kegiatan penarikan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Selain menjadi agenda administratif berakhirnya masa PPL, kegiatan tersebut juga menjadi momentum evaluasi sekaligus refleksi atas proses akademik yang telah dijalani mahasiswa selama berada di lingkungan INISNU Temanggung.

Prosesi penarikan mahasiswa UIN Salatiga didampingi langsung oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Farid Hasan, S.Th.I., M.Hum. Dalam sambutannya, Farid menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pimpinan serta seluruh civitas akademika INISNU Temanggung yang telah menerima, membimbing, mengarahkan, dan memberikan fasilitas kepada mahasiswa selama melaksanakan kegiatan PPL Riset.

Menurutnya, pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama berada di INISNU Temanggung bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan mahasiswa untuk memahami realitas sosial dan akademik secara langsung.

Ia berharap hubungan baik yang telah terbangun antara UIN Salatiga dan INISNU Temanggung dapat terus dikembangkan dalam bentuk kerja sama yang lebih luas.

“Semoga silaturahmi dan kolaborasi akademik antara UIN Salatiga dan INISNU Temanggung dapat terus terjalin dan berkembang pada masa yang akan datang,” ungkapnya.

Tidak Sekadar PPL, tetapi Ruang Belajar dan Kolaborasi


Dari pihak INISNU Temanggung, kegiatan tersebut diisi dengan sambutan dari dosen pembimbing, Dr. Joni, M.Pd.B.I.,yang mendampingi mahasiswa dalam aspek metodologi penelitian dan kajian budaya, serta Nashih Muhammad, S.H.I., M.H., selaku pembimbing dalam kajian Living Qur’an.

Dalam arahannya, Dr. Joni, M.Pd.B.I. menegaskan bahwa proses pendidikan tinggi tidak semata-mata berorientasi pada capaian angka atau nilai akademik. Menurutnya, nilai angka tidak sepenuhnya dapat menjamin keberhasilan seseorang dalam dunia kerja maupun kehidupan profesional. Yang lebih esensial adalah kesiapan mental, moral, dan akhlak, yang justru sering kali tidak sepenuhnya diperoleh di bangku perkuliahan.

Pihak INISNU Temanggung menyambut baik berakhirnya kegiatan PPL Riset tersebut. Apresiasi diberikan kepada seluruh mahasiswa atas kedisiplinan, kesungguhan, dan kontribusi positif selama menjalankan kegiatan akademik di lingkungan kampus.

Kehadiran mahasiswa UIN Salatiga selama masa riset dipandang memberikan ruang bagi terjadinya pertukaran pengetahuan dan pengalaman akademik antara mahasiswa, dosen pembimbing, serta lingkungan akademik INISNU Temanggung.

Dengan demikian, PPL Riset tidak hanya dipahami sebagai kegiatan praktik lapangan, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang mempertemukan teori dengan realitas, sekaligus membuka peluang lahirnya kerja sama penelitian dan pengembangan akademik lintas perguruan tinggi.

INISNU-UIN Salatiga Diharapkan Perluas Kolaborasi

Koordinator kegiatan dari INISNU Temanggung, Muh. Syafi’, S.Th.I., M.Hum., turut menyampaikan salam hangat dan pesan dari Rektor INISNU Temanggung, Dr. Hamudullah Ibda’, S.Pd.I., M.Pd.

Dalam kesempatan tersebut disampaikan bahwa Rektor belum dapat hadir secara langsung dalam prosesi penarikan mahasiswa. Namun, pimpinan INISNU Temanggung memberikan apresiasi atas pelaksanaan PPL Riset sekaligus berharap kerja sama antara kedua perguruan tinggi dapat terus diperluas.

Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penelitian, tetapi dapat berkembang ke berbagai bidang akademik lainnya, seperti pendidikan, pengembangan keilmuan, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, serta bentuk kerja sama kelembagaan lainnya.

“Semoga INISNU Temanggung dan UIN Salatiga dapat terus berkolaborasi, bukan hanya dalam bidang penelitian, tetapi juga dalam berbagai aspek akademik lainnya,” demikian pesan yang disampaikan melalui Muh. Syafi’.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para mahasiswa atas keseriusan mereka dalam melaksanakan kegiatan penelitian selama berada di INISNU Temanggung. Ia berharap hasil riset yang telah dilakukan tidak berhenti sebagai tugas akademik semata, tetapi dapat memberikan manfaat bagi masyarakat secara lebih luas.

“Semoga hasil penelitian yang telah dilakukan dapat memberikan manfaat dan kontribusi bagi masyarakat luas,” ujarnya.

Cinderamata Kaligrafi Sholawat Nariyyah

Suasana semakin hangat ketika pihak UIN Salatiga menyerahkan cinderamata kepada INISNU Temanggung sebagai simbol kenang-kenangan sekaligus penghargaan atas hubungan baik yang telah terjalin selama pelaksanaan PPL Riset.

Cinderamata tersebut berupa lukisan kaligrafi Sholawat Nariyyah yang memiliki nilai estetis sekaligus makna spiritual. Penyerahan tersebut menjadi simbol bahwa hubungan akademik antarlembaga tidak hanya dibangun melalui kegiatan formal, tetapi juga melalui silaturahmi, penghargaan, dan ikatan kemanusiaan.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama antara mahasiswa, dosen pembimbing, koordinator, serta unsur akademik INISNU Temanggung. Suasana berlangsung penuh keakraban, menandai berakhirnya satu fase kegiatan sekaligus membuka peluang bagi perjumpaan dan kolaborasi akademik berikutnya.

Mahasiswa: INISNU Temanggung Memberikan Pengalaman Berkesan

Bagi para mahasiswa UIN Salatiga, masa PPL Riset di INISNU Temanggung meninggalkan kesan tersendiri. Mereka menyampaikan terima kasih atas sambutan, pelayanan, bimbingan, dan perhatian yang diberikan selama menjalankan kegiatan di lingkungan kampus.

Selama 45 hari berada di Temanggung dan INISNU Temanggung, para mahasiswa memperoleh berbagai pengalaman akademik yang berharga, mulai dari pemahaman metodologi penelitian, pengenalan budaya masyarakat Temanggung, hingga pendalaman konsep Living Qur’an dalam konteks sosial dan kebudayaan setempat.

Para mahasiswa mengaku merasakan suasana akademik yang terbuka dan menghargai keberadaan mereka sebagai bagian dari proses pembelajaran selama berada di INISNU Temanggung.

Ucapan terima kasih tersebut menjadi penutup yang memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah program akademik tidak hanya diukur dari selesainya kegiatan, tetapi juga dari pengalaman, pengetahuan, jejaring, dan hubungan baik yang dibawa pulang oleh para peserta.

Penarikan mahasiswa PPL Riset UIN Salatiga di INISNU Temanggung pada akhirnya bukan sekadar seremoni berakhirnya kegiatan. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi refleksi bahwa perguruan tinggi memiliki ruang yang luas untuk saling belajar, bertukar pengetahuan, dan membangun kolaborasi.

Dari Temanggung, kerja sama akademik antara UIN Salatiga dan INISNU Temanggung diharapkan terus tumbuh menjadi jejaring keilmuan yang produktif, sehingga penelitian dan pengalaman akademik mahasiswa tidak berhenti di ruang kampus, tetapi mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Semoga silaturahmi dan kolaborasi ini terus terjaga, dan INISNU Temanggung senantiasa maju serta memberikan kontribusi terbaik bagi pendidikan, penelitian, dan masyarakat.”


Temanggung, Hariantemanggung.com
- Tim DPRKPLH Kabupaten Temanggung mengadakan verifikasi awal bagi calon Sekolah Adiwiyata. Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan menuju penilaian Adiwiyata tahun 2027, sekaligus sebagai langkah awal pembinaan lingkungan bagi sekolah/madrasah yang berkomitmen menerapkan program berwawasan lingkungan pada Senin (10/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut hadir Tim Penilai Program Adiwiyata Kabupaten Temanggung, meliputi DPRKPLH Kab. Temanggung, Akademisi INISNU Temanggung, Pengawas Madrasah Kemenag Temanggung dan LSM OISCA Temanggung

Dalam verifikasi awal ini, dilaksanakan di SD N 3 Kebumen, Pringsurat ,SD N Nguwet, Kranggan, 
SD N Tlogomulyo, SD N Tanjungsari. 

Perwakilan Kepala SD N 3 Kebumen Pringsurat, Tata Krismintoro, menyambut baik kehadiran tim serta menyampaikan ucapan selamat datang atas kunjungan tersebut. Ia berharap kegiatan ini menjadi dorongan dan semangat bagi seluruh sivitas sekolah.

“Hal yang besar dalam memberikan harapan dan semangat bagi sivitas. Kami berkeinginan menjadi sekolah berwawasan lingkungan, bersih, dan berkarakter. Kesempatan ini menjadi langkah awal dalam mempersiapkan diri, tekad, dan niat kita mewujudkan cita-cita mulia tersebut,” ungkapnya.

Sementara itu, Kabid Tata Lingkungan DPRKPLH Kabupaten Temanggung, Hani Eko Praptiwi, SKM., M.Si. menjelaskan maksud dan tujuan verifikasi awal bagi sekolah adiwiyata tahun 2027.

"Penilaian telah dimulai sejak awal tahun 2026, melalui sosialisasi kepada 30 sekolah terkait kesanggupan mengikuti program. Dari proses tersebut, terdapat 22 sekolah yang berkenan terlibat dalam kegiatan ini." paparnya

"Selain itu, kegiatan verifikasi awal ini dilakukan untuk melihat kondisi awal sekolah, melalui pengamatan, serta wawancara/diskusi dan data awal. Hasilnya diharapkan dapat mengidentifikasi potensi dan tantangan sekolah, yang kemudian menjadi landasan dalam penyusunan dokumen perencanaan sekolah adiwiyata." pungkasnya

Dengan adanya verifikasi ini, sekolah dan madrasah diharapkan semakin siap dalam menjalankan program adiwiyata agar lingkungan secara terarah, konsisten, dan berdampak bagi warga sekolah/madrasah maupun lingkungan sekitar. Selanjutnya masih akan dilakukan verifikasi awal pada sekolah dan madrasah lain sampai Jumat 28 Agustus 2026.


Temanggung, Hariantemanggung.com -
 Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung terus memperkuat transformasi digital dalam tata kelola perguruan tinggi melalui kegiatan Update Sistem Informasi Manajemen (SIM) Layanan INISNU Temanggung dengan menghadirkan tim dari SEVIMA sebagai mitra pengembang sistem informasi perguruan tinggi pada Jumat (7/8/2026).

Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Rektor I, Wakil Rektor II, Wakil Rektor III, Wakil Rektor IV, para dekan fakultas, direktur, serta jajaran akademik, keuangan dan pangkalan data INISNU Temanggung. Hadir sebagai narasumber dari SEVIMA, yaitu Ibu Sasna dan Ibu Laili, yang memaparkan berbagai pembaruan layanan dan pengembangan terbaru pada platform digital SEVIMA Platform.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor I INISNU Temanggung, Andrian Gandi W, M.Pd., menegaskan bahwa pengembangan Sistem Informasi Manajemen merupakan kebutuhan strategis dalam mendukung tata kelola perguruan tinggi yang modern. "Perkembangan layanan SIM digital INISNU Temanggung harus terus bergerak secara dinamis mengikuti perkembangan regulasi, kebutuhan pengguna, serta perubahan zaman. Digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan, tetapi menjadi kebutuhan agar layanan akademik dan administrasi semakin efektif, efisien, transparan, dan mampu memberikan pengalaman terbaik bagi seluruh sivitas INISNU" ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pembaruan sistem informasi diharapkan mampu mendukung implementasi berbagai kebijakan pendidikan tinggi, penerapan kurikulum baru dengan standar yang berbeda, memperkuat integrasi data, serta meningkatkan kualitas layanan kepada mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, maupun pemangku kepentingan lainnya.

Sementara itu, narasumber dari SEVIMA, Ibu Sasna dan Ibu Laili, memaparkan berbagai inovasi terbaru dalam SEVIMA Platform, sebuah layanan digital berbasis cloud yang dirancang khusus untuk membantu perguruan tinggi mengelola tata kelola, administrasi, dan sistem akademik secara terintegrasi, efektif, dan efisien.

Dalam paparannya dijelaskan bahwa SEVIMA Platform menghadirkan berbagai solusi digital yang saling terhubung. Pada aspek manajemen akademik, platform ini memungkinkan pengelolaan data mahasiswa, dosen, kurikulum, hingga aktivitas perkuliahan melalui layanan SiAkad Cloud. Dari sisi pelaporan pemerintah, sistem mendukung proses sinkronisasi dan pelaporan data PDDikti secara lebih akurat dan tepat waktu sesuai ketentuan yang berlaku.


Selain itu, platform juga menyediakan fitur manajemen keuangan yang memudahkan pengaturan tarif biaya pendidikan serta pembayaran kuliah secara daring. Pada layanan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), seluruh proses mulai dari pendaftaran, seleksi hingga daftar ulang dapat dilakukan secara digital. Tidak kalah penting, SEVIMA juga mendukung pembelajaran daring melalui aplikasi EdLink yang memfasilitasi interaksi dosen dan mahasiswa, distribusi materi pembelajaran, penugasan, hingga evaluasi secara online.

Melalui kegiatan ini, peserta juga berdiskusi mengenai berbagai kebutuhan pengembangan sistem informasi di lingkungan INISNU Temanggung agar semakin adaptif terhadap perubahan regulasi Kementerian Pendidikan Tinggi, kebutuhan akreditasi, serta peningkatan kualitas layanan berbasis teknologi informasi.

Kegiatan update SIM ini menjadi bagian dari komitmen INISNU Temanggung dalam mewujudkan tata kelola perguruan tinggi yang profesional, terintegrasi, dan berorientasi pada pelayanan prima. Sinergi dengan SEVIMA diharapkan mampu menghadirkan ekosistem digital kampus yang semakin inovatif sehingga mendukung pelaksanaan Pancadharma INISNU Temanggung.


Temanggung, Hariantemanggung.com
- INISNU Temanggung menyelenggarakan kegiatan Bimtek (Bimbingan Teknis) RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) sebagai bentuk komitmen kelembagaan dalam memperkuat pendampingan akademik bagi mahasiswa program RPL jenjang S1 dan S2. Melalui Bimtek ini, INISNU Temanggung menegaskan kesiapan untuk memfasilitasi mahasiswa agar proses penyelesaian studi dapat berjalan lebih cepat, terarah, dan tetap sesuai standar akademik. (6/8/2026)

Kegiatan ini juga menjadi wujud keunggulan INISNU dalam layanan RPL, yaitu mengedepankan alur yang jelas, pendampingan yang konsisten, serta penilaian yang objektif. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya dibantu pada aspek administrasi, tetapi juga diarahkan agar mampu memahami substansi pembelajaran yang akan diakui, sehingga hasil studi RPL tetap berkualitas dan relevan dengan kebutuhan kompetensi.

Wakil Rektor 1 Bidang Akademik dan Keaswajaan INISNU Temanggung, Andrian Gandi W, M.Pd,  dalam sambutannya menekankan "pentingnya pendampingan yang terstruktur agar mahasiswa RPL mendapatkan bimbingan yang tepat, sehingga target penyelesaian studi dapat tercapai secara optimal. Selain itu, kecepatan kelulusan tetap harus sejalan dengan mutu akademik sebagai ciri utama RPL di INISNU."ujarnya


Pada kesempatan tersebut, hadir Komite RPL, Dekan, Kaprodi, Tim Penilai, serta Tim Admin RPL. Keterlibatan berbagai unsur ini menunjukkan adanya sinergi yang menyeluruh untuk memastikan setiap tahapan administrasi maupun proses akademik berjalan dengan mekanisme yang tepat. Hal ini penting, sebab RPL yang baik mensyaratkan kesiapan dokumen, kesesuaian capaian pembelajaran, serta ketelitian pada proses penilaian.

Narasumber kegiatan Nugroho Eko B., ST., M.Kom dan Rizaldo Desvarylo, S.Kom, memberikan arahan terkait teknis pelaksanaan RPL serta langkah-langkah yang perlu dipahami dan dipersiapkan mahasiswa dalam rangka menyelesaikan tahapan studi hingga menuju kelulusan. Materi yang disampaikan diarahkan agar mahasiswa mampu menyusun dan melengkapi berkas dengan tepat, memahami alur penilaian, serta menyesuaikan strategi penyelesaian dengan target yang telah ditetapkan.

Kegiatan Bimtek ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam menyelesaikan tahapan akademik, memperkuat kualitas pemenuhan dokumen, serta mempercepat langkah menuju kelulusan melalui evaluasi berkala dan koordinasi yang solid antara. Dengan dukungan ekosistem layanan yang terstruktur, INISNU Temanggung hadir sebagai mitra pendidikan bagi mahasiswa RPL dan mendukung pencapaian lulus cepat sekaligus lulus berkualitas sesuai kompetensi yang dimiliki.


Magelang, Hariantemanggung.com
 - Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung terus memperluas peran strategisnya sebagai mitra pembangunan melalui penguatan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Salah satu langkah nyata diwujudkan melalui audiensi dengan Polres Magelang Kota untuk menjajaki kerja sama dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui PMB, penguatan literasi hukum bagi mahasiswa, serta peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis riset pada Kamis (30/7/2026).

Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Keaswajaan INISNU Temanggung, Andrian Gandi Wijanarko, M.Pd., menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai mitra strategis pemerintah dan institusi publik dalam menghadirkan solusi berbasis keilmuan.

"Kolaborasi antara perguruan tinggi dan institusi penegak hukum merupakan kebutuhan di era saat ini. Kampus memiliki sumber daya akademik, riset, dan pengabdian yang dapat dikolaborasikan untuk meningkatkan kualitas SDM sekaligus memperkuat pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, kami hadir tidak hanya untuk membangun jejaring, tetapi juga menawarkan kontribusi nyata melalui berbagai program yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," ungkap Gandi.

Audiensi dihadiri oleh jajaran pimpinan INISNU Temanggung, yaitu Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Keaswajaan Andrian Gandi Wijanarko, M.Pd., Wakil Rektor II Bidang SDM dan Kemahasiswaan Dr. Joni, M.Pd.B.I., Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama, Riset, dan Inovasi Dr. Husna Nashihin, M.Pd.I., Direktur Pascasarjana Dr. KH. Muhammad Syakur, S.Sy., M.H., Ketua Program Studi Magister Hukum Keluarga Islam Dr. Muhamad Jamal, S.H.I., S.H., M.H., serta Ketua Program Studi Sarjana Hukum Keluarga Islam H. Nashih Muhammad, S.H.I., M.H.


Rombongan diterima langsung oleh Kapolresta Magelang, AKBP Dikri Olfandi, S.E., S.I.K., M.M., M.I.K. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan produktif dengan membahas berbagai peluang sinergi, antara lain penyelenggaraan potensi kelas kerjasama, pelatihan dan peningkatan kapasitas SDM, kuliah umum, seminar, penyuluhan hukum, riset kolaboratif, pengabdian kepada masyarakat, hingga program pemberdayaan masyarakat berbasis kebutuhan kota Magelang.

Selain itu, dalam audiensi tersebut INISNU menawarkan layanan Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) terhadap pelayanan Polres Magelang Kota yang akan dilaksanakan oleh tim INISNU Temanggung. Survei ini dirancang sebagai instrumen akademik yang objektif untuk mengukur tingkat kepuasan masyarakat terhadap kualitas pelayanan kepolisian sekaligus menjadi dasar penyusunan rekomendasi peningkatan mutu layanan publik secara berkelanjutan.

Kapolresta Magelang, AKBP Dikri Olfandi, S.E., S.I.K., M.M., M.I.K., menyambut positif berbagai tawaran kolaborasi yang disampaikan INISNU Temanggung. Menurutnya, sinergi antara kepolisian dan perguruan tinggi akan memperkuat upaya peningkatan profesionalisme pelayanan, membangun budaya pelayanan prima, serta mempererat hubungan Polri dengan masyarakat melalui pendekatan akademik.

Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama, Riset, dan Inovasi, Dr. Husna Nashihin, M.Pd.I., menyampaikan bahwa hasil audiensi ini akan segera ditindaklanjuti melalui penyusunan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai dasar pelaksanaan berbagai program bersama bidang terkait di Polres Kota Magelang.

Selanjutnya, Kaprodi S2 Hukum Keluarga Islam, Dr. Muhamad Jamal, S.H.I., S.H., M.H.menyampaikan keunggulan layanan akademis melalui fleksibilitas pembelajaran dan sertifikat mediator bagi mahasiswa S2 INISNU Temanggung.

Melalui penjajakan kerja sama ini, INISNU Temanggung menegaskan komitmennya untuk menjadi mitra strategis bagi institusi pemerintah dalam pengembangan SDM, penguatan tata kelola pelayanan publik, serta pelaksanaan riset dan pengabdian yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan menjadi model sinergi antara perguruan tinggi dan kepolisian dalam mewujudkan pelayanan publik yang semakin profesional, dan akuntabel.

Temanggung, Hariantemanggung.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan inovasi berupa pemanfaatan alat penggiling kompos dalam program pembuatan pupuk kompos organik berbahan dasar kotoran ternak kepada Kelompok Tani Margi Lestari di Dusun Jurang, Desa Kemloko, Kecamatan Kranggan, Temanggung pada Selasa Pagi (28/07/2026). 

Inovasi tersebut diperkenalkan sebagai upaya meningkatkan kualitas pupuk organik sekaligus mendorong kemandirian petani dalam memenuhi kebutuhan pupuk melalui pemanfaatan sumber daya lokal.

Program ini dilaksanakan berdasarkan hasil observasi yang menunjukkan bahwa petani setempat belum menerapkan pengolahan pupuk kompos melalui prose
s fermentasi. Kotoran ternak umumnya dimanfaatkan secara langsung sebagai pupuk sehingga proses dekomposisi berlangsung lebih lama dan kualitas pupuk yang dihasilkan belum optimal. 

Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN memperkenalkan metode pembuatan kompos berbasis fermentasi yang dipadukan dengan penggunaan alat penggiling kompos sebagai inovasi dalam proses produksi. 

"Selama ini kotoran ternak biasanya langsung kami tebarkan ke lahan. Kami belum pernah mengolahnya menjadi kompos melalui fermentasi karena memang belum tahu caranya. Setelah mengikuti kegiatan ini, kami jadi paham kalau pengolahan yang benar bisa menghasilkan pupuk yang lebih baik," ujar Yono anggota kelompok tani.

Alat penggiling kompos menjadi salah satu teknologi tepat guna yang diperkenalkan kepada petani untuk menghasilkan bahan kompos dengan ukuran yang lebih seragam. Ukuran bahan yang lebih kecil dan homogen mampu mempercepat aktivitas mikroorganisme selama proses fermentasi sehingga penguraian bahan organik berlangsung lebih efektif. Selain mempercepat proses pengomposan, hasil penggilingan juga menghasilkan tekstur kompos yang lebih halus, merata, dan berkualitas sehingga lebih mudah diaplikasikan pada lahan pertanian.

Dalam kegiatan demonstrasi, mahasiswa KKN menjelaskan tahapan pembuatan kompos mulai dari pencampuran kotoran ternak dengan bahan pendukung, penambahan bioaktivator, proses fermentasi, hingga pemanfaatan alat penggiling pada tahap akhir untuk memperoleh kompos dengan ukuran partikel yang lebih seragam. Peserta juga diberikan kesempatan untuk mengoperasikan alat secara langsung sehingga dapat memahami prinsip kerja serta manfaatnya dalam meningkatkan efisiensi produksi kompos.

Pengenalan alat penggiling kompos mendapat respons positif dari para petani karena dinilai mampu menjadi solusi sederhana dalam meningkatkan mutu pupuk organik. Inovasi tersebut tidak hanya membantu menghasilkan kompos yang lebih berkualitas, tetapi juga memberikan gambaran mengenai penerapan teknologi tepat guna yang dapat diadaptasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa. 

"Harga pupuk kimia sekarang semakin mahal, jadi kalau kami bisa membuat pupuk organik sendiri tentu akan sangat membantu. Harapannya kompos ini bisa menjadi alternatif untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia sehingga biaya produksi pertanian juga bisa lebih hemat," ungkap Mariman anggota kelompok tani.

Melalui program ini, mahasiswa KKN-PPM UGM berharap inovasi pengolahan kompos berbasis fermentasi yang didukung penggunaan alat penggiling dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan produksi pupuk organik yang lebih berkualitas. Dengan memanfaatkan limbah kotoran ternak secara optimal dan mengadopsi teknologi sederhana, petani diharapkan semakin mandiri dalam penyediaan pupuk, mampu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, serta berkontribusi dalam menjaga kesuburan tanah dan keberlanjutan sektor pertanian.


Temanggung, Hariantemangggung.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) secara resmi disambut kedatangannya di Kantor Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, pada Senin pagi (22/6/2026). Suasana bahagia ini menandai dimulainya pengabdian mahasiswa UGM yang akan berlangsung selama 50 hari ke depan berlokasi di Desa Kemloko dan Desa Klepu.

Beberapa tokoh turut serta hadir dalam penyambutan ini. Tokoh-tokoh tersebut adalah Setyo Agung selaku sekretaris Kecamatan Kranggan yang mewakili Camat Kranggan, ada perwakilan Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama), perwakilan Bapperida Kabupaten Temanggung, dan perwakilan dari Puskesmas Kecamatan Kranggan. 

Selain itu, Kepala Desa Kemloko dan Kepala Desa Klepu, Kepala Dusun Jurang dan Mbolang, perwakilan Tim Penggerak PKK ikut mengahdiri undangan penyambutan mahasiswa KKN dari UGM.

Mahasiswa KKN-PPM UGM akan melaksanakan berbagai program pengabdian mulai 20 Juni hingga 8 Agustus 2026. Selama masa pengabdian tersebut, mahasiswa diharapkan dapat berkolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah setempat dalam menghadirkan inovasi serta solusi yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi wilayah.

Dalam sambutannya, Setyo Agung menyampaikan ucapan selamat datang kepada mahasiswa UGM yang akan melaksanakan KKN di wilayah Kecamatan Kranggan. Ia mengungkapkan rasa bangga atas kehadiran mahasiswa UGM dan berharap kegiatan KKN dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami berharap hadirnya mahasiswa KKN UGM ini dapat memberikan dampak positif dan solusi terhadap berbagai permasalahan yang ada,” tuturnya.

Sambungnya, harapannya mahasiswa UGM dapat mengaktifkan dan mengoptimalkan Rumah Digital di wilayah Kecamatan Kranggan. Program tersebut ditujukan untuk mendukung pemetaan lokasi yang lebih akurat serta meningkatkan akses informasi mengenai berbagai potensi daerah.

“Dengan pengaktifan dan pengoptimalan Rumah Digital, harapannya mampu memberikan informasi yang lebih akurat terkait berbagai lokasi yang ada serta mendorong kemudahan akses bagi wisatawan,” ujar Setyo Agung.

Program tersebut selaras dengan tema KKN-PPM UGM yang diusung di Desa Kemloko dan Desa Klepu, yakni “Perwujudan Desa Mandiri Melalui Peningkatan Kapasitas Sosial, Budaya, dan Ekonomi serta Pemberdayaan Potensi Daerah untuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat”. Melalui tema tersebut, mahasiswa diharapkan dapat berkontribusi dalam memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus mengembangkan potensi lokal yang dimiliki kedua desa.

Dengan adanya sinergi antara mahasiswa, pemerintah daerah, dan masyarakat, pelaksanaan KKN-PPM UGM di Desa Kemloko dan Desa Klepu diharapkan mampu memberikan dampak yang berkelanjutan serta mendukung terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan potensi daerah secara optimal.



Oleh: Joni MN

1. Pendahuluan

Temanggung, Hariantemanggung.com - Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang tidak hanya berkembang di ruang digital, tetapi juga merambah lingkungan pendidikan tinggi. Di tengah percepatan transformasi teknologi dan meningkatnya tuntutan produktivitas akademik, muncul gejala yang patut mendapat perhatian serius, yaitu menurunnya integritas sosial dan akademik dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam sejumlah kasus, praktik-praktik yang secara etis bermasalah mulai dianggap sebagai hal yang wajar, bahkan kerap dibenarkan demi memperoleh popularitas, pengakuan publik, atau pencapaian tertentu.

Fenomena tersebut tidak lagi dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan individu. Berbagai indikator menunjukkan adanya krisis nilai yang melibatkan ekosistem sosial, pendidikan, dan tata kelola pengetahuan secara lebih luas. Di ruang digital, misalnya, maraknya ujaran kebencian, disinformasi, dan perilaku komunikasi yang tidak beretika menunjukkan adanya penurunan kualitas tanggung jawab sosial dalam penggunaan teknologi. Kondisi ini menjadi cerminan bahwa tingkat pendidikan, status sosial, maupun identitas keagamaan tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas integritas seseorang.

Pada saat yang sama, dunia akademik juga menghadapi tantangan serupa. Meningkatnya tekanan untuk menghasilkan publikasi ilmiah, memperoleh pengakuan akademik, dan memenuhi indikator kinerja tertentu telah mendorong berkembangnya praktik-praktik yang mengarah pada komersialisasi publikasi dan orientasi kuantitas di atas kualitas. Situasi ini berpotensi menggeser fungsi utama ilmu pengetahuan sebagai sarana pencarian kebenaran menjadi sekadar instrumen pencapaian reputasi.

Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa pembenahan yang serius dari para pemangku kebijakan, khususnya pemerintah, maka yang terancam bukan hanya kualitas pendidikan tinggi, tetapi juga fondasi moral, intelektual, dan karakter bangsa. Pendidikan yang seharusnya membentuk manusia kritis, mandiri, dan berintegritas berisiko bergeser menjadi sistem yang lebih menekankan formalitas, kepatuhan administratif, dan ketergantungan, sehingga melemahkan daya kritis, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kemandirian intelektual. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat melahirkan generasi yang lebih mengejar pengakuan daripada kompetensi, lebih mengutamakan pencitraan daripada substansi, serta lebih memilih jalan pragmatis daripada nilai-nilai etis. Dampaknya tidak hanya dirasakan di dunia akademik, tetapi juga memengaruhi kualitas kepemimpinan, tata kelola kelembagaan, dan kehidupan demokrasi.

Karena itu, integritas harus dipandang sebagai isu strategis yang menentukan masa depan budaya keilmuan, kepercayaan publik, dan kualitas peradaban bangsa. Melemahnya budaya kejujuran bukan sekadar persoalan etika individu, melainkan gejala erosi nilai yang bersifat sistemik. Ketika manipulasi dianggap lumrah dan pencitraan lebih dihargai daripada kompetensi, maka yang dipertaruhkan adalah kredibilitas institusi pendidikan, mutu pengetahuan, dan kepercayaan sosial. Pada akhirnya, integritas bukan hanya persoalan moral, melainkan modal utama pembangunan bangsa. Tanpa kejujuran dan akuntabilitas, kemajuan yang dicapai akan rapuh, kehilangan legitimasi publik, dan sulit bertahan dalam jangka panjang.

2. Netizen Indonesia dan Krisis Etika Digital

Laporan Digital Civility Index (DCI) 2021 menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat kesantunan digital yang rendah. Skor Indonesia mencapai 76 poin, meningkat signifikan dibandingkan 67 poin pada tahun 2019. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, perundungan siber, hingga berbagai bentuk penipuan digital.

Para pengamat menilai bahwa rendahnya etika dalam ruang digital bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Ketidaksantunan di media sosial menunjukkan adanya pergeseran nilai sosial yang lebih luas, termasuk melemahnya budaya kejujuran dalam berbagai institusi formal, termasuk lembaga pendidikan. Ketika ruang publik dipenuhi informasi yang tidak terverifikasi dan komunikasi yang minim etika, maka kualitas literasi dan integritas masyarakat secara keseluruhan ikut terdampak.

3. Jurnal Predator dan Bisnis Publikasi Ilmiah

Krisis integritas tidak hanya terjadi di media sosial. Dunia akademik Indonesia juga menghadapi persoalan serius terkait maraknya praktik publikasi ilmiah yang berorientasi pada keuntungan ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir, publikasi ilmiah yang seharusnya menjadi sarana pengembangan ilmu pengetahuan justru mengalami pergeseran fungsi. Banyak akademisi terjebak dalam praktik publikasi pada jurnal predator, yakni jurnal yang mengabaikan proses penelaahan ilmiah (peer review) yang ketat demi memperoleh keuntungan finansial.

Fenomena ini diperparah oleh munculnya praktik paper mill, yaitu industri yang menyediakan jasa pembuatan artikel ilmiah secara instan, serta praktik jual-beli nama penulis atau kepengarangan akademik. Akibatnya, publikasi tidak lagi sepenuhnya mencerminkan kualitas penelitian, tetapi sering kali ditentukan oleh kemampuan finansial penulis. Sejumlah kajian internasional bahkan menunjukkan bahwa reputasi indeks publikasi bereputasi global juga menghadapi tantangan akibat berbagai bentuk manipulasi sitasi, rekayasa publikasi, dan praktik-praktik yang mengaburkan standar mutu akademik. Saat ini, berbagai kegiatan akademik, seperti kerja sama, seminar, dan aktivitas akademik lainnya, dalam banyak kasus lebih banyak dilaksanakan sebagai kegiatan seremonial. Perhatian sering kali tidak diberikan secara memadai terhadap kualitas proses pelaksanaannya, melainkan lebih berfokus pada dokumentasi kegiatan, publikasi berita, serta penyusunan laporan administratif. Bahkan, dalam beberapa kondisi, aspek publikasi dan dokumentasi dianggap lebih penting dibandingkan substansi pelaksanaan kegiatan itu sendiri. Akibatnya, kualitas kegiatan akademik sering kali tidak menjadi tanggung jawab utama, padahal nilai-nilai pendidikan sejatinya menempatkan kualitas proses dan kebermanfaatan sebagai tujuan utama.

Salah satu persoalan yang banyak mendapat sorotan adalah tingginya biaya publikasi atau Article Processing Charges (APC) yang harus dibayarkan penulis kepada sejumlah jurnal. Dalam praktiknya, biaya publikasi yang semakin mahal sering kali menimbulkan persepsi bahwa proses penerbitan artikel lebih ditentukan oleh kemampuan finansial penulis daripada kualitas substansi penelitian yang dihasilkan. Kondisi ini berpotensi mendorong munculnya berbagai bentuk penyimpangan akademik, termasuk manipulasi data, rekayasa hasil penelitian, hingga praktik yang dikenal sebagai Questionable Research Practices (QRP). Alih-alih menghasilkan temuan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sebagian penelitian justru diarahkan untuk memenuhi target administratif serta tuntutan birokrasi akademik.

4. Menyontek dan Plagiarisme Masih Mengakar

Gambaran mengenai kondisi integritas pendidikan Indonesia semakin terlihat dari hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024 yang menunjukkan bahwa praktik menyontek masih ditemukan pada sebagian besar institusi pendidikan. Data tersebut memperlihatkan bahwa budaya ketidakjujuran akademik belum sepenuhnya teratasi. Praktik plagiarisme, manipulasi tugas akademik, hingga berbagai bentuk pelanggaran etika masih menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan nasional.

Sejumlah akademisi menilai bahwa kondisi tersebut merupakan gejala dari budaya pendidikan yang terlalu menekankan capaian administratif dan kuantitatif dibandingkan proses pembelajaran yang substantif.

5. Budaya “Publish or Perish”

Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai dampak dari budaya publish or perish, yakni tekanan yang mendorong akademisi untuk terus menghasilkan publikasi demi memenuhi syarat kenaikan jabatan, akreditasi, maupun pengakuan institusi.

Dalam sistem yang terlalu berorientasi pada angka, keberhasilan sering kali diukur melalui jumlah artikel, indeks sitasi, dan berbagai indikator kuantitatif lainnya. Akibatnya, kualitas penelitian berpotensi tersisih oleh tuntutan produktivitas. Ketika target yang ditetapkan tidak sebanding dengan dukungan sumber daya penelitian yang tersedia, sebagian akademisi memilih jalan pintas yang berisiko mengorbankan integritas ilmiah.

6. Mengembalikan Martabat Ilmu Pengetahuan

Penguatan budaya integritas menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan Indonesia. Reformasi tidak cukup dilakukan melalui pengetatan regulasi, tetapi juga harus menyentuh perubahan paradigma. Publikasi ilmiah perlu dikembalikan pada tujuan utamanya, yakni menghasilkan pengetahuan yang valid, dapat dipertanggungjawabkan, dan bermanfaat bagi masyarakat. Selama publikasi masih dipandang sebagai target administratif semata, maka berbagai bentuk penyimpangan akan terus menemukan ruang untuk berkembang.

Indonesia membutuhkan transformasi budaya akademik yang menempatkan kejujuran, ketelitian metodologis, dan tanggung jawab ilmiah sebagai fondasi utama. Tanpa upaya tersebut, dunia pendidikan berisiko kehilangan kredibilitasnya sebagai penjaga kebenaran dan penggerak kemajuan bangsa. Krisis integritas yang terjadi hari ini sesungguhnya bukan hanya persoalan kampus atau media sosial. Ia merupakan cerminan kualitas peradaban. Ketika kejujuran mulai diperdagangkan dan ilmu pengetahuan berubah menjadi komoditas, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi akademik, melainkan masa depan bangsa itu sendiri.

7. Distingsi Akademik yang Semakin Kabur

Selain persoalan plagiarisme dan ketidakjujuran akademik, dunia pendidikan tinggi Indonesia juga menghadapi tantangan berupa semakin kaburnya distingsi atau pembeda kualitas lulusan pada jenjang magister dan doktoral. Dalam beberapa tahun terakhir, akses terhadap pendidikan pascasarjana memang semakin terbuka, sebuah perkembangan yang positif dalam perspektif demokratisasi pendidikan. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan kritis mengenai konsistensi standar akademik yang diterapkan dalam proses pendidikan, penelitian, pembimbingan, publikasi, dan penyelesaian tugas akhir.

Sebagian akademisi yang mengalami pendidikan pascasarjana pada periode sebelum 2016 menilai bahwa proses penyusunan tesis dan disertasi pada masa tersebut umumnya menuntut keterlibatan yang lebih intens dalam penelitian lapangan, penguasaan teori, kedalaman analisis, serta proses bimbingan yang relatif ketat. Meskipun penilaian ini tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh perguruan tinggi, fenomena tersebut memunculkan persepsi adanya pergeseran orientasi dari penekanan pada kualitas akademik menuju percepatan penyelesaian studi dan pemenuhan indikator administratif (Altbach, Reisberg, & de Wit, 2017; Marginson, 2016).

Fenomena ini sejalan dengan konsep credential inflation, yaitu kondisi ketika peningkatan jumlah pemegang gelar tidak selalu diikuti oleh peningkatan kualitas kompetensi yang setara (Collins, 1979). Akibatnya, gelar akademik berpotensi kehilangan sebagian fungsi distingtifnya sebagai indikator kapasitas intelektual dan kemampuan riset. Dalam konteks yang lebih luas, kondisi tersebut diperkuat oleh budaya publish or perish, tuntutan akreditasi, target kelulusan tepat waktu, dan berbagai indikator kuantitatif yang sering kali lebih mudah diukur dibandingkan kualitas berpikir kritis, kedalaman analisis, serta integritas ilmiah (Moosa, 2018).

Persoalan utama bukan terletak pada semakin banyaknya lulusan magister dan doktor, melainkan pada kemampuan sistem pendidikan tinggi untuk memastikan bahwa setiap gelar yang diberikan benar-benar merepresentasikan capaian akademik, kompetensi penelitian, dan integritas ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Ketika gelar lebih mudah diperoleh daripada kualitas yang seharusnya menyertainya, maka yang mengalami penurunan bukan hanya nilai sebuah ijazah, melainkan juga kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan tinggi itu sendiri.

 

8. Kesimpulan

Kajian ini menunjukkan bahwa krisis integritas di Indonesia tidak lagi dapat dipahami sebagai persoalan perilaku individu semata, melainkan telah berkembang menjadi persoalan sistemik yang menghubungkan ruang digital, pendidikan tinggi, dan tata kelola pengetahuan. Maraknya hoaks, ketidaksantunan digital, plagiarisme, jurnal predator, paper mill, manipulasi publikasi, budaya publish or perish, hingga kaburnya distingsi akademik menunjukkan adanya pergeseran orientasi dari kejujuran dan kompetensi menuju pencitraan, formalitas, dan pengakuan simbolik. Kajian ini menunjukkan bahwa krisis etika digital dan krisis integritas akademik sesungguhnya merupakan dua manifestasi dari akar persoalan yang sama, yaitu normalisasi ketidakjujuran dalam sistem sosial dan pendidikan. Ketika popularitas lebih dihargai daripada kualitas, sertifikat lebih dihargai daripada kompetensi, dan kuantitas lebih diutamakan daripada substansi, maka pendidikan berisiko kehilangan fungsi utamanya sebagai pembentuk karakter, penghasil pengetahuan yang kredibel, dan penjaga kebenaran ilmiah.

Kondisi pendidikan tinggi saat ini mengindikasikan terjadinya pergeseran fundamental dari culture of achievement (budaya prestasi) menuju culture of appearance (budaya penampilan). Dalam paradigma ini, keberhasilan diukur melalui simbol-simbol prestiseseperti gelar, jumlah publikasi, indeks sitasi, jabatan, dan popularitasalih-alih berdasarkan kualitas pemikiran, integritas, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Dampak dari pergeseran ini bersifat sistemik: integritas akademik, kualitas penelitian, dan kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan mengalami degradasi secara simultan. Oleh karena itu, evaluasi kualitas pendidikan tinggi tidak dapat lagi hanya bertumpu pada indikator kuantitatif seperti jumlah lulusan, peringkat akreditasi, atau posisi dalam daftar pemeringkatan institusi. Sebaliknya, kualitas harus diukur melalui kemampuan institusi dalam menjaga integritas, memproduksi pengetahuan yang valid, serta membentuk karakter individu yang jujur, kritis, mandiri, dan bertanggung jawab.

Secara fundamental, ancaman terbesar bagi pendidikan tinggi bukanlah keterbatasan sumber daya, melainkan hilangnya integritas sebagai fondasi utama ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa. Bangsa tidak akan runtuh karena kekurangan orang pintar; namun, negara berada dalam risiko kehancuran ketika jumlah orang jujur semakin berkurang.Ketika kejujuran menjadi komoditas yang dapat dibeli, publikasi ilmiah menjadi objek transaksi, dan pencitraan lebih dihargai daripada integritas serta kompetensi, maka yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi akademik, melainkan masa depan peradaban Indonesia. Jika fenomena ini dibiarkan berlangsung tanpa kajian dan peninjauan serius, narasi mengenai Indonesia Emas 2045 akan kehilangan relevansi dan sekadar menjadi khayalan. Tanpa transformasi nyata, bangsa ini berisiko melahirkan generasi "Pak Turut" yang bermental subordinat, yang tunduk dan terperbudak oleh orientasi harta serta jabatan semata.



Yogyakarta, Hariantemanggung.com
 - Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menunjukkan komitmen nyata terhadap pembangunan berkelanjutan dengan berpartisipasi dalam Lokakarya UI GreenMetric Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Tahun 2026 yang diselenggarakan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tanggal 28–29 April 2026.

Kegiatan nasional bertema “Integrasi UI GreenMetric dalam Mewujudkan Kampus Hijau Berbasis Ekoteologi” ini menjadi forum strategis bagi perguruan tinggi Islam di Indonesia untuk memperkuat peran akademik dalam menjawab tantangan krisis lingkungan global melalui integrasi ilmu pengetahuan, nilai keislaman, dan praktik keberlanjutan lingkungan.

Forum tersebut diikuti berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam, di antaranya UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dan UIN Antasari Banjarmasin bersama puluhan PTKI lainnya dari seluruh Indonesia, termasuk INISNU Temanggung.

Penandatanganan Komitmen Bersama SDGs GreenMetric

Salah satu agenda utama kegiatan adalah penandatanganan Piagam Komitmen Bersama Implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) melalui inisiatif Green Campus yang diikuti oleh 59 perguruan tinggi peserta, termasuk perwakilan INISNU Temanggung.

Komitmen bersama tersebut menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai:

1. pusat transformasi manusia inklusif dan berkelanjutan, 
2. pelopor pelestarian lingkungan melalui inovasi akademik, 
3. penggerak tata kelola kampus berbasis kemitraan global. 

Isu strategis yang dibahas meliputi pengelolaan infrastruktur berkelanjutan, efisiensi energi, mitigasi perubahan iklim, konservasi air, pengelolaan limbah, transportasi ramah lingkungan, serta penguatan pendidikan dan riset berbasis lingkungan.

INISNU Temanggung Dorong Kampus Berbasis Ekoteologi dan Kearifan Leluhur

Keikutsertaan INISNU Temanggung menjadi langkah penting dalam memperkuat arah kebijakan kampus menuju konsep green campus yang tidak hanya berbasis teknologi lingkungan, tetapi juga berakar pada kesadaran spiritual dan budaya masyarakat Nusantara.

Dalam perspektif ini, gagasan GreenMetric dan ekoteologi sesungguhnya bukan konsep baru bagi bangsa Indonesia. Nilai merawat bumi dan melestarikan alam telah lama hidup dalam warisan leluhur. Di tanah Jawa, misalnya, dikenal amanah budaya Memayu Hayuning Bawana, yaitu panggilan moral manusia untuk memperindah dunia, menjaga keseimbangan kehidupan, serta menghadirkan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Tradisi seperti Nyadran Gunung maupun Nyadran Kali juga menjadi simbol kearifan ekologis masyarakat, sebagai bentuk syukur sekaligus pengingat kolektif bahwa bumi bukan objek eksploitasi, melainkan titipan yang harus dirawat dan dilestarikan bersama. Praktik-praktik budaya tersebut menunjukkan bahwa konsep kampus hijau modern sejatinya merupakan kelanjutan nilai-nilai ekologis yang telah diwariskan oleh leluhur Nusantara.

Delegasi INISNU Temanggung mengikuti rangkaian diskusi akademik, lokakarya kebijakan, serta forum kolaborasi antarperguruan tinggi dalam pengembangan praktik terbaik pengelolaan lingkungan kampus yang berkelanjutan.

Pandangan Dr. Joni, M.Pd.B.I.: Merawat Bumi sebagai Amanah Wahyu dan Budaya

Dalam sesi diskusi tematik mengenai ekoteologi dan pendidikan berkelanjutan, perwakilan INISNU Temanggung, Dr. Joni, M.Pd.B.I., menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan harus berpijak pada kesadaran wahyu sekaligus kebijaksanaan lokal. Menurutnya, krisis lingkungan modern terjadi karena manusia memisahkan ilmu dari nilai dan teknologi dari moralitas.

“GreenMetric dan ekoteologi sejatinya menghidupkan kembali kesadaran lama yang sudah diwariskan leluhur kita. Islam melalui wahyu mengajarkan amanah kekhalifahan, sementara budaya Nusantara mengajarkan bagaimana amanah itu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa tradisi seperti Memayu Hayuning Bawana maupun ritual ekologis masyarakat merupakan bentuk pendidikan lingkungan yang telah berlangsung jauh sebelum konsep sustainability dikenal secara global.

“Ketika wahyu bertemu kearifan lokal, maka kampus tidak hanya membangun gedung hijau, tetapi membangun manusia yang sadar bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah,” tegasnya.

Menuju Kampus sebagai Agen Perubahan Berkelanjutan

Melalui forum UI GreenMetric 2026, diharapkan tercipta kolaborasi lebih luas antarperguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi pengelolaan lingkungan kampus yang berkelanjutan dan inklusif.

Bagi INISNU Temanggung, partisipasi ini menjadi bagian dari langkah strategis menuju kampus yang unggul secara akademik sekaligus memiliki tanggung jawab ekologis dan sosial. Dengan mengintegrasikan ilmu pengetahuan, nilai keislaman, serta kearifan lokal Nusantara, INISNU Temanggung berkomitmen menjadi bagian dari gerakan pendidikan tinggi yang tidak hanya mencerdaskan bangsa, tetapi juga menjaga kelestarian bumi sebagai amanah bersama umat manusia.