Hadroh Trisula Temanggung

Hadroh Trisula Temanggung

Pasang Iklanmu Di Sini!

 TEMANGGUNG, Hariantemanggung.com - Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung bersama Noto Parakan Lues (NPL) melakukan silaturahmi dengan Pemerintah Kabupaten Temanggung untuk menyampaikan gagasan awal terkait pengusulan KH Subuki Parakan sebagai Pahlawan Nasional. Pertemuan tersebut menjadi ruang awal untuk membangun komunikasi dan menjajaki sinergi berbagai pihak dalam menggali kembali sejarah perjuangan KH Subuki.

Rombongan diterima langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Temanggung, Tri Winarno, S.E., M.M. Turut hadir dalam rombongan Wakil Rektor I INISNU Temanggung Andrian Gandi Wijanarko, M.Pd., Wakil Rektor II Dr. Joni, M.Pd.B.I., Wakil Rektor IV Eko Sariyekti, S.H.I., M.S.I., serta Staf Branding Institusi INISNU Temanggung, Imam Mustaqim. Rombongan juga didampingi oleh Camat Parakan Taufik Nur Priyanto, S.STP., M.M., bersama unsur Noto Parakan Lues.

Suasana silaturahmi INISNU Temanggung dan NPL bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Temanggung.

Dalam pertemuan tersebut, Andrian Gandi Wijanarko menyampaikan bahwa gagasan untuk mengangkat kembali kiprah KH Subuki bukan merupakan hal yang baru. Upaya pengkajian mengenai KH Subuki telah diperjuangkan sejak 2013, namun dalam perjalanannya sempat berhenti pada tahap naskah pengkajian.

Karena itu, silaturahmi tersebut menjadi momentum untuk membuka kembali komunikasi dan pembahasan mengenai sejarah KH Subuki, khususnya kiprahnya dalam perjuangan di Parakan pada masa revolusi kemerdekaan. Penguatan kajian sejarah dinilai penting agar berbagai informasi dan sumber mengenai perjuangan KH Subuki dapat dihimpun secara lebih baik.

Pembahasan juga menyinggung rencana seminar pada 15 Oktober yang bertepatan dengan momentum Hari Santri. Seminar tersebut diharapkan menjadi salah satu ruang untuk mendiskusikan dan memperkenalkan sejarah KH Subuki kepada masyarakat secara lebih luas. Dalam rencana kegiatan tersebut, Gus Ipul diharapkan berkenan hadir, sementara unsur DPR RI Komisi VIII juga direncanakan menjadi narasumber.

Keterlibatan sejarawan yang memahami sejarah Temanggung dan Parakan juga dinilai penting untuk memperkuat kajian. Dengan demikian, pembahasan mengenai KH Subuki tidak hanya menjadi cerita yang berkembang di masyarakat, tetapi dapat ditopang oleh kajian dan dokumentasi sejarah yang lebih kuat.

Sekretaris Daerah Kabupaten Temanggung, Tri Winarno, menyambut baik gagasan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut. Ia menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Temanggung terbuka untuk membangun sinergi dengan berbagai pihak dalam upaya menggali dan menguatkan sejarah tokoh-tokoh Temanggung.

Menurutnya, upaya tersebut perlu dilakukan secara bersama-sama dan tidak setengah-setengah. Pemerintah daerah siap mendukung sesuai dengan kebutuhan dan kewenangan yang dimiliki.

“Ini sudah menjadi hajat Pemda. Bupati meminta jangan setengah-setengah, harus bersinergi. Pemda siap,” ungkap Tri Winarno.

Ia juga menegaskan keterbukaan Pemerintah Kabupaten Temanggung untuk bersama-sama mengembangkan program yang berkaitan dengan penguatan sejarah dan dokumentasi tokoh daerah.

“Mari bersama-sama, Pemda terbuka untuk program ini,” lanjutnya.

Dalam pertemuan tersebut, Camat Parakan Taufik Nur Priyanto turut menyampaikan gagasan mengenai pentingnya mendokumentasikan sejarah Parakan secara lebih komprehensif. Salah satunya melalui penyusunan buku ensiklopedi tentang Parakan yang dapat memuat berbagai sejarah, tokoh, dan peristiwa penting yang pernah terjadi di wilayah tersebut.

Gagasan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan sejarah masyarakat Parakan sekaligus menjadi sumber pengetahuan bagi generasi mendatang. Selain itu, Festival Parakan juga diharapkan dapat menjadi ruang untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai sejarah Parakan dan kiprah tokoh-tokoh yang memiliki peran dalam perjalanan sejarahnya.

Bagi INISNU Temanggung, silaturahmi ini menjadi langkah awal untuk membangun komunikasi dan kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Temanggung, NPL, Kecamatan Parakan, serta berbagai unsur lainnya. Melalui proses diskusi, kajian, dan pengumpulan dokumentasi secara bersama-sama, sejarah KH Subuki diharapkan dapat dikaji secara lebih mendalam sebagai bagian dari gagasan pengusulan beliau sebagai Pahlawan Nasional.

Foto bersama rombongan INISNU Temanggung, NPL, dan Sekretaris Daerah Kabupaten Temanggung usai pertemuan.

Pertemuan tersebut sekaligus menjadi awal dari upaya mempertemukan kekuatan akademik, pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam menggali kembali sejarah perjuangan KH Subuki serta memperkuat dokumentasi sejarah Parakan.


Temanggung, Haariantemanggug.com
— Dalam upaya meningkatkan mutu dan inovasi pembelajaran digital bagi pendidik, Tim Riset Game MACUL berkolaborasi dengan Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif PCNU Temanggung menggelar pelatihan game-based learning berbasis kearifan lokal. Kegiatan yang berlangsung di Rumah Makan Lukito ini diselenggarakan pada hari Jum'at, (2/10/2026).

Acara diawali dengan sambutan dari Ketua Tim Riset Game MACUL, M. Fadloli Al-Hakim, S.Pd., M.Or. Dalam pemaparannya, ia menekankan krusialnya media interaktif untuk mendekatkan para siswa pada nilai-nilai tradisi dan budaya lokal Temanggung.

Pelatihan secara resmi dibuka oleh Ketua LP Ma’arif PCNU Temanggung, Miftahul Hadi, S.Pd., M.Ag., yang memberikan dorongan kuat kepada para pendidik madrasah agar terus adaptif terhadap transformasi digital di dunia pendidikan. Rangkaian pembukaan ini kemudian ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Sahro Istakhori, S.Ag., M.Pd.

Sesi inti pelatihan berlangsung interaktif melalui tiga tahapan materi yang saling melengkapi. Muhammad Ulfi Fadli, M.Pd. memaparkan pentingnya mengubah peran siswa madrasah dari penonton pasif menjadi pelaku aktif. Melalui game-based learning, siswa didorong untuk berani belajar dari kesalahan lewat mekanisme umpan balik langsung. 

Kemudian Mar'atussolichah, S.Pd. memperkenalkan game visual novel MACUL (Temanggung Culture). Media ini menyajikan alur cerita yang berlatar belakang tradisi, seni, serta sejarah desa-desa di Temanggung, yang dikemas lengkap dengan misi evaluasi dan ensiklopedia budaya. Dan Muhammad Naufal Hilmi, S.Pd. mengarahkan peserta untuk mempraktikkan langsung pembuatan media evaluasi menggunakan platform Kahoot! dan Baamboozle. Sesi ini membekali guru strategi asesmen formatif yang fleksibel—baik secara multi-device maupun single-screen—guna menghadirkan proses evaluasi belajar yang seru, inklusif, dan menyenangkan.

Melalui kolaborasi ini, para guru di lingkup madrasah Temanggung diharapkan mampu mengintegrasikan teknologi interaktif bernuansa lokal ke dalam ruang kelas, menciptakan pengalaman belajar yang modern tanpa mencabut siswa dari akar budayanya.


Temanggung, Hariantemanggung.com
- Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinperinaker) Kabupaten Temanggung menyelenggarakan Pelatihan Digitalisasi Industri Kreatif Temanggung Menuju Industri 4.0 pada (23/9). Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur, termasuk Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Temanggung serta INISNU Temanggung.

Pelatihan digelar untuk mendorong kesiapan pelaku industri kreatif dalam menghadapi transformasi menuju era Industri 4.0. Adapun tujuan utamanya adalah memberikan pemahaman terkait perlindungan produk dan perizinan usaha, khususnya HKI (Hak Kekayaan Intelektual), OSS (Online Single Submission), serta izin usaha. Di samping itu, pelatihan juga bertujuan meningkatkan pengetahuan pelaku IKM mengenai penerapan teknologi digital dalam operasional industri, sekaligus mendorong pelaku IKM agar beradaptasi dengan perkembangan teknologi guna memperkuat daya saing.

Pada sesi pertama, anggota bidang riset dan pendataan KEK Temanggung, Sutarto, S.T., menyampaikan materi tentang Penerapan Teknologi Digital dalam Usaha Industri. Dalam pemaparannya, Ia menekankan bahwa digitalisasi bukan hanya soal penggunaan perangkat teknologi, melainkan juga menyentuh strategi bisnis, peningkatan efisiensi, penguatan pemasaran, serta pengelolaan usaha yang lebih modern. “Melalui digitalisasi, pelaku IKM tidak hanya bisa meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga memperluas pasar dan meningkatkan kualitas layanan.” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu memahami cara memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar, meningkatkan kualitas layanan, serta mengoptimalkan proses produksi dan manajemen usaha.

Pada sesi berikutnya, Wakil Rektor INISNU Temanggung, Andrian Gandi W, menyampaikan materi mengenai Perlindungan Produk dan Perizinan (HKI, OSS, serta izin usaha). Ia menekankan pentingnya perlindungan atas karya maupun produk agar pelaku memiliki posisi yang lebih kuat dalam persaingan pasar. "Pemahaman terkait HKI, OSS, dan izin usaha perlu diperkuat agar administrasi dan legalitas usaha dapat berjalan dengan baik, sekaligus meningkatkan kepastian usaha di tengah dinamika ekonomi yang semakin kompetitif. HKI dan perizinan yang benar akan memberi perlindungan serta kepastian bagi pelaku usaha, sehingga produk lokal bisa lebih percaya diri bersaing di pasar.” kata anggota KEK Temanggung itu.

Dengan mengusung tema menuju Industri 4.0, kegiatan ini dinilai menjadi langkah nyata untuk memperkuat ekosistem industri kreatif di Kabupaten Temanggung. Melalui kolaborasi Dinperinaker dengan Komite Ekonomi Kreatif dan INISNU, pelatihan diharapkan mampu menghasilkan peningkatan kapasitas pelaku IKM, baik dari sisi legalitas dan perlindungan produk, maupun dari sisi digitalisasi usaha.

Kegiatan diakhiri dengan diskusi dan semangat bersama agar pelaku IKM semakin siap beradaptasi dan memaksimalkan peluang melalui teknologi, sehingga mampu meningkatkan daya saing produk lokal Temanggung di pasar yang lebih luas.



Semarang, Hariantemanggung.com - SUPER-LOKA hadir sebagai praktik baik yang dikembangkan oleh Dr. Dian Marta Wijayanti, S.Pd., M.Pd.  untuk memudahkan guru melakukan refleksi dan inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan Artificial Intelligence (AI). Di SDN Patemon 02 Kota Semarang, SUPER-LOKA dikembangkan sebagai pendekatan supervisi yang tidak hanya berfokus pada pengamatan pembelajaran, tetapi juga memberikan ruang kepada guru untuk mengevaluasi praktik yang telah dilakukan, menemukan tantangan, dan merancang perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan.


Selama ini, refleksi pembelajaran terkadang masih dipahami sebagai kegiatan yang dilakukan setelah proses pembelajaran selesai tanpa tindak lanjut yang sistematis. Guru dapat mengetahui bahwa terdapat bagian pembelajaran yang perlu diperbaiki, tetapi tidak selalu mudah menentukan langkah konkret yang harus dilakukan. SUPER-LOKA berupaya menjembatani kebutuhan tersebut dengan menghadirkan proses refleksi yang lebih terarah, dialogis, dan didukung oleh teknologi AI sebagai alat bantu.


Dalam pelaksanaannya, guru diajak melihat kembali proses pembelajaran secara menyeluruh. Guru tidak hanya bertanya apakah tujuan pembelajaran telah tercapai, tetapi juga menganalisis bagaimana peserta didik merespons pembelajaran, strategi apa yang berjalan efektif, bagian mana yang mengalami kendala, serta bagaimana lingkungan sekolah dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Proses tersebut membantu guru mengembangkan kebiasaan refleksi yang berangkat dari pengalaman nyata di kelas.


AI kemudian dimanfaatkan sebagai salah satu instrumen pendukung dalam proses refleksi. Guru dapat memasukkan catatan hasil observasi, pengalaman pembelajaran, atau permasalahan yang ditemukan ke dalam sistem AI untuk memperoleh alternatif pertanyaan reflektif dan gagasan pengembangan pembelajaran. AI membantu memperluas sudut pandang guru, tetapi keputusan akhir tetap berada pada guru berdasarkan konteks peserta didik dan pertimbangan profesional.


Kemudahan tersebut membuat proses refleksi menjadi lebih praktis. Guru tidak harus memulai dari halaman kosong ketika ingin mencari alternatif solusi terhadap permasalahan pembelajaran. Dengan memberikan instruksi atau prompt yang tepat, guru dapat meminta AI membantu mengembangkan berbagai kemungkinan strategi pembelajaran, aktivitas peserta didik, pertanyaan pemantik, media pembelajaran, maupun bentuk asesmen yang relevan dengan tujuan pembelajaran.


SUPER-LOKA juga mendorong guru untuk menggunakan AI secara kritis. Setiap informasi atau gagasan yang dihasilkan AI tidak langsung diterapkan begitu saja. Guru perlu memeriksa kesesuaian informasi, mempertimbangkan karakteristik peserta didik, memastikan kesesuaian dengan kurikulum, serta menyesuaikan gagasan dengan kondisi nyata sekolah. Dengan demikian, pemanfaatan AI tetap berada dalam kendali guru sebagai profesional pendidikan.


Kekuatan lain SUPER-LOKA terletak pada integrasi aspek ekologis dalam proses refleksi dan inovasi. Guru didorong untuk memikirkan bagaimana lingkungan sekolah dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar peserta didik. Masalah sampah, penggunaan air, penghijauan, energi, kebersihan lingkungan, hingga pemanfaatan bahan bekas dapat menjadi sumber masalah autentik yang dikembangkan menjadi kegiatan pembelajaran.


Melalui dukungan AI, ide-ide sederhana tersebut dapat dikembangkan menjadi rancangan pembelajaran yang lebih kreatif. Misalnya, guru dapat mengembangkan pembelajaran berbasis proyek tentang pengelolaan sampah, pembelajaran matematika dengan menggunakan data lingkungan sekolah, pembelajaran IPAS melalui pengamatan tanaman, atau Pendidikan Pancasila melalui kegiatan gotong royong menjaga kebersihan lingkungan. Teknologi membantu guru mengeksplorasi kemungkinan, sedangkan konteks lokal menjadi dasar pengembangannya.


SUPER-LOKA juga memberikan ruang bagi guru untuk melakukan inovasi secara bertahap. Inovasi tidak harus selalu berupa penggunaan teknologi yang kompleks atau menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru. Perubahan sederhana dalam strategi pembelajaran, penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar, variasi asesmen, pengembangan media dari bahan bekas, atau penerapan metode pembelajaran yang lebih melibatkan peserta didik dapat menjadi bentuk inovasi apabila memberikan perbaikan terhadap proses dan pengalaman belajar.


Dalam proses tersebut, peran kepala sekolah menjadi sangat penting. Kepala sekolah tidak hanya melakukan supervisi untuk menilai pembelajaran, tetapi memberikan pendampingan agar guru mampu merefleksikan praktiknya. Hasil observasi menjadi bahan dialog profesional antara kepala sekolah dan guru. Bersama-sama mereka mengidentifikasi kekuatan, menemukan area yang perlu dikembangkan, dan menyusun rencana tindak lanjut yang realistis.


SUPER-LOKA selanjutnya dapat menjadi bagian dari budaya belajar bersama di sekolah. Guru yang telah mencoba suatu inovasi dapat berbagi pengalaman kepada rekan sejawat melalui komunitas belajar. Gagasan yang berhasil dapat dikembangkan, sedangkan pengalaman yang belum optimal dapat menjadi bahan diskusi untuk menemukan perbaikan. Dengan cara ini, refleksi tidak berhenti pada individu, tetapi berkembang menjadi budaya kolaborasi di lingkungan sekolah.


Pemanfaatan AI dalam SUPER-LOKA pada akhirnya bukan semata-mata tentang kecanggihan teknologi. Hal yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut membantu guru menghemat waktu, memperluas gagasan, dan memperoleh alternatif dalam mengembangkan pembelajaran. AI menjadi alat bantu yang mendukung guru untuk berpikir lebih reflektif dan kreatif, bukan menggantikan peran guru dalam mengambil keputusan pedagogis.


SUPER-LOKA menegaskan bahwa guru yang reflektif adalah guru yang terus belajar, sementara guru yang inovatif adalah guru yang berani mengubah pengalaman menjadi perbaikan. Dengan memadukan supervisi yang reflektif, kepedulian ekologis, kolaborasi, dan pemanfaatan AI secara bertanggung jawab, SDN Patemon 02 Kota Semarang berupaya membangun pembelajaran yang terus berkembang sesuai kebutuhan peserta didik dan tantangan zaman.


Pada akhirnya, SUPER-LOKA bukan sekadar sebuah program supervisi, melainkan sebuah gerakan untuk menumbuhkan budaya refleksi dan inovasi di sekolah. AI membantu guru menemukan lebih banyak kemungkinan, lingkungan memberikan konteks pembelajaran yang nyata, dan supervisi memberikan ruang untuk berefleksi. Dari proses tersebut diharapkan lahir guru yang semakin adaptif, pembelajaran yang semakin bermakna, serta sekolah yang terus bergerak menjadi lingkungan belajar yang inovatif, ekologis, dan berkelanjutan.