Yogyakarta, Hariantemanggung.com
 - Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menunjukkan komitmen nyata terhadap pembangunan berkelanjutan dengan berpartisipasi dalam Lokakarya UI GreenMetric Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Tahun 2026 yang diselenggarakan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tanggal 28–29 April 2026.

Kegiatan nasional bertema “Integrasi UI GreenMetric dalam Mewujudkan Kampus Hijau Berbasis Ekoteologi” ini menjadi forum strategis bagi perguruan tinggi Islam di Indonesia untuk memperkuat peran akademik dalam menjawab tantangan krisis lingkungan global melalui integrasi ilmu pengetahuan, nilai keislaman, dan praktik keberlanjutan lingkungan.

Forum tersebut diikuti berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam, di antaranya UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dan UIN Antasari Banjarmasin bersama puluhan PTKI lainnya dari seluruh Indonesia, termasuk INISNU Temanggung.

Penandatanganan Komitmen Bersama SDGs GreenMetric

Salah satu agenda utama kegiatan adalah penandatanganan Piagam Komitmen Bersama Implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) melalui inisiatif Green Campus yang diikuti oleh 59 perguruan tinggi peserta, termasuk perwakilan INISNU Temanggung.

Komitmen bersama tersebut menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai:

1. pusat transformasi manusia inklusif dan berkelanjutan, 
2. pelopor pelestarian lingkungan melalui inovasi akademik, 
3. penggerak tata kelola kampus berbasis kemitraan global. 

Isu strategis yang dibahas meliputi pengelolaan infrastruktur berkelanjutan, efisiensi energi, mitigasi perubahan iklim, konservasi air, pengelolaan limbah, transportasi ramah lingkungan, serta penguatan pendidikan dan riset berbasis lingkungan.

INISNU Temanggung Dorong Kampus Berbasis Ekoteologi dan Kearifan Leluhur

Keikutsertaan INISNU Temanggung menjadi langkah penting dalam memperkuat arah kebijakan kampus menuju konsep green campus yang tidak hanya berbasis teknologi lingkungan, tetapi juga berakar pada kesadaran spiritual dan budaya masyarakat Nusantara.

Dalam perspektif ini, gagasan GreenMetric dan ekoteologi sesungguhnya bukan konsep baru bagi bangsa Indonesia. Nilai merawat bumi dan melestarikan alam telah lama hidup dalam warisan leluhur. Di tanah Jawa, misalnya, dikenal amanah budaya Memayu Hayuning Bawana, yaitu panggilan moral manusia untuk memperindah dunia, menjaga keseimbangan kehidupan, serta menghadirkan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Tradisi seperti Nyadran Gunung maupun Nyadran Kali juga menjadi simbol kearifan ekologis masyarakat, sebagai bentuk syukur sekaligus pengingat kolektif bahwa bumi bukan objek eksploitasi, melainkan titipan yang harus dirawat dan dilestarikan bersama. Praktik-praktik budaya tersebut menunjukkan bahwa konsep kampus hijau modern sejatinya merupakan kelanjutan nilai-nilai ekologis yang telah diwariskan oleh leluhur Nusantara.

Delegasi INISNU Temanggung mengikuti rangkaian diskusi akademik, lokakarya kebijakan, serta forum kolaborasi antarperguruan tinggi dalam pengembangan praktik terbaik pengelolaan lingkungan kampus yang berkelanjutan.

Pandangan Dr. Joni, M.Pd.B.I.: Merawat Bumi sebagai Amanah Wahyu dan Budaya

Dalam sesi diskusi tematik mengenai ekoteologi dan pendidikan berkelanjutan, perwakilan INISNU Temanggung, Dr. Joni, M.Pd.B.I., menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan harus berpijak pada kesadaran wahyu sekaligus kebijaksanaan lokal. Menurutnya, krisis lingkungan modern terjadi karena manusia memisahkan ilmu dari nilai dan teknologi dari moralitas.

“GreenMetric dan ekoteologi sejatinya menghidupkan kembali kesadaran lama yang sudah diwariskan leluhur kita. Islam melalui wahyu mengajarkan amanah kekhalifahan, sementara budaya Nusantara mengajarkan bagaimana amanah itu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa tradisi seperti Memayu Hayuning Bawana maupun ritual ekologis masyarakat merupakan bentuk pendidikan lingkungan yang telah berlangsung jauh sebelum konsep sustainability dikenal secara global.

“Ketika wahyu bertemu kearifan lokal, maka kampus tidak hanya membangun gedung hijau, tetapi membangun manusia yang sadar bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah,” tegasnya.

Menuju Kampus sebagai Agen Perubahan Berkelanjutan

Melalui forum UI GreenMetric 2026, diharapkan tercipta kolaborasi lebih luas antarperguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi pengelolaan lingkungan kampus yang berkelanjutan dan inklusif.

Bagi INISNU Temanggung, partisipasi ini menjadi bagian dari langkah strategis menuju kampus yang unggul secara akademik sekaligus memiliki tanggung jawab ekologis dan sosial. Dengan mengintegrasikan ilmu pengetahuan, nilai keislaman, serta kearifan lokal Nusantara, INISNU Temanggung berkomitmen menjadi bagian dari gerakan pendidikan tinggi yang tidak hanya mencerdaskan bangsa, tetapi juga menjaga kelestarian bumi sebagai amanah bersama umat manusia.

Bagikan :

Tambahkan Komentar