Hadroh Trisula Temanggung

Hadroh Trisula Temanggung

Pasang Iklanmu Di Sini!


SEMARANG, Hariantemanggung.com
— Dalam upaya menumbuhkan budaya komunikasi yang anggun, efektif, dan berwibawa di lingkungan pendidikan, Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus Dewi Kunthi Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, sukses menyelenggarakan agenda pengembangan diri bertajuk "Public Speaking for Teacher".

Kegiatan yang sarat akan nilai-nilai edukatif dan kebahasaan ini dipusatkan di SDN Patemon 02 pada Rabu, 22 Juli 2026. Berlangsung dengan penuh khidmat dan antusiasme tinggi mulai pukul 13.00 hingga 15.00 WIB, forum ilmiah ini menjadi ruang kaji yang hangat bagi para pendidik.

Tidak kurang dari 100 insan pendidik yang terdiri atas guru sekolah dasar se-Gugus Dewi Kunthi hadir memadati lokasi acara. Kehadiran para peserta yang antusias merefleksikan dahaga intelektual yang tinggi untuk terus meningkatkan derajat profesionalisme serta kualitas kepemimpinan pedagogis mereka.

Guna memberikan kedalaman materi dan wawasan ilmiah yang komprehensif, KKG Gugus Dewi Kunthi menghadirkan narasumber yang sangat mumpuni di bidang kebahasaan dan retorika, yaitu Diyamon Prasandha, S.Pd., M.Pd., akademisi sekaligus dosen bahasa dari Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Fokus utama pembahasan dalam pelatihan ini tertuju pada seni retorika berbicara, khususnya tatkala seorang pendidik mengemban amanah sebagai pewara (Master of Ceremony) dalam pelbagai perhelatan resmi sekolah maupun forum formal kemasyarakatan.

Dalam pemaparannya yang memikat, Diyamon menekankan bahwa menjadi seorang pewara tidak sekadar urusan membacakan lembaran susunan acara dari awal hingga akhir, melainkan sebuah keahlian memimpin suasana dengan keindahan tutur kata.

"Asal memandu acara barangkali setiap orang bisa, namun tidak semua mampu memandu acara secara memesona dan sesuai kaidylah bahasa," ujar Diyamon di hadapan seratusan peserta yang menyimak dengan penuh perhatian.

Pernyataan filosofis tersebut menegaskan bahwa daya pikat seorang pembawa acara terletak pada harmonisasi antara artikulasi yang presisi, kedalaman makna, serta kepatuhan terhadap kaidah kebahasaan yang berlaku tanpa mengorbankan estetika.

Lebih lanjut, Diyamon membongkar anggapan keliru yang selama ini membelenggu para guru terkait penerapan bahasa formal. Menurutnya, kesantunan dan kepatuhan pada tata bahasa baku tidak boleh menjelma menjadi benteng kaku yang merusak kehangatan komunikasi.

"Bahasa baku tak harus kaku," tegas Dosen UNNES tersebut. Ia menggarisbawahi pentingnya keluwesan tutur kata agar pesan yang disampaikan mampu meresap dengan elok ke sanubari setiap pendengar.

Sesi materi menjadi semakin bernas tatkala narasumber membedah secara mendalam berbagai problematika diksi yang acap kali keliru digunakan dalam praktik kepewaraan di lingkungan sekolah, seperti kekeliruan pemakaian kata depan, pleonasme, hingga intonasi yang kurang tepat.

Pembahasan mengenai problematika diksi ini menjadi cermin reflektif bagi bapak dan ibu guru peserta KKG, yang selama ini kerap dihadapkan pada keraguan dalam memilih padanan kata yang tepat saat memandu prosesi acara formal.

Atmosfer pelatihan terasa begitu dinamis dan menyenangkan. Para peserta menyerap setiap bulir ilmu dengan antusiasme tinggi, mengingat topik retorika publik dan kepewaraan secara komprehensif semacam ini terbilang langka dan sangat berharga dalam forum KKG.

Kehangatan acara kian membuncah ketika memasuki sesi unjuk kerja. Beberapa perwakilan guru dengan penuh keberanian dan keanggunan melangkah ke depan untuk mempraktikkan perannya sebagai pewara di bawah pengamatan langsung narasumber.

Umpan balik konstruktif, bimbingan artikulasi, hingga penataan vokal diberikan secara kontekstual oleh Diyamon kepada para guru yang berpraktik, menciptakan suasana belajar interaktif yang kaya akan wawasan practical.

Perhelatan bernilai tinggi ini ditutup secara resmi pada pukul 15.00 WIB, meninggalkan rekam jejak inspiratif bagi KKG Gugus Dewi Kunthi untuk terus berkomitmen melahirkan insan pendidik yang tidak hanya unggul dalam mengajar, tetapi juga memesona dalam bertutur kata.


SEMARANG, Hariantemanggung.com
— Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus Dewi Kunthi Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan profesionalisme para pendidik. Bertempat di SDN Patemon 02, KKG Gugus Dewi Kunthi sukses menggelar kegiatan pengembangan diri bertajuk "Public Speaking for Teacher". Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 22 Juli 2026 ini dihadiri oleh kurang lebih 100 guru sekolah dasar se-Gugus Dewi Kunthi yang antusias mengasah keterampilan bicaranya di depan umum.

Dimulai tepat pada pukul 13.00 hingga 15.00 WIB, suasana ruang pertemuan SDN Patemon 02 dipenuhi energi positif dan semangat belajar para peserta. Pelatihan ini diselenggarakan untuk menjawab kebutuhan para pendidik yang kerap dihadapkan pada berbagai momen penting, baik saat mengajar di kelas, memimpin rapat, hingga memandu acara resmi sekolah.

Guna memberikan pemahaman yang mendalam dan aplikatif, KKG Gugus Dewi Kunthi menghadirkan narasumber yang sangat kompeten di bidangnya, yaitu Diyamon Prasandha, S.Pd., M.Pd., seorang dosen ternama dari Universitas Negeri Semarang (UNNES). Kehadiran akademisi sekaligus praktisi komunikasi ini menjadi magnet tersendiri bagi para peserta yang ingin menimba ilmu langsung dari ahlinya.

Dalam paparan materinya, Diyamon berfokus pada pentingnya penguasaan teknik retorika berbicara, khususnya peran guru ketika bertindak sebagai pewara (Master of Ceremony). Menurutnya, tugas seorang pewara di lingkungan sekolah tidak sekadar membacakan susunan acara, melainkan membawa atmosfer kegiatan menjadi lebih hidup dan bermakna.

"Asal memandu acara barangkali setiap orang bisa, namun tidak semua mampu memandu acara secara memesona dan sesuai kaidah bahasa," tegas Diyamon di hadapan seratusan peserta yang menyimak dengan saksama. Pernyataan tersebut membuka kesadaran para guru bahwa berbicara di depan publik membutuhkan kombinasi antara seni, teknik, dan pemahaman tata bahasa yang tepat.

Diyamon juga meluruskan anggapan umum terkait penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar saat menjadi pewara. Ia menekankan pentingnya fleksibilitas tanpa menghilangkan esensi kesopanan dan formalitas acara. Menurutnya, penggunaan bahasa baku dalam situasi formal tidak boleh menjadi penghambat kelancaran komunikasi.

"Bahasa baku tak harus kaku," tambah dosen UNNES tersebut. Penjelasan ini memberikan wawasan baru bagi para guru bahwa pembawaan acara yang formal tetap bisa dibawakan dengan luwes, hangat, dan komunikatif tanpa mengurangi kekhidmatan acara itu sendiri.

Kegiatan pelatihan ini tampak sangat menarik dan interaktif dari awal hingga akhir. Antusiasme peserta tergolong sangat tinggi mengingat topik public speaking dan teknik pembawa acara merupakan materi yang terbilang cukup asyik, menyegarkan, serta jarang diterima oleh guru dalam agenda KKG rutin sehari-hari.

Tidak hanya mendengarkan teori, suasana pelatihan semakin hidup ketika memasuki sesi praktik langsung. Beberapa perwakilan guru dengan percaya diri maju ke depan untuk mempraktikkan peran sebagai pewara. Sesi simuIasi ini disambut riuh tepuk tangan dan tawa hangat dari para peserta lainnya.

Dalam sesi praktik tersebut, Diyamon memberikan evaluasi secara langsung (point-to-point) terkait intonasi, artikulasi, sikap tubuh (gesture), hingga pemilihan kata yang digunakkan oleh para guru. Bimbingan langsung ini membuat para peserta mendapatkan umpan balik yang sangat berguna untuk perbaikan teknik berbicara mereka ke depan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para guru di Gugus Dewi Kunthi semakin percaya diri saat tampil berbicara di depan umum, baik di lingkungan internal sekolah maupun dalam forum yang lebih luas. Penguasaan public speaking yang baik diyakini akan menunjang kualitas kepemimpinan pendidik serta memperkuat citra positif sekolah.

Rangkaian acara Public Speaking for Teacher ini resmi ditutup pada pukul 15.00 WIB dengan kesan yang sangat mendalam bagi seluruh peserta. KKG Gugus Dewi Kunthi berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program pelatihan inovatif dan relevan demi mendukung transformasi kualitas pendidikan di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


Yogyakarta, Hariantemanggung.com
 - Sivitas akademika Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung sukses mengukir prestasi gemilang di kancah internasional. Dosen dan mahasiswa dari kampus tersebut berhasil memborong gelar juara dalam ajang International Competition Academic and Innovation (ICAI) 2026 yang berlangsung di Grand Kangen Hotel, Yogyakarta, Minggu (19/7/2026).

Kompetisi akademik bergengsi yang diinisiasi oleh Komunitas Kolaborasi Dosen Lintas Negara ini diikuti oleh 112 dosen dan 80 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Persaingan terbilang sengit karena melibatkan peserta dari tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia, dan Suriname. Ajang ini menjadi wadah krusial bagi para akademisi global untuk mempresentasikan riset inovatif sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi internasional.

Pada kategori Ekonomi Syariah, dosen INISNU Temanggung, Dr. Fatmawati Sungkawaningrum, sukses mengamankan Juara 1. Ia mempresentasikan artikel ilmiah berjudul "Economic Vulnerability of Small Producers Due to Income Uncertainty and Institutional Asymmetry."

Riset yang disusun bersama (Cand. Dr.) Navirta Ayu M.E (STAI Yogyakarta) dan Drs. Mohamad Abdul Munjid M.S.I (INISNU Temanggung) ini membedah kerentanan ekonomi produsen skala kecil akibat ketidakpastian pendapatan. Melalui penelitian tersebut, mereka menawarkan rekomendasi konkret terkait regulasi untuk memperkuat ketahanan ekonomi pelaku usaha kecil.

Prestasi ini kian lengkap setelah tim mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah INISNU Temanggung turut menyabet Juara 2. Di bawah bimbingan langsung Dr. Fatmawati, tim yang digawangi oleh Alifia Choirun N., Kinanti Sayekti A., dan Sikta Aulia R. ini tampil memukau lewat riset bertajuk "Strategi Packing dan Branding Syariah sebagai Instrumen Penurunan Biaya Produksi UMKM." Mereka menyoroti pentingnya efisiensi biaya produksi lewat pengemasan berbasis syariah demi mendongkrak daya saing UMKM.

Keberhasilan luar biasa ini membuktikan komitmen kuat INISNU Temanggung dalam membangun ekosistem riset dan inovasi yang mampu berbicara di tingkat global. Prestasi ini diharapkan menjadi pemantik api semangat bagi seluruh sivitas akademika untuk terus melahirkan karya ilmiah berkualitas yang berdampak langsung bagi masyarakat luas. (Red-HTM-MPP)


SALATIGA, Hariantemanggung.com
– Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH. Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) menyatakan niatnya untuk maju dalam kontestasi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar NU mendatang. Pernyataan tersebut disampaikan secara langsung di hadapan para Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Tengah dalam agenda silaturrahim di Salatiga, Rabu (15/7/2026) malam.

Forum yang dihadiri perwakilan PCNU se-Jawa Tengah itu semula menjadi ruang diskusi mengenai dinamika organisasi dan arah perjalanan NU menjelang Muktamar. Namun dalam kesempatan tersebut, Gus Rozin juga menyampaikan keputusan pribadinya untuk ikut berikhtiar dalam kontestasi kepemimpinan PBNU.

Dalam penyampaiannya, Gus Rozin menegaskan bahwa langkah tersebut bukan didorong oleh keinginan untuk memperuncing persaingan antartokoh. Menurutnya, yang lebih penting adalah mencari jalan keluar atas berbagai persoalan yang dihadapi organisasi serta menyiapkan masa depan NU yang lebih baik.

“Kita tidak usah mengulik tokoh-tokoh yang berkontestasi. Kita mencoba mengurai masalah yang ada,” ujar Gus Rozin.

Ia mengungkapkan bahwa keputusan untuk maju tidak diambil secara tiba-tiba. Sebelum menyampaikan niat tersebut, ia mengaku telah melakukan perenungan dan berdiskusi dengan sejumlah sahabat serta pengurus NU di berbagai daerah.

“Saya sempat berpikir lama dan akhirnya sekitar dua hari lalu, saya bersama teman-teman dan beberapa Ketua PCNU yang menghubungi saya, maka saya berikhtiar untuk berkontestasi pada Muktamar tahun ini,” ungkapnya.

Gus Rozin menyebut forum silaturrahim bersama para Ketua PCNU se-Jawa Tengah sebagai tempat yang tepat untuk menyampaikan niat tersebut secara terbuka. Selain sebagai bentuk ikhbar, ia juga memanfaatkan kesempatan itu untuk meminta doa dan dukungan dari para pengurus cabang yang selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdiannya di NU.

“Ini merupakan ikhbar sekaligus meminta doa kepada para Ketua PCNU se-Jawa Tengah. Saya melakukan ini karena saya berangkat dari Jawa Tengah, dan saya merasa bahwa para Ketua PCNU ini bukan orang lain,” ujarnya.

Meski menyatakan maju dalam kontestasi, Gus Rozin menekankan bahwa orientasi utamanya adalah memperkuat persatuan organisasi dan menghadirkan gagasan untuk masa depan NU. Dalam forum tersebut, ia kembali menyampaikan visinya mengenai NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat bagi kemaslahatan umat, bangsa, dan kemanusiaan.

“Kita ingin NU terwujud sebagai perkumpulan sosial keagamaan Islam yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat untuk kemaslahatan dan kesejahteraan Indonesia dan semesta,” katanya.

Pengasuh Pesantren Maslakul Huda-Pati ini juga mengajak seluruh jajaran PCNU se-Jawa Tengah untuk menjadikan Muktamar sebagai momentum konsolidasi dan penguatan organisasi, bukan arena yang memperlebar perbedaan. “Kita ingin NU terwujud sebagai perkumpulan sosial keagamaan Islam yang berdaulat, bermartabat dan bermanfaat untuk kemaslahatan dan kesejahteraan Indonesia dan semesta,” kata Gus Rozin.

Gagasan tersebut mendapat perhatian dari peserta yang hadir. Sejumlah pengurus cabang menilai pentingnya membangun ruang komunikasi yang lebih intensif antarlembaga dan antarkader agar proses menuju Muktamar dapat berjalan dengan baik serta menghasilkan keputusan yang membawa manfaat bagi jam’iyah dan jamaah.

Forum silaturahim itu juga menjadi wadah penyelarasan pandangan mengenai visi Nahdlatul Ulama ke depan. Para peserta sepakat bahwa tantangan yang dihadapi organisasi semakin kompleks, sehingga membutuhkan sosok kepemimpinan yang mampu menjaga marwah organisasi, sekaligus memperkuat kontribusi NU bagi masyarakat.

Menjelang berakhirnya acara, Gus Rozin kembali menegaskan pentingnya menjaga suasana yang kondusif di seluruh tingkatan organisasi. Ia berharap seluruh warga NU dapat menempatkan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan kelompok maupun pribadi.

“Yang harus kita menangkan adalah masa depan NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat. Muktamar harus menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan dan melanjutkan khidmah kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan,” tutur Rektor Institut Pesantren Mathali'ul Falah (IPMAFA) Pati.

Silaturahim PCNU se-Jawa Tengah tersebut ditutup dengan doa bersama dan komitmen untuk terus menjaga komunikasi serta memperkuat konsolidasi organisasi dalam menyongsong Muktamar yang damai, bermartabat, dan membawa kemanfaatan bagi seluruh warga Nahdlatul Ulama.