Articles by "Kuliner"
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan


Oleh : Deby Arum Sari

Di tengah gempuran makanan modern dan kudapan kekinian, sawut tetap hadir sebagai bukti sederhana bahwa rasa nikmat tak selalu datang dari bahan mahal. Sawut, jajanan tradisional khas Temanggung berbahan dasar singkong, adalah camilan rakyat yang lekat dengan keseharian masyarakat pedesaan.


Sawut terbuat dari singkong yang diparut kasar, kemudian dikukus dengan tambahan gula merah dan sedikit garam. Setelah matang, biasanya disajikan dengan taburan kelapa parut. Rasanya manis, lembut, dan mengenyangkan. Makanan ini dulu menjadi pilihan sarapan murah meriah, atau bekal jajan anak-anak sekolah di desa.


Namun sawut bukan sekadar jajanan. Ia adalah simbol ketahanan pangan lokal dan kreativitas dapur ibu-ibu di masa lalu. Di saat beras sulit, singkong menjadi penyelamat. Dan dari tangan-tangan sederhana, lahirlah olahan seperti sawut yang hingga kini masih bertahan di beberapa pasar tradisional.


Sayangnya, camilan seperti sawut mulai terpinggirkan. Generasi muda lebih tertarik pada makanan viral yang tampilannya menggoda di media sosial. Padahal, sawut juga bisa naik kelas—asal dikemas menarik, disajikan secara modern, dan dipromosikan dengan bangga sebagai bagian dari kekayaan kuliner Temanggung.


Mengangkat kembali sawut berarti memberi ruang pada makanan yang tumbuh dari tanah sendiri. Ia bukan hanya soal rasa, tapi tentang menghargai apa yang dimiliki. Jika Temanggung ingin tetap punya identitas kuliner yang kuat, maka sawut adalah salah satu cita rasa yang pantas dilestarikan.

Lebih dari itu, sawut juga menyimpan nilai edukatif. Dalam proses pembuatannya, anak-anak dulu belajar bagaimana memarut singkong, mengukus, hingga menyajikan makanan dengan penuh kesabaran. Ini bukan hanya tentang kuliner, tapi juga tentang warisan pengetahuan lokal yang diturunkan dari generasi ke generasi. Mengajarkan kembali cara membuat sawut kepada anak-anak masa kini bisa menjadi bagian dari pelestarian budaya sekaligus pendidikan karakter yang sederhana namun bermakna.


Oleh : Khansa Aisyatul Nabilla

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan kuliner tradisional. Setiap daerah memiliki makanan khas yang bukan hanya lezat, tetapi juga mengandung nilai budaya, sejarah, dan kearifan lokal. Salah satu makanan tradisional yang mulai jarang dikenal oleh generasi muda adalah pipis kopyor. Makanan ini mungkin tidak sepopuler klepon, nagasari, atau lemper, namun keberadaannya menyimpan cita rasa yang khas sekaligus filosofi sederhana tentang kesederhanaan dan tradisi.


Pipis kopyor merupakan salah satu jajanan pasar tradisional yang berasal dari daerah Jawa Tengah dan DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Nama “pipis” dalam bahasa Jawa merujuk pada makanan basah yang dikukus dan dibungkus dengan daun pisang. Sedangkan kata “kopyor” merujuk pada jenis kelapa muda yang dagingnya tidak utuh, melainkan lembut dan sedikit encer akibat kelainan genetik pada buah kelapa tersebut. Kelapa kopyor justru sangat digemari karena rasanya yang manis alami dan teksturnya yang unik. Gabungan antara adonan tepung yang lembut, santan kelapa yang gurih, dan isian kelapa kopyor menciptakan perpaduan rasa yang khas: manis, gurih, dan harum daun pisang yang menyatu secara alami.


Secara visual, pipis kopyor sekilas mirip dengan nagasari, namun memiliki isian dan rasa yang berbeda. Pipis kopyor biasanya menggunakan campuran tepung beras, tepung tapioka, santan, gula pasir, dan kelapa kopyor parut atau disuwir. Adonan tersebut dibungkus daun pisang membentuk bungkusan segitiga atau pipih, lalu dikukus hingga matang. Proses ini menghasilkan kue yang lembut, harum, dan legit. Tidak jarang, pipis kopyor juga dipadukan dengan aroma vanila atau pandan untuk menambah cita rasa. Karena cara pembuatannya masih mengandalkan teknik tradisional, kue ini menjadi simbol ketelatenan dan kesabaran dalam meracik makanan.


Di masyarakat Jawa, pipis kopyor sering hadir dalam acara-acara penting seperti kenduri, tahlilan, hajatan, atau syukuran keluarga. Makanan ini bukan hanya menjadi sajian pelengkap, melainkan juga simbol rasa syukur dan kebersamaan. Dalam konteks sosial, berbagi makanan seperti pipis kopyor mencerminkan nilai gotong royong, di mana masyarakat saling membantu menyiapkan sajian dalam sebuah acara. Pipis kopyor, seperti makanan tradisional lainnya, tidak diproduksi secara massal di pabrik, tetapi dibuat langsung oleh tangan-tangan ibu rumah tangga yang sudah mewarisi resepnya secara turun-temurun.


Namun, sayangnya, popularitas pipis kopyor kini mulai meredup. Di era serba cepat dan digital seperti sekarang, makanan tradisional perlahan tergeser oleh camilan modern yang lebih praktis dan menarik secara tampilan. Camilan instan, makanan beku, dan makanan viral di media sosial menjadi primadona di kalangan anak muda. Pipis kopyor yang sederhana, tidak berwarna mencolok, dan tidak bisa dikirim lewat aplikasi daring, kian tersisih dari pusat perhatian. Bahkan, tidak sedikit generasi muda yang tidak tahu apa itu pipis kopyor, bagaimana rasanya, atau bagaimana cara membuatnya. Ini menjadi tantangan besar dalam upaya pelestarian kuliner lokal yang mulai kehilangan tempat di negeri sendiri.


Padahal, pipis kopyor bukan hanya makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya. Nilai-nilai yang terkandung dalam proses pembuatan pipis kopyor, seperti kesabaran, ketelitian, dan cinta terhadap alam, perlu terus diwariskan. Daun pisang sebagai pembungkus alami mencerminkan keselarasan manusia dengan lingkungan. Tidak menggunakan plastik atau bahan kimia, pipis kopyor mengajarkan prinsip keberlanjutan jauh sebelum isu lingkungan menjadi tren global. Bahkan dari segi kesehatan, makanan tradisional seperti pipis kopyor cenderung lebih aman dan minim bahan tambahan dibandingkan camilan kekinian yang banyak mengandung pengawet dan pemanis buatan.


Untuk menjaga keberlangsungan pipis kopyor dan makanan tradisional sejenis, diperlukan langkah konkret dari berbagai pihak. Sekolah-sekolah dapat mulai mengenalkan makanan ini dalam pelajaran prakarya atau muatan lokal. Pemerintah daerah dapat mengangkat pipis kopyor dalam festival kuliner, lomba memasak, atau pameran budaya. Para pelaku UMKM juga bisa mengemas ulang pipis kopyor dengan sentuhan modern agar menarik di pasar yang lebih luas. Bahkan, anak-anak muda kreatif bisa membuat konten edukatif tentang cara membuat pipis kopyor di media sosial sebagai bentuk promosi budaya. Pelestarian tidak harus selalu formal—dengan kreativitas, makanan tradisional bisa tetap hidup di tengah zaman yang berubah.


Pipis kopyor adalah contoh nyata bagaimana makanan sederhana bisa menjadi simbol budaya yang kuat. Ia tidak sekadar mengisi perut, tapi juga mengisi ruang-ruang kenangan dan identitas bangsa. Ketika kita memakan pipis kopyor, kita sedang mencicipi rasa masa lalu rasa yang dibungkus daun pisang, dimasak dengan sabar, dan dihidangkan dengan cinta. Menjaga pipis kopyor tetap hidup bukan hanya tentang mempertahankan makanan, tetapi juga tentang menjaga cerita, tradisi, dan kearifan lokal yang semakin langka. (Foto: Suara Merdeka).


Oleh: Khansa Aisyatul Nabilla

Di tengah derasnya arus globalisasi dan menjamurnya minuman modern seperti boba, kopi susu, dan berbagai jenis minuman kekinian lainnya, Indonesia tetap memiliki kekayaan kuliner tradisional yang tak lekang oleh waktu. Salah satu minuman tradisional yang masih bertahan dan digemari adalah es dawet. Minuman ini bukan hanya menyegarkan, tetapi juga menyimpan nilai historis dan budaya yang sangat kental. Es dawet telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa sejak zaman dahulu, dan hingga kini masih mudah dijumpai di pasar tradisional, warung kaki lima, hingga acara-acara pernikahan adat.


Secara umum, es dawet terdiri dari empat komponen utama, yaitu dawet (atau sering disebut cendol), santan, gula merah cair, dan es batu. Dawet dibuat dari tepung beras atau tepung hunkwe yang dimasak hingga kenyal, kemudian dicetak memanjang dengan bantuan cetakan berlubang. Warna hijau dawet berasal dari air daun pandan atau daun suji, yang juga memberikan aroma harum alami. Kemudian, santan yang digunakan biasanya santan kental dari kelapa parut segar yang dimasak terlebih dahulu agar tidak cepat basi. Gula merah cair dimasak bersama sedikit garam dan daun pandan untuk menambah rasa manis yang khas dan legit. Ketika semuanya dicampur dalam satu gelas dan ditambahkan es batu, maka hadirlah segelas es dawet yang menyegarkan, gurih, dan manis.


Minuman ini memiliki banyak sebutan di berbagai daerah. Di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur dikenal sebagai “es dawet”, sedangkan di wilayah Sunda (Jawa Barat) lebih dikenal dengan nama “es cendol”. Meski namanya berbeda, bahan dan penyajiannya relatif sama. Salah satu versi es dawet yang terkenal berasal dari Banjarnegara, dikenal dengan nama Es Dawet Ayu. Minuman ini menjadi ikon kuliner daerah tersebut dan bahkan telah dikenal luas hingga ke mancanegara. Perbedaan es dawet dari masing-masing daerah terletak pada bahan pelengkap, bentuk dawet, atau tingkat kekentalan kuah santannya.


Es dawet bukan hanya sekadar minuman biasa, tetapi juga memiliki makna budaya yang dalam. Dalam tradisi pernikahan adat Jawa, ada prosesi yang dikenal sebagai "dawet manten", yaitu ritual penjualan dawet oleh kedua orang tua pengantin. Ritual ini melambangkan harapan agar pengantin mendapatkan rezeki yang lancar dan kehidupan rumah tangga yang manis serta harmonis. Hal ini menunjukkan bahwa es dawet telah lama menjadi bagian dari nilai simbolik masyarakat Jawa yang sarat filosofi.


Seiring dengan perkembangan zaman, es dawet mengalami banyak inovasi. Jika dahulu dijual dengan cara dipikul atau menggunakan gerobak sederhana, kini es dawet hadir dalam bentuk kemasan modern dan dijual di kafe atau toko minuman. Banyak juga yang menambahkan topping kekinian seperti tape ketan, nangka, cincau, bahkan es krim vanila agar tampil lebih menarik bagi generasi muda. Di media sosial, tidak sedikit konten kreator kuliner yang memperkenalkan es dawet dalam konten mereka dengan gaya visual yang lebih menarik dan modern. Hal ini secara tidak langsung membantu memperluas jangkauan es dawet dan menarik perhatian pasar yang lebih luas, termasuk anak-anak muda.


Selain menyegarkan, es dawet juga bisa menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Bahan-bahan untuk membuatnya mudah didapat dan relatif murah. Proses pembuatannya juga tidak terlalu rumit, sehingga siapa pun bisa mencoba membuat dan menjualnya. Banyak pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) yang mulai memasarkan es dawet dalam kemasan botol plastik higienis dengan label menarik. Melalui pemasaran digital dan media sosial, es dawet kini bisa menjangkau konsumen yang lebih luas, bahkan hingga luar negeri melalui produk ekspor kuliner.


Dalam konteks pelestarian budaya, es dawet adalah contoh nyata bagaimana warisan kuliner tradisional bisa tetap eksis jika terus dikembangkan tanpa meninggalkan keasliannya. Perpaduan antara rasa, tampilan, dan nilai budaya membuat es dawet lebih dari sekadar minuman — ia adalah identitas kuliner Nusantara yang membanggakan. Oleh karena itu, sebagai generasi muda, sudah sepatutnya kita turut menjaga dan mempromosikan minuman tradisional ini agar tidak tergeser oleh tren semata. (Sumber foto: Haluan.co).

Hariantemanggung.com - Perhelatan Pekan Olah raga dan Seni Maarif (Porsema) Jawa Tengah yang diselenggarakan di Temanggung diwarnai dukungan dari semua pihak dari mulai kedinasan maupun pihak swasta. Hal ini ditandai dengan diselenggarakannya Pesta Kuliner dan Bazar Porsema yang digelar selama Porsema yaitu tanggal 24 sampai dengan 27 Juni 2019.

Ditemui disela sela kesibukannya, Mukhtar Hadi selaku Koordinator / Ketua Pesta Kuliner dan Bazar di pendopo pengayoman mengatakan ada 40 an jenis  makanan dan minuman dari mulai Makanan Khas Temanggung sampai olahan makanan,  minuman, baik tradisional maupun modern.
"Ya dalam rangka memeriahkan Porsema ini kami mengerahkan jaringan media dan bisnis,  baik kuliner maupun Soufenir untuk berpartisipasi dalam Pesta Kuliner Porsema ini", ungkapnya.

Kegiatan ini menggelitik para official, peserta, bahkan pecinta kuliner untuk menghadiri silih berganti mendatangi lokasi tersebut hingga malam hari. Ditemui salah satu crew Pesta kuliner tentang peserta dan kendala penyelenggaraan acara tersebut, Hamam mengatakan, ada kendala di kurangnya daya kelistrikan dan pengaturan stand karena lokasinya cukup sempit, namun kendala tersebut bisa teratasi dengan  koordinasi semua pihak yang ada.

"Gandem mas baiknya acara seperti ini sering sering diadakan di Temanggung, Sego jagung, Brongkos, empis empis, Gurita bakarnya, dan Kopi Temanggungnya bikin ketagihan", ungkap salah satu pengunjung yang sedang menikmati makanan di lokasi kegiatan sambil nonton lomba Karaoke Porsema Jateng di Pendopo Pengayoman Temanggung. (Htm55/Hamam).
Kaloran, Hariantemanggung.com- Masyarakat Temanggung  gempar dengan diadakannya Bazar pasar Ramadhan. Kegiatan ini berlangsung di Desa Keblukan, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung.

Lebih dari 15 stand berdiri di sepanjang jalan dusun keblukan. Para pedagang kebanyakan berjualan menu untuk buka puasa namun ada sebagian para pedagang berjualan busana muslim, pakaian anak-anak, craft/kerajinan, hingga buah-buahan juga tersedia di berbagai stand.

Acara ini resmi dibuka tanggal 8 Mei 2019, event yang di gerakan pemuda dan pemudi karang taruna Wijaya kusuma tersebut mengusung tema  "Semarak Berkah Ramadhan". Pembukaan Kampoeng Ramadhan juga dimeriahkan oleh kesenian tradisional Angklung dari Kranggan, Temanggung.

  Menurut Parwanto selaku Ketua Karang Taruna "Kampung Ramadan ini adalah acara pemuda karang taruna Wijaya Kusuma Dusun Keblukan yang pertama kali. Kegiatan ini bertujuan untuk menyemarakkan bulan Ramadan serta membangun jiwa wirausaha masyarakat sekitar. ''

Ia juga berharap jika kampung ramadan  sukses mungkin setiap tahun akan terus diadakan acara seperti ini. event ini juga berguna bagi pemuda dusun Keblukan,  selain mendapat pemasukan kas dari para pedagang acara ini juga mempererat pemuda pemudi Karang Taruna.

Di sela sela waktu menunggu waktu berbuka puasa juga di adakan beberapa acara seperti, akustik, stand up, puisi islami, pildacil, mewarnai,  hingga karaoke lagu islami. Untuk peserta kebanyakan berasal dari tpq di sekitar Temanggung namun sebenarnya acara ini di buka untuk umum dan tanpa biaya pendaftaran. (Arfan Isroi ES 2/htm44).
Suasana Lomba Kuliner Nusantara di perhelatan Pergamanas 2019 di Buperta, Cibubur, Jakarta Timur.
Cibubur, Hariantemanggung.com - Dalam perlombaan Kuliner Nusantara Pergamanas II tahun 2019, kontingan Sakoma NU Jawa Tengah yang diwakili kontingen Sakoma NU Temanggung berhasil menjadi Juara II tingkat nasional.

"Alhamdulillah, Lomba Kuliner Nusantara sudah diumumkan Panitia Pergamanas II tahun 2019. Juara kuliner pertama dari Bandung, kedua Temanggung dan ketiga Surabaya," kata Ahmad Muzammil Bendaraha LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah, dalam siaran pers yang diterima redaksi Hariantemanggung.com pada Sabtu (23/2/2019).

Sedangkan Juara Harapan, yaitu Harapan Jepara, Harapan II Kendal dan Harapan III Maluku Utara.

"Kami dari Sakoma NU Jateng bersyukur karena perwakilan Jateng diwakili tiga daerah dalam lomba tingkat nasional ini," kata pria asal Demak tersebut.

Pihaknya juga menambahkan, Sakoma NU Jateng menggelar lomba kuliner sendiri untuk semua perwakilan kabupaten dan kota se Jateng.

Pihaknya juga berharap, Sakoma NU Jateng akan Juara Umum pada pengumuman yang dilakukan nanti malam atau besuk Ahad 24 Februari 2019 besuk. (Htm33/Ibda).
GudegNet

Oleh Musthofa Luthfi
Mahasiswa Prodi  PAI I B Jurusan Tarbiyah STAINU Temanggung
Disusun untuk memenuhi tugas Filsafat Umum yang diampu dosen Hamidullah Ibda, M.Pd.

Clorot
Clorot merupakan makanan khas Purworejo, tepatnya dari Kecamatan Grabag. Namun, ada juga yang mengklaim ini berasal dari daerah Lasem, Rembang, tetapi dengan nama yang berbeda, yaitu Dumbeg. Clorot terbuat dari adonan tepung beras dan gula merah yang dikukus. Rasanya manis dan kenyal. Terlihat dari bungkusnya (dari janur/daun kelapa muda) kalau cara membuat Clorot terkesan sulit (memang sulit). “Bungkus” dari Clorot disebut “klongkongan”, yang dibuat melingkar, berulin, dan memanjang. Kemudian tengahnya diisi dengan adonan tepung beras dan gula merah. Cara memakan panganan ini juga cukup uni, yaitu dengan menekan bagian pangkalnya dengan menggunakan jari, kemudian setelah isinya keluar, baru bisa dimakan. Dulu pas aku kecil, pernah dibuatkan mainan dari janur, dengan bentuk fisik seperti klongkongan Clorot kalau dipanjangkan. Jadi janur diulin memutar, kemudian cara memainkannya si janur tersebut “di-clorot” sehingga bisa keluar memanjang. Mungkin seperti itu mengapa namanya ClorotBahan Adonan Santan Clorot:
250ml santan kental dari ½ butir kelapa
1½ sendok makan tepung beras
½ sendok teh garam
Resep Bahan Adonan Tepung Clorot:
850ml santan dari 1butir kelapa
250gr gula merah
250gr tepung  beras
2 lembar daun pandan, sobek-sobek, buat simpul
garam sesuai selera
Pembungkus Clorot:
Daun kelapa muda (janur kuning)
Cara membuat Clorot:
Adonan santan : campur rata semua bahan, sisihkan. Siapkan janur yang dibentuk miri kerucut, ujung bawah harus kecil dan rapat, semat bagian atasnnya dengan cara memasukkan ujung  daun ke dalam lipatan  lingkaran daun kelapa paling atas, supaya tidak lepas.
Adonan tepung : dengan api kecil didihkan santan, gula merah, garam, dan daun pandan. Tuang tepung beras sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai adonan menjadi licin , angkat, saring bila perlu.
Tuang adonan tepung beras ke dalam kerucut kurang lebih ¾ bagian.
Tegakkan kerucut dan kukus kurang lebih 15 menit sampai adonan mengeras.
Tuangkan adonan santan,kukus kembali kurang lebih15 menit sampai seluruhnya matang.
Angkat dan sajikan.


Ilustrasi foto: Resep Hari Ini

Oleh Isna Nurul
Mahasiswi Kelas PAI 1 B STAINU Temanggung
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Umum yang diampu Hamidulloh Ibda

Narasumber : Ibu Nur Wachidah
Alamat            : Jampirejo Timur , Temanggung

ONDE-ONDE
Apa itu onde-onde?
0nde-onde adalah sejenis kue jajanan pasar yang popular di Indonesia. Onde-onde dapat ditemukan di pasar tradisional Temanggung maupun dijual di pedagang kaki lima. Kue ini bukan asli Indonesia, kue ini berasal dari luar negeri. Di Indonesia sendiri onde-onde berbentuk bulat, berwarna coklat dan berlapis wijen.

Di dalamnya terdapat kacang hijau atau ketan hitam. Sedangkan di Padang onde-onde disajikan dalam bentuk bulat, berwarna hijau, kenyal, ditaburi kelapa, dan di dalamnya ada gula merah cair. Kenapa bisa disebut onde-onde? Karena nama itu sudah turun-temurun dari jaman dahulu.

Untuk apa onde-onde dibuat?
Onde-onde dibuat jelas untuk dimakan, bisa buat mengganjal perut ketika lapar.

Bagaimana cara pembuatan onde-onde?
Cara membuat onde-onde:
Membuat isiannya terlebih dahulu. Kacang hijau yang telah direndam dicuci bersih, lalu ditiriskan. Kukus hingga lunak sama daun pandan.
Campurkan kacang hijau kupas dengan gula, garam, dan santan. Blender hingga halus kemudian masakdengan api kecil hingga adonan mengental dan bisa dipulung. Angkat dan dinginkan.
Bentuk adonan isi bulat-bulat seperti kelereng.
Membuat adonan kulitnya. Rebussantan hingga mendidih bersama daun pandan.
Campurkan tepung, gula, garam dan vanili dalam satu wadah, kemudian beri santan sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga kalis.
Ambil adonan,lalu bentuk bulat dan pipihkan. Beri satu adonan isi, tutu lalu bulatkan.
Gulingkan dalam wijen sambil ditekan-tekan agar tidak mudah lepas saat digoreng.
Goreng dalam minyak panas hingga terendam dengan menggunakan api sedang agar kulit onde-onde tidak pecah.
Bila onde-onde sudah warna keemasan angkat dan tiriskan.    


Oleh Zaenal Arifin
Mahasiswa Kelas PAI 1 A STAINU Temanggung, Jawa Tengah
Disusun untuk memenuhi Mata Kuliah Filsafat Umum yang diampu Hamidulloh Ibda
Materi : Ontologi, Epistemologi, Aksiologi

Objek yang akan dibahas adalah
Ontologi
Apa itu onde-onde ketawa
Onde-onde adalah sejenis jajanan pasar yang populer di Indonesia. Kue ini sangat terkenal di Mojokerto. Di Indonesia sendiri onde-onde berbentuk bulat, berwarna cokelat dan berlapis wijen. Di dalamnya berisi kacang hijau atau ketan hitam. Sedangkan onde-onde ketawa tidak berbentuk bulat. Makanan ini cenderung tidak beraturan karena mengembang atau merekah seakan-akan tertawa. Makanan ini juga berwarna cokelat dan berlapis wijen. Hanya saja tidak berisi sama sekali.

Sejarah onde-onde
Sejarah onde-onde ini dulunya berasal dari tiongkok saat dinasti tang. Di mana makanan ini menjadi kue resmi daerah Xian. Makanan ini kemudian dibawa oleh pendatang sana menuju Asia hingga berkembang luas sampai di Indonesia.

Bahan-bahan membuat onde-onde ketawa
500 gram tepung terigu protein rendah
1 sdt baking powder double acting ( BPDA )
½ soda kue
150 gram gula pasir
50 gram margarine
4 butir telur
1 sdt vanili powder
100 gram wijen putih
Air secukupnya
Minyak secukupnya


Epistemologi
Cara membuat onde-onde ketawa
Aduk rata terigu, baking powder dan soda kue sisihkan
Kocok margarine dan gula pasir sampai gula larut. Kemudian masukkan telur sambil terus dikocok sampai agak berbusa. Tambahkan vanili powder, setelah tercampur matikan mikser.
Masukkan adonan tepung tadi ke dalam adonan telur, campur jadi satu sampai adonan bisa dipulung dan dibentuk. Bentuk adonan menjadi bulatan sebesar bola ping pong atau sesuai selera.
Setelah sudah berbentuk bulat, lumuri dengan sedikit air kemudian gulingkan pada wijen putih. Setelah itu goreng dengan minyak yang cukup banyak sampai matang dan merekah. Gunakan api kecil saja supaya tidak gosong.

Cara melestarikan
Dengan sesekali membuat onde-onde tersebut , seperti saat hari raya
Lebih memilih mengonsumsi makanan tradisional daripada makanan modern.
Cara mendapatkan
Makanan ini biasanya dapat ditemukan di pasar tradisional maupun pedagang kaki lima
Aksiologi
Fungsi makanan onde-onde
Untuk acara-acara tertentu seperti hari raya
Bisa juga untuk menyajikan tamu
Untuk cemilan di waktu luang


Oleh M. Fadhli
Mahasiswi PAI IB STAINU Temanggung, Jawa Tengah
Tugas ini untuk memenuhi mata kuliah Filsafat Umum yang diampu Hamidulloh Ibda

Apa itu cap cay?
Cap cay merupakan makanan dari adonan tepung terigu yang dicampur rata dengan telur dan air, kemudian digoreng. Setelah matang adonan tersebut dipotong kecil-kecil dan digoreng lagi dengan bumbu (bawang putih, kemiri, dan lada) bersamaan dengan aneka sayuran (lobis, bayam, wortel, dll.).
Sumber: Simbah Sukarti

Bagaimana sejarah penamaan cap cay?
Kata “Cap Cay” sesungguhnya bukan berarti “10 sayuran” tetapi “campuran sayuran” atau “mixed vegetables” dalam bahasa Inggris. Cap Cay sebenarnya disebut “Cah Chai” atau Za Cai, sedangkan sepuluh sayuran dalam bahasa Mandarin disebut “Se Chai”. Tapi karena keturunan Tiong Hoa di Indonesia kebanyakan dari Propinsi Hokkian atau suku Minnan dan Kabupaten Tio, atau setidak-tidaknya kedua dialek tersebut yang lebih popular di masyarakat terutama Hokkian.

Untuk apa makanan cap cay?
Cap cay digunakan sebagai makanan yang sehat dan bergizi, dengan cara pembuatan yang mudah cap cay cocok untuk makanan sehari-hari terutama sebagai pelengkap nasi.

Oleh Yumna Furoiah
Mahasiswi Prodi PGMI STAINU Temanggung
Tulisan ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Umum yang diampu Hamidulloh Ibda


Saat kita berkunjung ke suatu tempat, pastinya yang kita cari adalah makanan khasnya dari daerah tersebut. Salah satunya kue Nopia/Endog Bulus/Mak Copo/Bokong Cino.


Dan setiap daerah pasti memiliki makanan khasnya dengan nama yang berbeda-beda dalam penyebutannya. Berlaku juga untuk makanan yang satu ini, makanan tersebut sering dipanggil orang daerah Temanggung dengan sebutan mak copo, atau bokong cino. Sedangkan  Saat anda berkunjung ke Magelang orang sering menyebutnya endog bulus, yang dalam bahasa Indonesia sendiri berarti telur kura - kura, mungkin dikarena bentuk dan ukurannya menyerupai telur kura – kura.

Berbeda lagi, saat anda berada di Banyumas, makanan ini lebih di kenal dengan nama nopia, yaitu merupakan sejenis kue dengan bagian kulit yang kering dengan isian. Menurut Dharmawan (2010). Nopia mulai diproduksi pada tahun 1880 oleh etnik Tionghoa yang tinggal di Banyumas,. Nopia memiliki ukuran yang cukup besar, hampir sebesar kepalan tangan. sedangkan kalau yang endog bulus ini merupakan pengembangan produk nopia dan diberi nama mino, yang berarti mini nopia.

Endog bulus ini terdiri atas kulit dan isian. Kulit dibuat dengan cara mencampur tepung terigu dengan air lalu diaduk - aduk sampai menjadi adonan. Adonan itu dijadikan bulatan kecil-kecil sebesar ibu jari tangan. Bulatan dipipihkan dengan tangan, di tengahnya diisi gula yang sudah dihancurkan, lalu dibulatkan lagi, bulatan - bulatan tersebut kemudian di panggang.

Ada yang unik dari pembuatan endog bulus ini, yaitu cara pemanggannya yang menggunakan gentong, jadi tidak dipanggang menggunakan oven. Gentong ini bentuknya mirip kayak mangkuk, diletakan di lantai dengan posisi terbalik, bagian atasnya berlubang berlapis tanah dan sekelilingnya ditutup anyaman bambu.

Pemanggangannyapun dengan kayu bakar yang dibakar di dalam gentong. Setelah apinya mati, abu dan bara dikeluarkan, jadi di panggang tanpa api, hanya di di tempelkan pada gentong yang masih panas. Adonan endog bulus ditempelkan ke dinding bagian dalam gentong yang panas (bersuhu sekitar 90oC), dipanggang selama kurang lebih 30 menit sampai matang, akan tetapi jangan terlalu lama dalam manggang adonannya karena dapat meletus jika memanggangnya terlalu lama.



Oleh Zakiyatul Mukaromah
Mahasiswi Kelas  PAI/1/B STAINU Temanggung
Disusun untuk memenuhi Tugas Matakuliah Filsafat Umum yang diampu Hamidulloh Ibda

Narasumber     : Ibu Sani (55 tahun)
Pekerjaan         : Ibu Rumah Tangga
Alamat             : Rt09 Rw 01 Mandang Sucen Gemawang Temanggung

Mahasiswa      : “Assalamualikum ibu, selamat siang, perkenalkan saya Zakiyatul Mukaromah saya mahasiswi STAINU Temanggung. Bisa minta waktunya sebentar bu?”
Ibu Sani           : “Waalaikumsalam, selamat siang. Oh iya . boleh silahkan duduk”

Mahasiswa      : “jadi begini bu untuk memenuhi tugas perkuliahan saya ingin meminta bantuan ibu untuk menceritakan asal usul juga makna dari suatu makanan daerah . apakah ibu tau SRENGKULUN? Bisa ibu ceritakan arti dari srengkulun sendiri dan apa keistimewaan dari makanan daerah ini ?”
Ibu Sani           : “ oh srengkulun. Sejauh yang saya tau Srengkulun itu awalnya berasal dari kata Sarengkulun  yang kepanjanganya adalah SARENG KULONUWUN dalam bahasa jawa. Dalam bahasa Indonesia sendiri artinya bersama-sama mengucapkan salam atau permisi. 

Srengkulun biasa dihidangkan dalam acara hajatan dan lainya. Pada zaman dahulu srengkulun merupakan makanan favorit disaat hajatan karna rasanya yang manis. Makanan ini merupakan makanan turun menurun dari nenek moyang. Disamping rasanya yang manis proses pembuatanya juga sangat mudah. Bahan-bahan yang digunakan juga gampang dicari. Hanya tepung beras kelapa dan gula pasir. Pertama capurkan tepung beras dengan parutan kelapa hingga merata. Kemudian capurkan gula pasir hingga merata. Setelah itu beri pewarna makanan. Jika sudah tercampur marata maka kukus dan tunggu hingga matang. Mudah bukan?

Mahasiswa      : “hmm cukup mudah ya. “
Ibu Sani           : “ Memang sangat mudah. Hinga sekarang untuk menghemat beberapa orang mengganti tepung beras dengan singkong. “
Mahasiswa      : “ terimakasih bu… jawaban ibu sangat membantu saya. Kalau begitu saya permisi bu. Terimakasih dan selamat siang . wassalamualaikum “
Ibu Sani           : “ sama-sama. Wassalamualikum “

Oleh Diyah Ayu Mukaromah
Mahasiswi  STAINU Temanggung
Tulisan ini disusun untuk memenuhi tugas Makul Filsafat Umum yang diampu Hamidulloh Ibda


Sejarah Cenil
Cenil adalah makanan tradisional dari Jawa Timur. Cenil dijadikan makanan alternatif oleh masyarakat, karena pada saat itu terjadi kelangkaan bahan baku beras sehingga masyarakat berinisiatif untuk mengolah sagu menjadi sebuah makanan yang disebut cenil yang artinya “centil” karena makanan itu berwarna-warni sehingga menarik para penggila makanan ini.

Filosofi Cenil
Cenil mempunyai tekstur yang lengket dan sulit untuk dipisahkan. Hal ini erupakan bukti bahwa orang jawa memiliki sifat persaudaraan yang erat dan sukit untuk memecah belah tali persaudaraan. Cenl dimakan dengan menggunakan pincuk yang merupakan singkatan dari pinten-pinten cukup (bersyukur).

Alasan Mengapa Cenil Masih Tetap Eksis
Cenil merupakan makanan tradisional yang saat ini sulit ditemukan. Di dalam satu pasar hanya ada satu penjual cenil.  Mungkin hal ini disebabkan karena adanya globalisasi. Apalagi anak muda jaman now yang menutamakan gengsinya. Mereka enggan menyentuh apalagi memakan makanan-makanan tradisional seperti cenil ini. Tapi tidak sedikit orang yang masih tetap menyukai cenil,  karena memiliki cita rasa yang manis, kenyal, legit yang merupakan perpaduan dari setiap bahan-bahannya dan tampilan yang warna-warni yang menarik pembeli.

Cara Mempromosikan Cenil
Makanan tradisional ini bisa dijual di pasar. Jika di tempat saya cenil biasa dijadikan suguhan pada acara-acara seperti PKK, rapat karang taruna, acara maulid Nabi SAW dll. Cenil pada saat ini tidak hanya dibuat dari tepung kanji, melainkan sudah dicampur dengan nanas dan mi putih.
Cara Membuat Cenil
Bahan-bahan:
Tepung kanji/ tepung tapioka
Pewarna makanan
Kelapa parut
Gula pasir
Air
Mi putih
Garam
Cara pembuatan:
Ambil sesendok tepung kanji, kemudian campur di 2 air dingin kemudian tuangkan pada air hangat.
Ambil dari kompor lalau diaduk-aduk sampai kental
Masukkan tepung yang sudah kental tersebut kamudian aduk sampai bisa dibentuk-bentuk
Bagi adonan menjadi 3 bagian, lalau campurkan pewarna makanan
Kemudian adonan-adonan tersebut dimasak (menanak) di dalam air mendidih
Setelah adonan tersebut mengambang, adonan tersebut diangkat.
Campurkan parutan kelapa muda, taruh diatas daun pisasng lalau taburi dengan gula pasir halus
Cenil siap disajikan

Narasumber: Ibu Sutarni, Dusun Kerten, Krincing, Secang, Magelang

Oleh Nurul Hidayah
Mahasiswi PAI 1B STAINU Temanggung
Tulisan ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Umum yang diampu Hamidulloh Ibda.

Toklo merupakan salah satu makanan dari singkong yang masih ada sampai saat ini. Selain enak, cara membuat nya pun cukup praktis dan mudah. Bahan dasarnya pun mudah sekali untuk didapatkan, khususnya di daerah pedesaan. Karena memang pada dasarnya, Toklo merupakan makanan yang berasal dari pedesaan dan sering dikatakan makanannya orang desa atau bisa disebut “wong ndeso” . Namun untuk saat ini Toklo tidak hanya dikonsumsi masyarakat pedesaan saja, tetapi orang kota pun banyak yang suka.

Baca: Daftar Wisata Temanggung yang Paling Ngehits

Sejarah dari nama Toklo sendiri sangat sederhana, yakni konon katanya pada jaman dahulu, pendidikan di Indonesia masih sangat minim, khususnya di daerah pedesaan. Bukan hanya pendidikan formal masih sangat sedikit tetapi juga pendidikan agama, dikarenakan memang dalam tempat atau madrasahnya pun belum terfasilitasi, minat belajar dari masyarakat saat itu masih sangat sedikit, sehingga dari pelaku pendidikan baik guru maupun  murid jarang. Masarakat pada masa itu, kerap menjadikan singkong sebagai makanan pokok.

Entah diolah dengan cara dikukus, digoreng, dibakar, atau cara yang lain. Karena singkong memang cocok dan dapat dimasak dengan berbagai cara. Seperti makanan yang satu ini, yakni Toklo. Yaitu singkong yang diparut, kemudian diperas airnya, lalu di bentuk bulatan seperti bola, kemudian di  dalamnya diberi gula aren, lalu digoreng  hingga menunjukkan warna kecoklatan.

Jika dikaitkan dengan cerita diatas mengenai kondisi pendidikan pada zaman dulu dengan cara membuat Toklo  terkesan tidak nyambung, namun makna dari nama Toklo sendiri adalah “Bodho” atau dalam artian bahasa Indonesia adalah bodoh.  Jadi, dapat dimaknai disini, Toklo adalah makanan masyarakat yang bodoh (masyarakat pada saat itu).


Ilustrasi http://Vemale.com

Oleh Rofi Hiznul Farhamni
Mahasiswa Kelas PAI IA STAINU Temanggung. Tulisan ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Filsafat Umum yang diampu Hamidulloh Ibda

Apa itu wajik ?
Wajik adalah makanan / kue yang dibuat dari campuran beras ketan, gula  Jawa / pasir yang dicampur parutan kelapa / santan kelapa kemudian dipotong-potong seperti segi empat / kotak-kotak. Asal kata / nama wajik sendiri biasa dikaitkan dengan kartu wajik, karna mungkin bentuknya yang seperti wajik (kotak).

Wajik sendiri ternyata termasuk dalam kategori makanan / camilan zaman majapahit. Hal ini tertulis dalam kitab nawaruci; Kitab Nawaruci merupakan karya sastra yang berbahasa Jawa Tengah yaitu bahasa yang muncul pada jaman kejayaan Majapahit. Kitab Nawaruci atau Sang Hyang Tattawajnana ditulis antara tahun 1500-1619 Masehi oleh Empu Siwamurti.

Kitab Nawaruci ini merupakan karya sastra religius yang terpengaruh ajaran mistik Hindu. Lahirnya Kitab Nawaruci itu bersamaan dengan masa penyebaran dan perkembangan agama Islam di kalangan masyarakat Jawa.

Kue wajik memiliki cita rasa manis. Rasa manis tersebut sering pula di tambahkan dengan aroma lain seperti rasa pandan dan panili sedangkan rasa makanan ini ada yang memiliki rasa asli yaitu rasa gula merah dan rasa durian. Kue wajik memiliki tekstur seperti beras yang belum matang tetapi apabila dimakan akan terasa lunak dan mudah digigit.

Lalu, bagaimana cara membuat / memperolehnya ?
Mungkin tak asing lagi bagi kita, mendengar kata wajik khususnya di Jawa tengah, wajik bisa diperoleh / dibeli di pasar tradisional, kalau saya sendiri mendapatkannya di pasar legi parakan lantai 2, tepatnya di bersebelahan dengan penjual bunga-bunga / pedagang ayam potong yang ada di sana, atau kalau agak kebingungan di sana cuman ada 1 penjual kue wajik, untuk namanya saya agak lupa, tapi ada tulisannya, orang biasa menyebut sebagai seorang bakul / penjual “juadah pasar”.

Kalau kalian kesulitan wajik / jenang biasa dijual di saat / di tempat-tempat makam para aulia, di sana biasa di jual berbagai macam variasi wajik atau jenang yang berbeda-beda, untuk sekarang sudah ada orang yang meng-inovasi wajik dengan berbagai rasa, karna itulah sekarang memang cukup mudah untuk mendapatkannya; selain itu dimasyarakat kita sendiri, kalau kita lihat hampir setiap acara adat / upacara adat sepertinya wajib baginya untuk menyajikan / men-suguh-kan makanan ini, di desa banyak menyajikan makanan ini, seperti contoh pada saat moment acara nikah, miwiti, momongi, nyadran dan lain sebagainya. Orang biasa meyakininya sebagai suatu kewajiban untuk acara-acara tertentu, maka dari itu mudah bagi kita / mungkin tak asing lagi bagi kita untuk dapat menikmati / mendapatkan makanan tersebut.

Selain itu, anda juga bisa membuatnya sendiri lhoh... Bahan utamanya juga mudah dan tak sulit, untuk variasi warna / ukuran bisa di sesuaikan dengan cara Anda masing-masing, untuk lebih jelasnya mari kita tengok cara pembuatannya.

Cara Membuat:
Bahan:
500 g beras ketan putih, cuci bersih, rendam 3 jam, tiriskan.
50 ml air 
300 ml santan kental dari 1 butir kelapa (saya menggunakan santan kara)
200 g gula merah, sisir, masak dengan 50 ml air hingga kental, saring.
40 g gula pasir
3 lembar daun pandan, cuci bersih
1 sdt garam

Cara Buat:
1. Taruh beras ketan yang telah ditiriskan dan 50 ml air ke dalam talam yang dasarnya cukup besar agar ketan rata matangnya. Kukus ketan selama 15 menit. Aduk sebentar agar ketan di dasar talam "terangkat" ke atas dan kukus lagi 10 menit.
2. Didihkan santan, gula merah yang telah disaring, gula putih, garam, dan daun pandan.
3. Masukkan ketan, aduk terus hingga kering.
4. Taruh ketan dalam loyang yang sudah diolesi sedikit minyak. Ratakan permukaannya dengan bantuan plastik yang juga diolesi sedikit minyak. Biarkan dingin. 
5. Potong-potong berbentuk wajik.
Tips:
1. Bila Anda ingin wajik anda lebih manis, tambahkan gula, karena wajik dengan ukuran gula dalam resep ini tidak manis sekali.
2. Gula pasir penting untuk membuat warna wajik lebih gelap karena efek karamelisasi.

Kegunaan Wajik:
Wajik biasa digunakan untuk acara hajatan seperti, acara pernikahan, upacara adat, syukuran, bisa juga untuk dijadikan oleh-oleh ketika berkunjung ke suatu tempat (hajatan, acara adat, nikahan) dan lain sebagainya, untuk dijadikan bahan penelitian / metode / inovasi kuliner dan lain sebagainya; selain kita melestarikan budaya agar tetap eksis, bisa menjadi model untuk kita ber-inovasi di masa mendatang.

Sebagai warisan leluhur, ternyata punya nilai filosofi tersendiri, wajik ketan yang di berikan sebagai hantaran pernikahan, melambangkan dan sebagai harapan hubungan pernikahan keduanya akan terus lengket dan langgeng ibaran wajik, dalam acara adat atau slametan kue wajik di suguhkan untuk melambangkan kerukunan antar warga / umat beragama yang saling menyatu padu tak berbeda. Sebagai pewaris generasi mendatang patut kita syukuri dan bangga akan hal itu.


Oleh Ridwan, Mahasiswa STAINU Temanggung

Kategori : Kue
Profinsi   : Jawa tengah

Ontologi
Nagasari merupakan jajanan tradisonal yang terbuat dari tepung beras, tepung tapioca, gula pasir, santan, dan bahan isianya berupa pisang, nagasari ini merupakan salah satu jajanan khas Indonesia. kue ini dibungkus menggunakan daun pisang sehingga terasa Nusantara tradisonalnya.
Epistemologi

Nagasari mempunyai dua penggalan kata yaitu naga yang berati hewan yang berasal dari daratan cina yang melambangakan jiwa yang terhormat, dan Sari yang artinya isi utama dari suatu benda. Jika di gabungkan mempunyai arti isi utama dari suatu benda yang terhormat. Nagasari mempunyai satu versi cerita lagi yaitu di tahun 1528 Masehi, Mahawiku Astapaka menempuh perjalanan ke Gelgelang untuk merayakan Tri Suci Waisak di Candi Mborobudur. Dari keeling beliau ke Sendayu lalu berlayar ke pelabuhan Nusupan lewat Bengawan Semangi. Adipati Hadiwijaya  alias Jaka Tingkir menyambutnya, kemudian memohon agar Mahawiku Astapaka berkenan tinggal sejenak di ibu kota kadipaten Pajang sebelum melanjutkan perjalanan ke Gelgelang.

Adipati Hadiwijaya bersama Ratu Mas Cempaka, permaisurinya , kemudian mempersembahkan hidangan tanpa daging dan ikan. Diantaranya persembahan itu terdapat panganan  dari tepung beras yang didalamnya ada irisan pisang. Sang Mahawiku sangat terkesan atas ketulusan persembahan tuan rumah. Beliau kemudian menyelengarakan upacara Homa Yadnya untuk kesejahteraan bumi Pajang, agar segala penyakit dan segala apes sirna. Mahawiku Astapaka kemudian menanam pohon Dewandaru untuk mengenang hal itu Adipati Hadiwijaya memberi nama panganan persembahan yang mengesankan hati Mahawiku Astapaka dengan nama Nagasari. Warnanya yang putih berpadu kuning di tengahnya mirip pohon Dewandaru .

Aksiologi
Nagasari memperlambangkan ketulusan hati, penghalau penyakit dan apes perkenan tuhan.