![]() |
| Ahmad Khudlori bersama tamu undangan |
Temanggung, Hariantemanggung.com - Anggota DPRD Kabupaten Temanggung Ahmad Khudlori menyebut acara sahur bersama yang digelar komunitas Gus Durian dan Lesbumi MWC NU Kecamatan Tembarak pada hari Kamis dini hari (5/3/2026). Hal ini sebagai momentum penting untuk merawat persatuan di tengah keberagaman. Acara yang menghadirkan Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di NU Center Tembarak itu dinilainya sebagai teladan nyata dalam merajut kebhinekaan lintas agama dan golongan.
Khudlori mengaku terkesan melihat ratusan warga dari berbagai agama Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, hingga penganut aliran kepercayaan duduk bersama dalam satu forum sahur dengan penuh keakraban. Menurutnya, pemandangan seperti itu tidak lahir begitu saja, melainkan hasil dari kerja panjang membangun kepercayaan antar komunitas.
“Saya terkesan bukan hanya dengan acaranya, tapi dengan semangat Ibu Nyai Sinta yang hadir bertahun-tahun tanpa pernah absen. Beliau datang bukan untuk pencitraan, tapi betul-betul ingin menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Itu teladan yang luar biasa,” kata Khudlori.
Ia menambahkan, selama ini masyarakat banyak berbicara soal meneladani Gus Dur. Namun malam itu, Khudlori mengaku tersadar bahwa Ibu Nyai Sinta pun layak dijadikan teladan sosok yang tidak hanya mewarisi nilai-nilai Gus Dur, tetapi juga menghidupkannya lewat tindakan nyata setiap Ramadan.
“Selain meneladani Gus Dur, kita juga perlu meneladani Ibu Nyai Sinta. Beliau hadir di tengah masyarakat kecil, duduk bersama kaum marjinal, mengajak semua orang bersatu. Ini yang harus kita teruskan,” ujarnya.
Pernyataan Khudlori sejalan dengan apa yang disampaikan Ibu Sinta dalam tausiahnya. Istri mendiang Presiden ke-4 RI itu menegaskan bahwa seluruh warga Indonesia, apapun suku dan agamanya, adalah saudara sebangsa yang tidak boleh saling memusuhi.
“Mereka saudara kita, yakin 100%. Yang boleh diperebutkan hanyalah kursi jabatan, tapi asal tidak dipakai untuk memecah belah bangsa justru harus dipakai untuk membangun,” tegas Ibu Sinta.
Ibu Sinta juga mengingatkan petuah almarhum Gus Dur bahwa tidak penting apapun agama seseorang, selama ia bisa berbuat baik untuk semua orang. Gus Dur, katanya, tidak pernah membangun tembok pemisah, melainkan selalu membangun jembatan antar sesama.
Khudlori berharap semangat yang tertangkap malam itu bisa terus hidup dan menular ke seluruh lapisan masyarakat Temanggung. Kerukunan antar umat beragama, tegasnya, harus diwujudkan dalam keseharian bukan sekadar jargon. Acara ditutup dengan menyanyikan bersama lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan Padamu Negeri sebagai ikrar bersama seluruh hadirin.





.jpeg)