Hadroh Trisula Temanggung

Hadroh Trisula Temanggung

Pasang Iklanmu Di Sini!




Temanggung, Hariantemanggung.com
- Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) PCNU Kabupaten Temanggung menggelar kegiatan Halal Bihalal Media Gathering Media NU Vol. 3 pada Jumat (1/5/2026) di Gedung PCNU Temanggung. Kegiatan ini menjadi ajang konsolidasi pegiat media NU sekaligus penguatan strategi dakwah digital di tengah derasnya arus informasi media sosial.

Ketua LTN NU Temanggung, Gus Fais Syauqy, S.I.Kom., menyampaikan bahwa pengelolaan media sosial dan website resmi organisasi kini menjadi kebutuhan penting dalam gerakan dakwah NU. Menurutnya, masyarakat saat ini memperoleh informasi secara cepat melalui telepon genggam sehingga NU harus hadir aktif di ruang digital.

“Informasi sekarang ada dalam genggaman. Karena itu, kegiatan NU mulai dari tingkat ranting hingga MWC harus bisa diketahui masyarakat luas, khususnya warga Nahdliyin,” ujarnya.

Sebagai langkah konkret, LTN NU Temanggung berencana memperkuat kapasitas kader media melalui program kelas desain grafis dan pelatihan menulis bagi pengurus MWC maupun ranting. Selain itu, LTN juga tengah menyiapkan literasi sejarah dengan merancang penerbitan buku mengenai tokoh-tokoh penggerak awal NU di Temanggung.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Temanggung, KH. M. Nurul Yaqin, S. Sos., menegaskan bahwa media sosial saat ini telah menjadi ruang strategis dalam dakwah dan pembentukan opini publik. Ia menyebut perubahan zaman menuntut NU untuk lebih aktif dan terorganisir dalam memanfaatkan media digital.

“Kalau dulu syiar dilakukan lewat syiir dan pengajian, sekarang media sosial menjadi medan dakwah sekaligus pertarungan opini,” tegasnya.

Ia juga menyoroti maraknya pemberitaan negatif tentang oknum pesantren dalam beberapa tahun terakhir yang dinilai berpotensi memecah belah umat serta mencoreng citra lembaga pendidikan Islam. Karena itu, ia mengajak seluruh pegiat media NU untuk menghadirkan narasi yang menyejukkan, edukatif, dan berimbang.

Selain membangun kontra-narasi positif, Gus Nurul juga mendorong warga NU agar aktif mengikuti akun resmi media sosial PCNU dan jejaring media NU di berbagai tingkatan. Menurutnya, kekuatan media organisasi akan terbentuk apabila didukung partisipasi warga secara kolektif.

Melalui kegiatan Media Gathering ini, LTN NU Temanggung berharap lahir sinergi antarpengelola media di tingkat ranting, MWC, hingga cabang. Dengan demikian, media NU dapat menjadi garda terdepan dalam menyebarkan informasi yang terpercaya, menangkal hoaks, serta memperkuat nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di ruang digital. (htm/sul)


Yogyakarta, Hariantemanggung.com
 - Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menunjukkan komitmen nyata terhadap pembangunan berkelanjutan dengan berpartisipasi dalam Lokakarya UI GreenMetric Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Tahun 2026 yang diselenggarakan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tanggal 28–29 April 2026.

Kegiatan nasional bertema “Integrasi UI GreenMetric dalam Mewujudkan Kampus Hijau Berbasis Ekoteologi” ini menjadi forum strategis bagi perguruan tinggi Islam di Indonesia untuk memperkuat peran akademik dalam menjawab tantangan krisis lingkungan global melalui integrasi ilmu pengetahuan, nilai keislaman, dan praktik keberlanjutan lingkungan.

Forum tersebut diikuti berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam, di antaranya UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dan UIN Antasari Banjarmasin bersama puluhan PTKI lainnya dari seluruh Indonesia, termasuk INISNU Temanggung.

Penandatanganan Komitmen Bersama SDGs GreenMetric

Salah satu agenda utama kegiatan adalah penandatanganan Piagam Komitmen Bersama Implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) melalui inisiatif Green Campus yang diikuti oleh 59 perguruan tinggi peserta, termasuk perwakilan INISNU Temanggung.

Komitmen bersama tersebut menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai:

1. pusat transformasi manusia inklusif dan berkelanjutan, 
2. pelopor pelestarian lingkungan melalui inovasi akademik, 
3. penggerak tata kelola kampus berbasis kemitraan global. 

Isu strategis yang dibahas meliputi pengelolaan infrastruktur berkelanjutan, efisiensi energi, mitigasi perubahan iklim, konservasi air, pengelolaan limbah, transportasi ramah lingkungan, serta penguatan pendidikan dan riset berbasis lingkungan.

INISNU Temanggung Dorong Kampus Berbasis Ekoteologi dan Kearifan Leluhur

Keikutsertaan INISNU Temanggung menjadi langkah penting dalam memperkuat arah kebijakan kampus menuju konsep green campus yang tidak hanya berbasis teknologi lingkungan, tetapi juga berakar pada kesadaran spiritual dan budaya masyarakat Nusantara.

Dalam perspektif ini, gagasan GreenMetric dan ekoteologi sesungguhnya bukan konsep baru bagi bangsa Indonesia. Nilai merawat bumi dan melestarikan alam telah lama hidup dalam warisan leluhur. Di tanah Jawa, misalnya, dikenal amanah budaya Memayu Hayuning Bawana, yaitu panggilan moral manusia untuk memperindah dunia, menjaga keseimbangan kehidupan, serta menghadirkan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Tradisi seperti Nyadran Gunung maupun Nyadran Kali juga menjadi simbol kearifan ekologis masyarakat, sebagai bentuk syukur sekaligus pengingat kolektif bahwa bumi bukan objek eksploitasi, melainkan titipan yang harus dirawat dan dilestarikan bersama. Praktik-praktik budaya tersebut menunjukkan bahwa konsep kampus hijau modern sejatinya merupakan kelanjutan nilai-nilai ekologis yang telah diwariskan oleh leluhur Nusantara.

Delegasi INISNU Temanggung mengikuti rangkaian diskusi akademik, lokakarya kebijakan, serta forum kolaborasi antarperguruan tinggi dalam pengembangan praktik terbaik pengelolaan lingkungan kampus yang berkelanjutan.

Pandangan Dr. Joni, M.Pd.B.I.: Merawat Bumi sebagai Amanah Wahyu dan Budaya

Dalam sesi diskusi tematik mengenai ekoteologi dan pendidikan berkelanjutan, perwakilan INISNU Temanggung, Dr. Joni, M.Pd.B.I., menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan harus berpijak pada kesadaran wahyu sekaligus kebijaksanaan lokal. Menurutnya, krisis lingkungan modern terjadi karena manusia memisahkan ilmu dari nilai dan teknologi dari moralitas.

“GreenMetric dan ekoteologi sejatinya menghidupkan kembali kesadaran lama yang sudah diwariskan leluhur kita. Islam melalui wahyu mengajarkan amanah kekhalifahan, sementara budaya Nusantara mengajarkan bagaimana amanah itu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa tradisi seperti Memayu Hayuning Bawana maupun ritual ekologis masyarakat merupakan bentuk pendidikan lingkungan yang telah berlangsung jauh sebelum konsep sustainability dikenal secara global.

“Ketika wahyu bertemu kearifan lokal, maka kampus tidak hanya membangun gedung hijau, tetapi membangun manusia yang sadar bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah,” tegasnya.

Menuju Kampus sebagai Agen Perubahan Berkelanjutan

Melalui forum UI GreenMetric 2026, diharapkan tercipta kolaborasi lebih luas antarperguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi pengelolaan lingkungan kampus yang berkelanjutan dan inklusif.

Bagi INISNU Temanggung, partisipasi ini menjadi bagian dari langkah strategis menuju kampus yang unggul secara akademik sekaligus memiliki tanggung jawab ekologis dan sosial. Dengan mengintegrasikan ilmu pengetahuan, nilai keislaman, serta kearifan lokal Nusantara, INISNU Temanggung berkomitmen menjadi bagian dari gerakan pendidikan tinggi yang tidak hanya mencerdaskan bangsa, tetapi juga menjaga kelestarian bumi sebagai amanah bersama umat manusia.

Temanggung, Hariantemanggung.com - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Temanggung menggelar diskusi internal kader Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P) pada Senin siang (27/04) di Kantor Bawaslu Temanggung, guna memperkuat peran kader dalam mengawal pelaksanaan pemutakhiran data pemilih berkelanjutan (PDPB) serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengawasan pemilu di masa non-tahapan.

Kegiatan tersebut menghadirkan kader Pendidikan Pengawas Partisipatif atau P2P dari berbagai program, meliputi P2P Provinsi Jawa Tengah dengan titik di Temanggung, P2P lanjutan di Salatiga, Camping Ceria, serta P2P daring 2025 yang dikenal dengan istilah FYP (For Your Pemilu).

Diskusi bertema “Peran Strategis Kader P2P dalam Mengawal Pelaksanaan Kegiatan Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan” ini bertujuan mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan keterlibatan masyarakat dalam pengawasan pemilu.

Ketua Bawaslu Temanggung, Roni Nefriyadi, dalam sambutannya menekankan pentingnya keberlanjutan peran kader P2P pasca pelatihan. Ia menyebut, hingga saat ini belum terdapat wadah resmi yang menaungi alumni P2P secara kelembagaan. “Setelah menjadi alumni, belum ada wadah resmi. Harapannya, dari pertemuan ini muncul gagasan, apakah kader P2P akan tetap seperti ini atau dikembangkan menjadi lembaga pemantau pemilu,” ujar Roni.

Ia menambahkan, pemantau pemilu yang sah harus berbentuk lembaga independen yang terakreditasi, dengan syarat antara lain memiliki legalitas dari Kementerian Hukum dan HAM, AD/ART, serta sumber pendanaan yang jelas. Menurutnya, kader P2P juga diharapkan mampu memberikan masukan kritis terhadap kinerja pengawasan Bawaslu. “Salah satu tugas kader adalah mengoreksi pengawasan Bawaslu berdasarkan data dan realitas di lapangan,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas Bawaslu Temanggung, Sumarsih, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal untuk mengintegrasikan berbagai alumni P2P dalam satu gerakan yang lebih terstruktur.

“P2P tidak hanya terbentuk, tetapi harus berfungsi dan bergerak. Karena itu, kami ingin mengoptimalkan peran kader dalam pengawasan,” ujarnya.

Ia memaparkan bahwa saat ini Bawaslu Temanggung tengah melakukan pengawasan terhadap pemutakhiran data pemilih berkelanjutan pada triwulan pertama tahun berjalan. PDPB dilakukan secara berkala oleh KPU setiap triwulan guna memastikan data pemilih tetap akurat dan mutakhir.

Bawaslu mendorong pelibatan kader P2P dalam kegiatan uji petik guna memperluas jangkauan pengawasan.

Dalam sesi diskusi, sejumlah isu turut dibahas, termasuk kategori pemilih memenuhi syarat (MS) dan tidak memenuhi syarat (TMS), seperti pemilih yang telah meninggal dunia. 

Keliatan ditutup setelah sesi diskusi interaktif, dengan harapan terbentuknya sinergi yang lebih kuat antara Bawaslu dan kader P2P dalam menjaga kualitas data pemilih dan proses demokrasi di Kabupaten Temanggung.

Oleh : Azka Farkhan (Relawan Patroli Cyber 2024)


Temanggung, Hariantemanggung.com
— Tim kegiatan  Game Edukasi Berbasis Kearifan Lokal (Gak Kenal) sukses menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Kampung Sawah, Temanggung. Kegiatan ini difokuskan pada pengembangan media pembelajaran interaktif yang mengangkat kekayaan budaya lokal agar tetap dikenal oleh generasi muda di era digital.

FGD yang dilakukan pada hari Rabu, (22/04/2026) ini bertujuan untuk menyelaraskan prinsip-prinsip pembuatan game agar tidak hanya unggul secara visual, tetapi juga mampu menjadi sarana pelestarian nilai-nilai sejarah yang ada di Kabupaten Temanggung.

Dalam sesi pertama, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd. , selaku Rektor INISNU Temanggung yang juga berperan sebagai narasumber, memberikan pemaparan mengenai dasar-dasar game edukasi. Beliau menjelaskan bahwa game edukasi memiliki potensi besar sebagai media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus efektif. 

Menurutnya, integrasi unsur lokal ke dalam teknologi bukan sekadar tren, melainkan strategi penting untuk menjaga identitas budaya bangsa agar tidak tergerus zaman. 

Pemaparan kemudian dilanjutkan oleh M. Fadloli Al Hakim, S.Pd., M.Or., selaku Ketua Tim Peneliti yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Sistem Arsip Data dan Informasi INISNU Temanggung. Ia memaparkan konsep teknis game yang tengah dikembangkan, yang berfokus pada narasi sejarah lokal.

Beberapa poin utama dalam pengembangan game ini meliputi:

- Pengenalan Sembilan Desa Kuno: Mengangkat desa-desa di Temanggung yang memiliki nilai historis tinggi sebagai konten utama permainan.

- Narasi Sejarah Pikatan: Mengintegrasikan sejarah Pikatan ke dalam alur cerita (storyline) game untuk memberikan edukasi sejarah yang interaktif.

- Kolaborasi Multisektor: Membangun ekosistem yang melibatkan pendidik, budayawan, dan kreator kreatif.

Melalui langkah ini, tim berharap dapat melahirkan inovasi digital yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga memiliki akar yang kuat pada kearifan lokal Temanggung. (*)