Hadroh Trisula Temanggung

Hadroh Trisula Temanggung

Pasang Iklanmu Di Sini!


SEMARANG, Hariantemanggung.com
– Lembaga Pendidikan Ma'arif NU PWNU Jawa Tengah menargetkan peningkatan produksi Majalah Mopdik hingga 30 ribu eksemplar pada tahun 2026. Target ini meningkat signifikan dibandingkan tahun 2025 yang mencapai sekitar 18 ribu eksemplar.

‎Hal tersebut disampaikan Ketua LP Ma'arif NU PWNU Jawa Tengah Dr. Fakhruddin Karmani dalam Rapat Redaksi Majalah Mopdik yang digelar di Kantor LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah pada Kamis (12/3/2026).

‎Menurut Fakhruddin, peningkatan jumlah cetak ini dilakukan sebagai bagian dari strategi penguatan literasi sekaligus kaderisasi organisasi pelajar di lingkungan sekolah dan madrasah Ma’arif.

‎“Pada tahun 2025 kita mencetak sekitar 18 ribu eksemplar, dan tahun ini kita targetkan 30 ribu eksemplar. Namun bukan hanya jumlahnya yang kita perhatikan, kualitasnya juga harus dijaga, tampilannya harus menarik dan ‘kece’ sehingga diminati oleh para pelajar,” ujarnya.

‎Ia menegaskan bahwa Majalah Mopdik diharapkan tidak sekadar menjadi bacaan biasa, tetapi menjadi suplemen ilmu pengetahuan sekaligus media pembentukan karakter pelajar Nahdlatul Ulama. Karena itu, pihaknya mendorong agar konten majalah tersebut ditulis oleh kader-kader pelajar sendiri.

‎“Kami berharap tulisannya banyak berasal dari rekan-rekan IPNU dan IPPNU, sehingga benar-benar menjadi ruang ekspresi dan kreativitas pelajar,” tambahnya.

‎Selain sebagai media literasi, majalah ini juga dirancang menjadi panduan informasi bagi siswa baru, khususnya dalam kegiatan terintegrasi Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), Penerimaan Peserta Didik Madrasah (PPDM), Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (Matsama), Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), dan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta).

‎Fakhruddin menegaskan bahwa proses penyusunan majalah harus dipersiapkan secara matang, mulai dari penulisan, penyuntingan, hingga distribusi dan pengawasan.

‎“Harapan kami majalah ini disiapkan dengan matang, didistribusikan secara luas, dimonitoring, dan dikawal oleh PW IPNU dan PW IPPNU. Jika nantinya ada perubahan atau pembaruan dari IPNU-IPPNU, maka suplemennya bisa segera diperbarui,” jelasnya.

‎Ia menambahkan bahwa target 30 ribu eksemplar tersebut juga diarahkan untuk memperkuat komisariat IPNU dan IPPNU di sekolah serta madrasah di bawah naungan LP Ma’arif NU Jawa Tengah.

‎Sementara itu, Wakil Ketua LP Ma'arif NU PWNU Jawa Tengah Dr. Hidayatun menekankan pentingnya majalah pelajar sebagai sarana internalisasi nilai-nilai Aswaja dan ke-NU-an sejak dini kepada peserta didik yang berasal dari latar belakang sosial dan budaya yang beragam.

‎“Harapan kami, siswa-siswi di sekolah Ma’arif NU dapat tumbuh menjadi pribadi seperti jenengan semua. Mereka berasal dari latar belakang yang variatif, sehingga penguatan visi dan ajaran NU harus dilakukan secara maksimal, tidak sekadar menjadi slogan,” ujarnya.

‎Ia mengibaratkan proses pengenalan nilai-nilai organisasi dan keagamaan seperti kesan pertama yang sangat menentukan.

‎“Seperti pepatah, pandangan pertama selalu menggoda. Maka sejak awal siswa harus diperkenalkan secara kuat dengan visi, tradisi, dan nilai-nilai Nahdlatul Ulama,” katanya.

‎Menurutnya, Majalah Mopdik memiliki peran penting sebagai media internalisasi nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah di lingkungan pendidikan Ma’arif.

‎Namun, Hidayatun menegaskan bahwa penanaman nilai tersebut tidak cukup melalui teori atau doktrin semata, melainkan melalui keteladanan dan praktik langsung dalam kehidupan sekolah.

‎“Intinya anak-anak itu lebih banyak implementasi nilai Aswaja Annahdliyah. Misalnya kegiatan pagi diajak salaman, dibiasakan praktik ibadah dengan contoh langsung. Jadi bukan sekadar didikte, tetapi dicontohkan,” jelasnya.

‎Rapat tersebut juga dihadiri Pemimpin Redaksi Majalah Mopdik, Dr. Hamidulloh Ibda, yang turut memberikan masukan terkait penguatan kualitas konten dan pengelolaan majalah pelajar agar lebih informatif, edukatif, dan menarik bagi generasi muda.

‎Dengan peningkatan jumlah cetak dan penguatan kualitas konten, Majalah Mopdik diharapkan menjadi media literasi pelajar Ma’arif sekaligus instrumen strategis dalam kaderisasi pelajar Nahdlatul Ulama di Jateng.

‎Hadir juga dalam kesempatan itu Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jateng Muhamad Irfan Khamid, Ketua Pimpinan Wilayah (PW) IPPNU Jateng Dwi Sangita, jajaran pengurus IPNU-IPPNU Jateng, dan tim redaksi. (*)


‎Semarang, Hariantemanggung.com
— Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Dr. Fakhruddin Karmani, menegaskan pentingnya evaluasi program kerja sekaligus penyusunan perencanaan strategis untuk tahun 2026 dalam rapat pengurus yang digelar di Kantor LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Kamis (12/3/2026). 

‎Rapat tersebut menjadi forum refleksi organisasi untuk menilai capaian program sekaligus merumuskan langkah penguatan kelembagaan pendidikan Ma’arif di Jawa Tengah di tahun 2026 ini. 

‎Dalam paparannya, Fakhruddin Karmani menyampaikan bahwa selama tahun 2025, LP Ma’arif NU Jawa Tengah berhasil melaksanakan 191 kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pendidikan. Kegiatan tersebut melibatkan 16.822 sekolah dan madrasah, 10.963 guru dan tenaga kependidikan, serta 17.043 peserta didik dalam berbagai program pengembangan pendidikan, pelatihan, dan kegiatan kelembagaan.

‎"Perlu saya sampaikan, kegiatan kita di tahun 2025 sebanyak 191 kegiatan, " kata Fakhruddin. 

‎Selain itu, dari sisi peningkatan kompetensi tenaga pendidikan, 6.044 peserta mengikuti Uji Kompetensi LSP P2 Ma’arif Jawa Tengah, yang menjadi bagian dari upaya peningkatan profesionalisme guru dan tenaga kependidikan di lingkungan Ma’arif.

‎Secara kelembagaan, aktivitas organisasi juga menunjukkan dinamika yang tinggi. Sepanjang tahun 2025 tercatat 57 kegiatan rapat dan koordinasi baik internal maupun eksternal. Selain itu terdapat 151 undangan kegiatan dari berbagai cabang Ma’arif maupun instansi lain yang menunjukkan tingginya intensitas kolaborasi kelembagaan.

‎LP Ma’arif NU Jawa Tengah juga memperluas jejaring internasional melalui empat kunjungan luar negeri ke sejumlah negara, yakni China, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat wawasan global dan pengembangan jaringan pendidikan.

‎Di sisi kemitraan, lembaga ini telah menjalin kerja sama dengan 43 mitra strategis, yang meliputi kementerian, dinas pendidikan, lembaga pemerintah, perusahaan, serta berbagai organisasi pendidikan lainnya. Hal ini menunjukkan semakin luasnya jaringan kolaborasi LP Ma’arif dalam pengembangan pendidikan.

‎Dari aspek administrasi kelembagaan, aktivitas surat-menyurat juga cukup tinggi dengan 204 surat masuk dan 708 surat keluar sepanjang tahun 2025. Angka ini mencerminkan dinamika koordinasi dan komunikasi organisasi yang intensif dalam menjalankan program-programnya.

‎Menurut Fakhruddin Karmani, capaian kuantitatif tersebut menjadi indikator penting bahwa LP Ma’arif NU Jawa Tengah terus bergerak aktif dalam mengembangkan pendidikan berbasis nilai-nilai Nahdlatul Ulama. Namun demikian, ia menekankan bahwa capaian tersebut harus terus dievaluasi agar program yang dijalankan semakin efektif dan berdampak luas.

‎Pihaknya menyampaikan bahwa beberapa program prioritas dari Maret sampai Desember 2026. "Kemarin juga sudah MoU dan PKB dengan 19 media untuk mendukung publikasi. Nanti pendidikan inklusi, nanti setelah Lebaran langsung uji coba dengan BDK Semarang," lanjut dia. 

‎Selain itu, program-progam lain sudah disiapkan dengan harapan capaiannya melebihi di tahun 2025.

‎Dikatakannya, evaluasi ini menjadi pijakan untuk merumuskan program kerja yang lebih terencana dan strategis pada tahun 2026, sehingga penguatan mutu pendidikan Ma’arif dapat berjalan lebih sistematis. 

‎Rapat pengurus tersebut juga dirangkaikan dengan kegiatan tadarus Al-Qur’an dan buka puasa bersama dalam momentum Ramadan. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang silaturahmi antar-pengurus serta penguatan komitmen bersama dalam mengembangkan pendidikan Ma’arif di Jawa Tengah. (Ibda).

Ahmad Khudlori bersama tamu undangan

Temanggung, Hariantemanggung.com - Anggota DPRD Kabupaten Temanggung Ahmad Khudlori menyebut acara sahur bersama yang digelar komunitas Gus Durian dan Lesbumi MWC NU Kecamatan Tembarak pada hari Kamis dini hari (5/3/2026). Hal ini sebagai momentum penting untuk merawat persatuan di tengah keberagaman. Acara yang menghadirkan Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di NU Center Tembarak itu dinilainya sebagai teladan nyata dalam merajut kebhinekaan lintas agama dan golongan.

Khudlori mengaku terkesan melihat ratusan warga dari berbagai agama Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, hingga penganut aliran kepercayaan duduk bersama dalam satu forum sahur dengan penuh keakraban. Menurutnya, pemandangan seperti itu tidak lahir begitu saja, melainkan hasil dari kerja panjang membangun kepercayaan antar komunitas.

“Saya terkesan bukan hanya dengan acaranya, tapi dengan semangat Ibu Nyai Sinta yang hadir bertahun-tahun tanpa pernah absen. Beliau datang bukan untuk pencitraan, tapi betul-betul ingin menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Itu teladan yang luar biasa,” kata Khudlori.

Ia menambahkan, selama ini masyarakat banyak berbicara soal meneladani Gus Dur. Namun malam itu, Khudlori mengaku tersadar bahwa Ibu Nyai Sinta pun layak dijadikan teladan sosok yang tidak hanya mewarisi nilai-nilai Gus Dur, tetapi juga menghidupkannya lewat tindakan nyata setiap Ramadan.

“Selain meneladani Gus Dur, kita juga perlu meneladani Ibu Nyai Sinta. Beliau hadir di tengah masyarakat kecil, duduk bersama kaum marjinal, mengajak semua orang bersatu. Ini yang harus kita teruskan,” ujarnya.

Pernyataan Khudlori sejalan dengan apa yang disampaikan Ibu Sinta dalam tausiahnya. Istri mendiang Presiden ke-4 RI itu menegaskan bahwa seluruh warga Indonesia, apapun suku dan agamanya, adalah saudara sebangsa yang tidak boleh saling memusuhi.

“Mereka saudara kita, yakin 100%. Yang boleh diperebutkan hanyalah kursi jabatan, tapi asal tidak dipakai untuk memecah belah bangsa justru harus dipakai untuk membangun,” tegas Ibu Sinta.

Ibu Sinta juga mengingatkan petuah almarhum Gus Dur bahwa tidak penting apapun agama seseorang, selama ia bisa berbuat baik untuk semua orang. Gus Dur, katanya, tidak pernah membangun tembok pemisah, melainkan selalu membangun jembatan antar sesama.

Khudlori berharap semangat yang tertangkap malam itu bisa terus hidup dan menular ke seluruh lapisan masyarakat Temanggung. Kerukunan antar umat beragama, tegasnya, harus diwujudkan dalam keseharian bukan sekadar jargon. Acara ditutup dengan menyanyikan bersama lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan Padamu Negeri sebagai ikrar bersama seluruh hadirin.

Ketua PCNU Temanggung dengan Civitas Akademika INISNU Temanggung

Temanggung, Hariantemanggung.com - INISNU Temanggung terus memperkuat sinergi dengan para kiai dan ulama di Kabupaten Temanggung melalui agenda silaturahmi kelembagaan. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Rektor, Hamidulloh Ibda, bersama jajaran wakil rektor sebagai bentuk komitmen mempererat hubungan antara perguruan tinggi dan pesantren pada Rabu (4/3/2026).


Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Keaswajaan, Andrian Gandi Wijanarko; Wakil Rektor Bidang SDM dan Kemahasiswaan, Joni; Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Riset dan Inovasi, Husna Nashihin; serta Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Pengembangan Aset, Eko Sariyekti. Hadir juga Dekan FSHEI Dr Sumarjoko, M.S.I.


Dalam rangkaian silaturahmi tersebut, rombongan menyambangi sejumlah kiai dan ulama Temanggung, di antaranya KH. Yacub Mubarok, KH. Muhamad Furqon Masyhuri, KH. Muhammad Nurul Yaqin, S.Sos., KH. Nukman Dimyati, KH. Muhammad Abdul Muchit, KH. Muhammad Abdul Hakim, KH. Syarif Hidayatullah, KH. Khamim Syuti, Drs. KH. Shodiq Mubasyier, M.H.,  KH. Thohir Muchlasin, KH. Labieb Mudhofar, KH. Muhammad Khadziq Muchlasin, serta KH. Utsman Ridho.


Rektor menyampaikan bahwa silaturahmi ini bukan sekadar agenda formal, tetapi bagian dari ikhtiar menjaga sanad keilmuan dan memperkuat nilai Aswaja An-Nahdliyah dalam pengembangan kampus. Menurutnya, INISNU sebagai perguruan tinggi berbasis Nahdlatul Ulama memiliki tanggung jawab moral untuk terus berkomunikasi dan meminta doa restu para kiai dalam setiap langkah pengembangan institusi.


“Perguruan tinggi tidak bisa berdiri sendiri. Kiai dan ulama adalah penyangga moral sekaligus penjaga arah nilai. Kami hadir untuk sowan, memohon nasihat, serta membangun kolaborasi demi kemajuan pendidikan di Temanggung,” ujarnya.


Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, para kiai memberikan masukan terkait penguatan karakter mahasiswa, pengembangan riset berbasis kebutuhan umat, hingga pentingnya menjaga tradisi keilmuan pesantren di lingkungan kampus. Beberapa kiai juga mendorong agar mahasiswa INISNU tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki adab, akhlak, dan komitmen kebangsaan yang kuat.


Selain itu, dibahas pula peluang kolaborasi antara kampus dan pesantren dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, pendampingan literasi, pemberdayaan ekonomi umat, serta penguatan moderasi beragama. Para kiai menyambut baik langkah proaktif INISNU Temanggung yang terus menjaga komunikasi dan keterbukaan.


Melalui agenda ini, INISNU Temanggung berharap terbangun sinergi berkelanjutan antara kampus dan pesantren, sehingga pengembangan akademik, riset, dan pengabdian kepada masyarakat berjalan seiring dengan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal. Silaturahmi ini sekaligus menjadi penegasan bahwa kemajuan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama harus tetap berakar pada restu dan bimbingan para kiai sebagai penjaga tradisi dan moral umat. (*)