Articles by "Kampus"
Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan


Magelang, Hariantemanggung.com
 - Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung terus memperluas peran strategisnya sebagai mitra pembangunan melalui penguatan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Salah satu langkah nyata diwujudkan melalui audiensi dengan Polres Magelang Kota untuk menjajaki kerja sama dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui PMB, penguatan literasi hukum bagi mahasiswa, serta peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis riset pada Kamis (30/7/2026).

Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Keaswajaan INISNU Temanggung, Andrian Gandi Wijanarko, M.Pd., menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai mitra strategis pemerintah dan institusi publik dalam menghadirkan solusi berbasis keilmuan.

"Kolaborasi antara perguruan tinggi dan institusi penegak hukum merupakan kebutuhan di era saat ini. Kampus memiliki sumber daya akademik, riset, dan pengabdian yang dapat dikolaborasikan untuk meningkatkan kualitas SDM sekaligus memperkuat pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, kami hadir tidak hanya untuk membangun jejaring, tetapi juga menawarkan kontribusi nyata melalui berbagai program yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," ungkap Gandi.

Audiensi dihadiri oleh jajaran pimpinan INISNU Temanggung, yaitu Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Keaswajaan Andrian Gandi Wijanarko, M.Pd., Wakil Rektor II Bidang SDM dan Kemahasiswaan Dr. Joni, M.Pd.B.I., Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama, Riset, dan Inovasi Dr. Husna Nashihin, M.Pd.I., Direktur Pascasarjana Dr. KH. Muhammad Syakur, S.Sy., M.H., Ketua Program Studi Magister Hukum Keluarga Islam Dr. Muhamad Jamal, S.H.I., S.H., M.H., serta Ketua Program Studi Sarjana Hukum Keluarga Islam H. Nashih Muhammad, S.H.I., M.H.


Rombongan diterima langsung oleh Kapolresta Magelang, AKBP Dikri Olfandi, S.E., S.I.K., M.M., M.I.K. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan produktif dengan membahas berbagai peluang sinergi, antara lain penyelenggaraan potensi kelas kerjasama, pelatihan dan peningkatan kapasitas SDM, kuliah umum, seminar, penyuluhan hukum, riset kolaboratif, pengabdian kepada masyarakat, hingga program pemberdayaan masyarakat berbasis kebutuhan kota Magelang.

Selain itu, dalam audiensi tersebut INISNU menawarkan layanan Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) terhadap pelayanan Polres Magelang Kota yang akan dilaksanakan oleh tim INISNU Temanggung. Survei ini dirancang sebagai instrumen akademik yang objektif untuk mengukur tingkat kepuasan masyarakat terhadap kualitas pelayanan kepolisian sekaligus menjadi dasar penyusunan rekomendasi peningkatan mutu layanan publik secara berkelanjutan.

Kapolresta Magelang, AKBP Dikri Olfandi, S.E., S.I.K., M.M., M.I.K., menyambut positif berbagai tawaran kolaborasi yang disampaikan INISNU Temanggung. Menurutnya, sinergi antara kepolisian dan perguruan tinggi akan memperkuat upaya peningkatan profesionalisme pelayanan, membangun budaya pelayanan prima, serta mempererat hubungan Polri dengan masyarakat melalui pendekatan akademik.

Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama, Riset, dan Inovasi, Dr. Husna Nashihin, M.Pd.I., menyampaikan bahwa hasil audiensi ini akan segera ditindaklanjuti melalui penyusunan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai dasar pelaksanaan berbagai program bersama bidang terkait di Polres Kota Magelang.

Selanjutnya, Kaprodi S2 Hukum Keluarga Islam, Dr. Muhamad Jamal, S.H.I., S.H., M.H.menyampaikan keunggulan layanan akademis melalui fleksibilitas pembelajaran dan sertifikat mediator bagi mahasiswa S2 INISNU Temanggung.

Melalui penjajakan kerja sama ini, INISNU Temanggung menegaskan komitmennya untuk menjadi mitra strategis bagi institusi pemerintah dalam pengembangan SDM, penguatan tata kelola pelayanan publik, serta pelaksanaan riset dan pengabdian yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan menjadi model sinergi antara perguruan tinggi dan kepolisian dalam mewujudkan pelayanan publik yang semakin profesional, dan akuntabel.

Temanggung, Hariantemanggung.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan inovasi berupa pemanfaatan alat penggiling kompos dalam program pembuatan pupuk kompos organik berbahan dasar kotoran ternak kepada Kelompok Tani Margi Lestari di Dusun Jurang, Desa Kemloko, Kecamatan Kranggan, Temanggung pada Selasa Pagi (28/07/2026). 

Inovasi tersebut diperkenalkan sebagai upaya meningkatkan kualitas pupuk organik sekaligus mendorong kemandirian petani dalam memenuhi kebutuhan pupuk melalui pemanfaatan sumber daya lokal.

Program ini dilaksanakan berdasarkan hasil observasi yang menunjukkan bahwa petani setempat belum menerapkan pengolahan pupuk kompos melalui prose
s fermentasi. Kotoran ternak umumnya dimanfaatkan secara langsung sebagai pupuk sehingga proses dekomposisi berlangsung lebih lama dan kualitas pupuk yang dihasilkan belum optimal. 

Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN memperkenalkan metode pembuatan kompos berbasis fermentasi yang dipadukan dengan penggunaan alat penggiling kompos sebagai inovasi dalam proses produksi. 

"Selama ini kotoran ternak biasanya langsung kami tebarkan ke lahan. Kami belum pernah mengolahnya menjadi kompos melalui fermentasi karena memang belum tahu caranya. Setelah mengikuti kegiatan ini, kami jadi paham kalau pengolahan yang benar bisa menghasilkan pupuk yang lebih baik," ujar Yono anggota kelompok tani.

Alat penggiling kompos menjadi salah satu teknologi tepat guna yang diperkenalkan kepada petani untuk menghasilkan bahan kompos dengan ukuran yang lebih seragam. Ukuran bahan yang lebih kecil dan homogen mampu mempercepat aktivitas mikroorganisme selama proses fermentasi sehingga penguraian bahan organik berlangsung lebih efektif. Selain mempercepat proses pengomposan, hasil penggilingan juga menghasilkan tekstur kompos yang lebih halus, merata, dan berkualitas sehingga lebih mudah diaplikasikan pada lahan pertanian.

Dalam kegiatan demonstrasi, mahasiswa KKN menjelaskan tahapan pembuatan kompos mulai dari pencampuran kotoran ternak dengan bahan pendukung, penambahan bioaktivator, proses fermentasi, hingga pemanfaatan alat penggiling pada tahap akhir untuk memperoleh kompos dengan ukuran partikel yang lebih seragam. Peserta juga diberikan kesempatan untuk mengoperasikan alat secara langsung sehingga dapat memahami prinsip kerja serta manfaatnya dalam meningkatkan efisiensi produksi kompos.

Pengenalan alat penggiling kompos mendapat respons positif dari para petani karena dinilai mampu menjadi solusi sederhana dalam meningkatkan mutu pupuk organik. Inovasi tersebut tidak hanya membantu menghasilkan kompos yang lebih berkualitas, tetapi juga memberikan gambaran mengenai penerapan teknologi tepat guna yang dapat diadaptasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa. 

"Harga pupuk kimia sekarang semakin mahal, jadi kalau kami bisa membuat pupuk organik sendiri tentu akan sangat membantu. Harapannya kompos ini bisa menjadi alternatif untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia sehingga biaya produksi pertanian juga bisa lebih hemat," ungkap Mariman anggota kelompok tani.

Melalui program ini, mahasiswa KKN-PPM UGM berharap inovasi pengolahan kompos berbasis fermentasi yang didukung penggunaan alat penggiling dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan produksi pupuk organik yang lebih berkualitas. Dengan memanfaatkan limbah kotoran ternak secara optimal dan mengadopsi teknologi sederhana, petani diharapkan semakin mandiri dalam penyediaan pupuk, mampu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, serta berkontribusi dalam menjaga kesuburan tanah dan keberlanjutan sektor pertanian.


Temanggung, Hariantemangggung.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) secara resmi disambut kedatangannya di Kantor Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, pada Senin pagi (22/6/2026). Suasana bahagia ini menandai dimulainya pengabdian mahasiswa UGM yang akan berlangsung selama 50 hari ke depan berlokasi di Desa Kemloko dan Desa Klepu.

Beberapa tokoh turut serta hadir dalam penyambutan ini. Tokoh-tokoh tersebut adalah Setyo Agung selaku sekretaris Kecamatan Kranggan yang mewakili Camat Kranggan, ada perwakilan Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama), perwakilan Bapperida Kabupaten Temanggung, dan perwakilan dari Puskesmas Kecamatan Kranggan. 

Selain itu, Kepala Desa Kemloko dan Kepala Desa Klepu, Kepala Dusun Jurang dan Mbolang, perwakilan Tim Penggerak PKK ikut mengahdiri undangan penyambutan mahasiswa KKN dari UGM.

Mahasiswa KKN-PPM UGM akan melaksanakan berbagai program pengabdian mulai 20 Juni hingga 8 Agustus 2026. Selama masa pengabdian tersebut, mahasiswa diharapkan dapat berkolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah setempat dalam menghadirkan inovasi serta solusi yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi wilayah.

Dalam sambutannya, Setyo Agung menyampaikan ucapan selamat datang kepada mahasiswa UGM yang akan melaksanakan KKN di wilayah Kecamatan Kranggan. Ia mengungkapkan rasa bangga atas kehadiran mahasiswa UGM dan berharap kegiatan KKN dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami berharap hadirnya mahasiswa KKN UGM ini dapat memberikan dampak positif dan solusi terhadap berbagai permasalahan yang ada,” tuturnya.

Sambungnya, harapannya mahasiswa UGM dapat mengaktifkan dan mengoptimalkan Rumah Digital di wilayah Kecamatan Kranggan. Program tersebut ditujukan untuk mendukung pemetaan lokasi yang lebih akurat serta meningkatkan akses informasi mengenai berbagai potensi daerah.

“Dengan pengaktifan dan pengoptimalan Rumah Digital, harapannya mampu memberikan informasi yang lebih akurat terkait berbagai lokasi yang ada serta mendorong kemudahan akses bagi wisatawan,” ujar Setyo Agung.

Program tersebut selaras dengan tema KKN-PPM UGM yang diusung di Desa Kemloko dan Desa Klepu, yakni “Perwujudan Desa Mandiri Melalui Peningkatan Kapasitas Sosial, Budaya, dan Ekonomi serta Pemberdayaan Potensi Daerah untuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat”. Melalui tema tersebut, mahasiswa diharapkan dapat berkontribusi dalam memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus mengembangkan potensi lokal yang dimiliki kedua desa.

Dengan adanya sinergi antara mahasiswa, pemerintah daerah, dan masyarakat, pelaksanaan KKN-PPM UGM di Desa Kemloko dan Desa Klepu diharapkan mampu memberikan dampak yang berkelanjutan serta mendukung terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan potensi daerah secara optimal.



Oleh: Joni MN

1. Pendahuluan

Temanggung, Hariantemanggung.com - Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang tidak hanya berkembang di ruang digital, tetapi juga merambah lingkungan pendidikan tinggi. Di tengah percepatan transformasi teknologi dan meningkatnya tuntutan produktivitas akademik, muncul gejala yang patut mendapat perhatian serius, yaitu menurunnya integritas sosial dan akademik dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam sejumlah kasus, praktik-praktik yang secara etis bermasalah mulai dianggap sebagai hal yang wajar, bahkan kerap dibenarkan demi memperoleh popularitas, pengakuan publik, atau pencapaian tertentu.

Fenomena tersebut tidak lagi dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan individu. Berbagai indikator menunjukkan adanya krisis nilai yang melibatkan ekosistem sosial, pendidikan, dan tata kelola pengetahuan secara lebih luas. Di ruang digital, misalnya, maraknya ujaran kebencian, disinformasi, dan perilaku komunikasi yang tidak beretika menunjukkan adanya penurunan kualitas tanggung jawab sosial dalam penggunaan teknologi. Kondisi ini menjadi cerminan bahwa tingkat pendidikan, status sosial, maupun identitas keagamaan tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas integritas seseorang.

Pada saat yang sama, dunia akademik juga menghadapi tantangan serupa. Meningkatnya tekanan untuk menghasilkan publikasi ilmiah, memperoleh pengakuan akademik, dan memenuhi indikator kinerja tertentu telah mendorong berkembangnya praktik-praktik yang mengarah pada komersialisasi publikasi dan orientasi kuantitas di atas kualitas. Situasi ini berpotensi menggeser fungsi utama ilmu pengetahuan sebagai sarana pencarian kebenaran menjadi sekadar instrumen pencapaian reputasi.

Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa pembenahan yang serius dari para pemangku kebijakan, khususnya pemerintah, maka yang terancam bukan hanya kualitas pendidikan tinggi, tetapi juga fondasi moral, intelektual, dan karakter bangsa. Pendidikan yang seharusnya membentuk manusia kritis, mandiri, dan berintegritas berisiko bergeser menjadi sistem yang lebih menekankan formalitas, kepatuhan administratif, dan ketergantungan, sehingga melemahkan daya kritis, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kemandirian intelektual. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat melahirkan generasi yang lebih mengejar pengakuan daripada kompetensi, lebih mengutamakan pencitraan daripada substansi, serta lebih memilih jalan pragmatis daripada nilai-nilai etis. Dampaknya tidak hanya dirasakan di dunia akademik, tetapi juga memengaruhi kualitas kepemimpinan, tata kelola kelembagaan, dan kehidupan demokrasi.

Karena itu, integritas harus dipandang sebagai isu strategis yang menentukan masa depan budaya keilmuan, kepercayaan publik, dan kualitas peradaban bangsa. Melemahnya budaya kejujuran bukan sekadar persoalan etika individu, melainkan gejala erosi nilai yang bersifat sistemik. Ketika manipulasi dianggap lumrah dan pencitraan lebih dihargai daripada kompetensi, maka yang dipertaruhkan adalah kredibilitas institusi pendidikan, mutu pengetahuan, dan kepercayaan sosial. Pada akhirnya, integritas bukan hanya persoalan moral, melainkan modal utama pembangunan bangsa. Tanpa kejujuran dan akuntabilitas, kemajuan yang dicapai akan rapuh, kehilangan legitimasi publik, dan sulit bertahan dalam jangka panjang.

2. Netizen Indonesia dan Krisis Etika Digital

Laporan Digital Civility Index (DCI) 2021 menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat kesantunan digital yang rendah. Skor Indonesia mencapai 76 poin, meningkat signifikan dibandingkan 67 poin pada tahun 2019. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, perundungan siber, hingga berbagai bentuk penipuan digital.

Para pengamat menilai bahwa rendahnya etika dalam ruang digital bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Ketidaksantunan di media sosial menunjukkan adanya pergeseran nilai sosial yang lebih luas, termasuk melemahnya budaya kejujuran dalam berbagai institusi formal, termasuk lembaga pendidikan. Ketika ruang publik dipenuhi informasi yang tidak terverifikasi dan komunikasi yang minim etika, maka kualitas literasi dan integritas masyarakat secara keseluruhan ikut terdampak.

3. Jurnal Predator dan Bisnis Publikasi Ilmiah

Krisis integritas tidak hanya terjadi di media sosial. Dunia akademik Indonesia juga menghadapi persoalan serius terkait maraknya praktik publikasi ilmiah yang berorientasi pada keuntungan ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir, publikasi ilmiah yang seharusnya menjadi sarana pengembangan ilmu pengetahuan justru mengalami pergeseran fungsi. Banyak akademisi terjebak dalam praktik publikasi pada jurnal predator, yakni jurnal yang mengabaikan proses penelaahan ilmiah (peer review) yang ketat demi memperoleh keuntungan finansial.

Fenomena ini diperparah oleh munculnya praktik paper mill, yaitu industri yang menyediakan jasa pembuatan artikel ilmiah secara instan, serta praktik jual-beli nama penulis atau kepengarangan akademik. Akibatnya, publikasi tidak lagi sepenuhnya mencerminkan kualitas penelitian, tetapi sering kali ditentukan oleh kemampuan finansial penulis. Sejumlah kajian internasional bahkan menunjukkan bahwa reputasi indeks publikasi bereputasi global juga menghadapi tantangan akibat berbagai bentuk manipulasi sitasi, rekayasa publikasi, dan praktik-praktik yang mengaburkan standar mutu akademik. Saat ini, berbagai kegiatan akademik, seperti kerja sama, seminar, dan aktivitas akademik lainnya, dalam banyak kasus lebih banyak dilaksanakan sebagai kegiatan seremonial. Perhatian sering kali tidak diberikan secara memadai terhadap kualitas proses pelaksanaannya, melainkan lebih berfokus pada dokumentasi kegiatan, publikasi berita, serta penyusunan laporan administratif. Bahkan, dalam beberapa kondisi, aspek publikasi dan dokumentasi dianggap lebih penting dibandingkan substansi pelaksanaan kegiatan itu sendiri. Akibatnya, kualitas kegiatan akademik sering kali tidak menjadi tanggung jawab utama, padahal nilai-nilai pendidikan sejatinya menempatkan kualitas proses dan kebermanfaatan sebagai tujuan utama.

Salah satu persoalan yang banyak mendapat sorotan adalah tingginya biaya publikasi atau Article Processing Charges (APC) yang harus dibayarkan penulis kepada sejumlah jurnal. Dalam praktiknya, biaya publikasi yang semakin mahal sering kali menimbulkan persepsi bahwa proses penerbitan artikel lebih ditentukan oleh kemampuan finansial penulis daripada kualitas substansi penelitian yang dihasilkan. Kondisi ini berpotensi mendorong munculnya berbagai bentuk penyimpangan akademik, termasuk manipulasi data, rekayasa hasil penelitian, hingga praktik yang dikenal sebagai Questionable Research Practices (QRP). Alih-alih menghasilkan temuan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sebagian penelitian justru diarahkan untuk memenuhi target administratif serta tuntutan birokrasi akademik.

4. Menyontek dan Plagiarisme Masih Mengakar

Gambaran mengenai kondisi integritas pendidikan Indonesia semakin terlihat dari hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024 yang menunjukkan bahwa praktik menyontek masih ditemukan pada sebagian besar institusi pendidikan. Data tersebut memperlihatkan bahwa budaya ketidakjujuran akademik belum sepenuhnya teratasi. Praktik plagiarisme, manipulasi tugas akademik, hingga berbagai bentuk pelanggaran etika masih menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan nasional.

Sejumlah akademisi menilai bahwa kondisi tersebut merupakan gejala dari budaya pendidikan yang terlalu menekankan capaian administratif dan kuantitatif dibandingkan proses pembelajaran yang substantif.

5. Budaya “Publish or Perish”

Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai dampak dari budaya publish or perish, yakni tekanan yang mendorong akademisi untuk terus menghasilkan publikasi demi memenuhi syarat kenaikan jabatan, akreditasi, maupun pengakuan institusi.

Dalam sistem yang terlalu berorientasi pada angka, keberhasilan sering kali diukur melalui jumlah artikel, indeks sitasi, dan berbagai indikator kuantitatif lainnya. Akibatnya, kualitas penelitian berpotensi tersisih oleh tuntutan produktivitas. Ketika target yang ditetapkan tidak sebanding dengan dukungan sumber daya penelitian yang tersedia, sebagian akademisi memilih jalan pintas yang berisiko mengorbankan integritas ilmiah.

6. Mengembalikan Martabat Ilmu Pengetahuan

Penguatan budaya integritas menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan Indonesia. Reformasi tidak cukup dilakukan melalui pengetatan regulasi, tetapi juga harus menyentuh perubahan paradigma. Publikasi ilmiah perlu dikembalikan pada tujuan utamanya, yakni menghasilkan pengetahuan yang valid, dapat dipertanggungjawabkan, dan bermanfaat bagi masyarakat. Selama publikasi masih dipandang sebagai target administratif semata, maka berbagai bentuk penyimpangan akan terus menemukan ruang untuk berkembang.

Indonesia membutuhkan transformasi budaya akademik yang menempatkan kejujuran, ketelitian metodologis, dan tanggung jawab ilmiah sebagai fondasi utama. Tanpa upaya tersebut, dunia pendidikan berisiko kehilangan kredibilitasnya sebagai penjaga kebenaran dan penggerak kemajuan bangsa. Krisis integritas yang terjadi hari ini sesungguhnya bukan hanya persoalan kampus atau media sosial. Ia merupakan cerminan kualitas peradaban. Ketika kejujuran mulai diperdagangkan dan ilmu pengetahuan berubah menjadi komoditas, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi akademik, melainkan masa depan bangsa itu sendiri.

7. Distingsi Akademik yang Semakin Kabur

Selain persoalan plagiarisme dan ketidakjujuran akademik, dunia pendidikan tinggi Indonesia juga menghadapi tantangan berupa semakin kaburnya distingsi atau pembeda kualitas lulusan pada jenjang magister dan doktoral. Dalam beberapa tahun terakhir, akses terhadap pendidikan pascasarjana memang semakin terbuka, sebuah perkembangan yang positif dalam perspektif demokratisasi pendidikan. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan kritis mengenai konsistensi standar akademik yang diterapkan dalam proses pendidikan, penelitian, pembimbingan, publikasi, dan penyelesaian tugas akhir.

Sebagian akademisi yang mengalami pendidikan pascasarjana pada periode sebelum 2016 menilai bahwa proses penyusunan tesis dan disertasi pada masa tersebut umumnya menuntut keterlibatan yang lebih intens dalam penelitian lapangan, penguasaan teori, kedalaman analisis, serta proses bimbingan yang relatif ketat. Meskipun penilaian ini tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh perguruan tinggi, fenomena tersebut memunculkan persepsi adanya pergeseran orientasi dari penekanan pada kualitas akademik menuju percepatan penyelesaian studi dan pemenuhan indikator administratif (Altbach, Reisberg, & de Wit, 2017; Marginson, 2016).

Fenomena ini sejalan dengan konsep credential inflation, yaitu kondisi ketika peningkatan jumlah pemegang gelar tidak selalu diikuti oleh peningkatan kualitas kompetensi yang setara (Collins, 1979). Akibatnya, gelar akademik berpotensi kehilangan sebagian fungsi distingtifnya sebagai indikator kapasitas intelektual dan kemampuan riset. Dalam konteks yang lebih luas, kondisi tersebut diperkuat oleh budaya publish or perish, tuntutan akreditasi, target kelulusan tepat waktu, dan berbagai indikator kuantitatif yang sering kali lebih mudah diukur dibandingkan kualitas berpikir kritis, kedalaman analisis, serta integritas ilmiah (Moosa, 2018).

Persoalan utama bukan terletak pada semakin banyaknya lulusan magister dan doktor, melainkan pada kemampuan sistem pendidikan tinggi untuk memastikan bahwa setiap gelar yang diberikan benar-benar merepresentasikan capaian akademik, kompetensi penelitian, dan integritas ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Ketika gelar lebih mudah diperoleh daripada kualitas yang seharusnya menyertainya, maka yang mengalami penurunan bukan hanya nilai sebuah ijazah, melainkan juga kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan tinggi itu sendiri.

 

8. Kesimpulan

Kajian ini menunjukkan bahwa krisis integritas di Indonesia tidak lagi dapat dipahami sebagai persoalan perilaku individu semata, melainkan telah berkembang menjadi persoalan sistemik yang menghubungkan ruang digital, pendidikan tinggi, dan tata kelola pengetahuan. Maraknya hoaks, ketidaksantunan digital, plagiarisme, jurnal predator, paper mill, manipulasi publikasi, budaya publish or perish, hingga kaburnya distingsi akademik menunjukkan adanya pergeseran orientasi dari kejujuran dan kompetensi menuju pencitraan, formalitas, dan pengakuan simbolik. Kajian ini menunjukkan bahwa krisis etika digital dan krisis integritas akademik sesungguhnya merupakan dua manifestasi dari akar persoalan yang sama, yaitu normalisasi ketidakjujuran dalam sistem sosial dan pendidikan. Ketika popularitas lebih dihargai daripada kualitas, sertifikat lebih dihargai daripada kompetensi, dan kuantitas lebih diutamakan daripada substansi, maka pendidikan berisiko kehilangan fungsi utamanya sebagai pembentuk karakter, penghasil pengetahuan yang kredibel, dan penjaga kebenaran ilmiah.

Kondisi pendidikan tinggi saat ini mengindikasikan terjadinya pergeseran fundamental dari culture of achievement (budaya prestasi) menuju culture of appearance (budaya penampilan). Dalam paradigma ini, keberhasilan diukur melalui simbol-simbol prestiseseperti gelar, jumlah publikasi, indeks sitasi, jabatan, dan popularitasalih-alih berdasarkan kualitas pemikiran, integritas, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Dampak dari pergeseran ini bersifat sistemik: integritas akademik, kualitas penelitian, dan kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan mengalami degradasi secara simultan. Oleh karena itu, evaluasi kualitas pendidikan tinggi tidak dapat lagi hanya bertumpu pada indikator kuantitatif seperti jumlah lulusan, peringkat akreditasi, atau posisi dalam daftar pemeringkatan institusi. Sebaliknya, kualitas harus diukur melalui kemampuan institusi dalam menjaga integritas, memproduksi pengetahuan yang valid, serta membentuk karakter individu yang jujur, kritis, mandiri, dan bertanggung jawab.

Secara fundamental, ancaman terbesar bagi pendidikan tinggi bukanlah keterbatasan sumber daya, melainkan hilangnya integritas sebagai fondasi utama ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa. Bangsa tidak akan runtuh karena kekurangan orang pintar; namun, negara berada dalam risiko kehancuran ketika jumlah orang jujur semakin berkurang.Ketika kejujuran menjadi komoditas yang dapat dibeli, publikasi ilmiah menjadi objek transaksi, dan pencitraan lebih dihargai daripada integritas serta kompetensi, maka yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi akademik, melainkan masa depan peradaban Indonesia. Jika fenomena ini dibiarkan berlangsung tanpa kajian dan peninjauan serius, narasi mengenai Indonesia Emas 2045 akan kehilangan relevansi dan sekadar menjadi khayalan. Tanpa transformasi nyata, bangsa ini berisiko melahirkan generasi "Pak Turut" yang bermental subordinat, yang tunduk dan terperbudak oleh orientasi harta serta jabatan semata.



Yogyakarta, Hariantemanggung.com
 - Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menunjukkan komitmen nyata terhadap pembangunan berkelanjutan dengan berpartisipasi dalam Lokakarya UI GreenMetric Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Tahun 2026 yang diselenggarakan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tanggal 28–29 April 2026.

Kegiatan nasional bertema “Integrasi UI GreenMetric dalam Mewujudkan Kampus Hijau Berbasis Ekoteologi” ini menjadi forum strategis bagi perguruan tinggi Islam di Indonesia untuk memperkuat peran akademik dalam menjawab tantangan krisis lingkungan global melalui integrasi ilmu pengetahuan, nilai keislaman, dan praktik keberlanjutan lingkungan.

Forum tersebut diikuti berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam, di antaranya UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dan UIN Antasari Banjarmasin bersama puluhan PTKI lainnya dari seluruh Indonesia, termasuk INISNU Temanggung.

Penandatanganan Komitmen Bersama SDGs GreenMetric

Salah satu agenda utama kegiatan adalah penandatanganan Piagam Komitmen Bersama Implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) melalui inisiatif Green Campus yang diikuti oleh 59 perguruan tinggi peserta, termasuk perwakilan INISNU Temanggung.

Komitmen bersama tersebut menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai:

1. pusat transformasi manusia inklusif dan berkelanjutan, 
2. pelopor pelestarian lingkungan melalui inovasi akademik, 
3. penggerak tata kelola kampus berbasis kemitraan global. 

Isu strategis yang dibahas meliputi pengelolaan infrastruktur berkelanjutan, efisiensi energi, mitigasi perubahan iklim, konservasi air, pengelolaan limbah, transportasi ramah lingkungan, serta penguatan pendidikan dan riset berbasis lingkungan.

INISNU Temanggung Dorong Kampus Berbasis Ekoteologi dan Kearifan Leluhur

Keikutsertaan INISNU Temanggung menjadi langkah penting dalam memperkuat arah kebijakan kampus menuju konsep green campus yang tidak hanya berbasis teknologi lingkungan, tetapi juga berakar pada kesadaran spiritual dan budaya masyarakat Nusantara.

Dalam perspektif ini, gagasan GreenMetric dan ekoteologi sesungguhnya bukan konsep baru bagi bangsa Indonesia. Nilai merawat bumi dan melestarikan alam telah lama hidup dalam warisan leluhur. Di tanah Jawa, misalnya, dikenal amanah budaya Memayu Hayuning Bawana, yaitu panggilan moral manusia untuk memperindah dunia, menjaga keseimbangan kehidupan, serta menghadirkan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Tradisi seperti Nyadran Gunung maupun Nyadran Kali juga menjadi simbol kearifan ekologis masyarakat, sebagai bentuk syukur sekaligus pengingat kolektif bahwa bumi bukan objek eksploitasi, melainkan titipan yang harus dirawat dan dilestarikan bersama. Praktik-praktik budaya tersebut menunjukkan bahwa konsep kampus hijau modern sejatinya merupakan kelanjutan nilai-nilai ekologis yang telah diwariskan oleh leluhur Nusantara.

Delegasi INISNU Temanggung mengikuti rangkaian diskusi akademik, lokakarya kebijakan, serta forum kolaborasi antarperguruan tinggi dalam pengembangan praktik terbaik pengelolaan lingkungan kampus yang berkelanjutan.

Pandangan Dr. Joni, M.Pd.B.I.: Merawat Bumi sebagai Amanah Wahyu dan Budaya

Dalam sesi diskusi tematik mengenai ekoteologi dan pendidikan berkelanjutan, perwakilan INISNU Temanggung, Dr. Joni, M.Pd.B.I., menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan harus berpijak pada kesadaran wahyu sekaligus kebijaksanaan lokal. Menurutnya, krisis lingkungan modern terjadi karena manusia memisahkan ilmu dari nilai dan teknologi dari moralitas.

“GreenMetric dan ekoteologi sejatinya menghidupkan kembali kesadaran lama yang sudah diwariskan leluhur kita. Islam melalui wahyu mengajarkan amanah kekhalifahan, sementara budaya Nusantara mengajarkan bagaimana amanah itu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa tradisi seperti Memayu Hayuning Bawana maupun ritual ekologis masyarakat merupakan bentuk pendidikan lingkungan yang telah berlangsung jauh sebelum konsep sustainability dikenal secara global.

“Ketika wahyu bertemu kearifan lokal, maka kampus tidak hanya membangun gedung hijau, tetapi membangun manusia yang sadar bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah,” tegasnya.

Menuju Kampus sebagai Agen Perubahan Berkelanjutan

Melalui forum UI GreenMetric 2026, diharapkan tercipta kolaborasi lebih luas antarperguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi pengelolaan lingkungan kampus yang berkelanjutan dan inklusif.

Bagi INISNU Temanggung, partisipasi ini menjadi bagian dari langkah strategis menuju kampus yang unggul secara akademik sekaligus memiliki tanggung jawab ekologis dan sosial. Dengan mengintegrasikan ilmu pengetahuan, nilai keislaman, serta kearifan lokal Nusantara, INISNU Temanggung berkomitmen menjadi bagian dari gerakan pendidikan tinggi yang tidak hanya mencerdaskan bangsa, tetapi juga menjaga kelestarian bumi sebagai amanah bersama umat manusia.


Purworejo, Hariantemanggung.com
– Tim Delegasi Peradilan Semu Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Syariah, Hukum, dan Ekonomi Islam (FSHEI) Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung berhasil meraih Juara 1 Nominasi Kompetisi Peradilan Semu Perdata Tingkat Nasional dalam ajang MOOT COURT COMPETITION FASYA FEST 2 yang digelar di IAI An-Nawawi Purworejo pada Ahad (12/10/2025).

Dalam kompetisi tersebut, tim INISNU Temanggung berhasil mengungguli lima delegasi lainnya yang masuk 6 (enam) besar, yakni HES IAI An-Nawawi Purworejo, HK STAI Yogyakarta, HKI IAI An-Nawawi Purworejo, HKI IAINU Kebumen, dan HKI IAI Ngawi.

Dekan FSHEI INISNU Temanggung, Sumarjoko, memberikan apresiasi atas capaian tersebut. 

“Saya sangat bangga dengan mahasiswa FSHEI INISNU yang masih sangat antusias untuk mengukir prestasi. Semoga hal ini menjadi pacuan untuk mahasiswa lainnya agar selalu bersemangat,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan oleh Kaprodi HKI, Nashih Muhammad, yang menekankan pentingnya pengalaman dan edukasi yang didapatkan mahasiswa dari kompetisi tersebut. 

“Alhamdulillah, selamat dan sukses. Tidak hanya pengalaman, banyak ilmu yang bisa dipelajari. Saya bangga mahasiswa kami bisa meraih juara bersaing dengan delegasi kampus lain,” katanya.

Pembimbing tim, Sarkanto, juga menyampaikan terima kasih kepada mahasiswa yang telah berjuang maksimal. Ia berharap pengalaman ini bisa diterapkan ketika mereka menjadi akademisi maupun praktisi hukum.

Sementara itu, salah satu anggota tim sekaligus Ketua HMPS HKI, Febri Rio Aliansyah, mengungkapkan rasa syukurnya atas kemenangan tersebut. 

“Awalnya kami tidak menyangka bisa meraih penghargaan ini karena keterbatasan pengalaman dan ilmu, tetapi dengan usaha bersama, kami mampu meraih hasil terbaik,” ujarnya.


Temanggung, Hariantemanggung.com
- Kelompok mahasiswa magang dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Terintegrasi dari Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung resmi melaksanakan kegiatan serah terima mahasiswa di Madrasah Aliyah (MA) Mu’allimin Temanggung pada hari Senin (6/10/2025).

Kegiatan ini dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Bapak Abdul Wahab, yang turut mendampingi proses serah terima kepada pihak madrasah mitra. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan harapan agar pihak MA Mu’allimin dapat memberikan arahan dan bimbingan kepada mahasiswa selama pelaksanaan kegiatan berlangsung.

“Kami berharap pihak madrasah dapat membantu dan mengarahkan mahasiswa dalam kegiatan magang serta KKN terintegrasi ini agar berjalan dengan baik,” ujar Abdul Wahab.

Sementara itu, Kepala MA Mu’allimin Temanggung, Bapak Faiz, menyambut kedatangan mahasiswa dengan penuh kehangatan. Ia menyampaikan bahwa meskipun jumlah murid di madrasah tersebut tidak terlalu banyak, ia berharap para mahasiswa dapat mengambil pengalaman berharga sebagai bekal menjadi pendidik di masa depan.

“Murid-murid kami memang tidak banyak, tapi semoga kalian bisa memperoleh hasil terbaik dan pengalaman nyata sebelum menjadi guru sesungguhnya,” tutur Faiz.

Menariknya, dalam kegiatan tersebut pihak MA Mu’allimin juga memberikan informasi mengenai akan dilaksanakannya Kegiatan Pengabdian Masyarakat (KPM), di mana para siswa madrasah akan diterjunkan ke beberapa desa tertentu. Mahasiswa magang dan KKN terintegrasi turut dilibatkan sebagai pendamping lapangan dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan KPM dijadwalkan berlangsung pada 13–27 Oktober 2025. Sementara itu, pada minggu pertama, mahasiswa difokuskan untuk melakukan observasi dan pengenalan lingkungan madrasah, serta mengenal karakteristik peserta didik di MA Mu’allimin.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah pembelajaran nyata bagi mahasiswa INISNU Temanggung dalam menerapkan teori pendidikan di lapangan serta memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan menengah di daerah. (hartem)


Temanggung, Hariantemanggung.com
– Terus menerus Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, khususnya Program Studi Magister Hukum Keluarga Islam (HKI) mengukir momen bersejarah. Untuk pertama kalinya, seorang mahasiswa pascasarjana dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan dan dalam waktu yang tergolong cepat, sekaligus menjadi lulusan perdana dari program tersebut.

Mahasiswa tersebut adalah Drs. K.H. Muhammad Shodiq Mubasyir, seorang tokoh pendidikan sekaligus pengasuh pondok pesantren, yang berhasil menyelesaikan sidang tesis dengan mengangkat topik “Maulud Janjanen sebagai Media Pendidikan Keluarga dan Pewarisan Budaya di Temanggung.”

Dalam penelitiannya, K.H. Shodiq menyoroti tradisi Maulud Janjanen bukan hanya sebagai bentuk perayaan keagamaan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter dalam keluarga dan pelestarian budaya lokal. “Tradisi ini tidak cukup hanya dikenang. Ia perlu dikaji, dilestarikan, dan dijadikan wahana pendidikan yang hidup di tengah masyarakat,” ungkapnya dalam sesi diskusi.

Sidang digelar pada Selasa pagi, (5/08/2025), dipimpin oleh Dr. Muh. Baehaqi, MM. sebagai Ketua Sidang dan Penguji II, bersama dua penguji lainnya, yaitu Dr. Syakur (Penguji I), yang menekankan metodologi dan keterkaitan dengan hukum keluarga, dan Dr. Joni, M.Pd.B.I. (Penguji III), yang mengulas aspek budaya dan etnopendidikan dalam tradisi Maulud Janjanen.

Sidang berlangsung selama dua jam dan ditutup dengan musyawarah tertutup. Hasilnya, mahasiswa dinyatakan lulus dengan predikat "Sangat Memuaskan" dan revisi minor.

Para penguji memuji kedalaman analisis, kontribusi ilmiah, dan relevansi konteks dari topik yang diangkat. Menurut Dr. Joni, “Ujian tesis bukan sekadar penilaian akhir, tapi juga proses menilai pemahaman mahasiswa terhadap pokok masalah dan kontribusinya bagi masyarakat. Penelitian itu bukan untuk pamer, tapi harus mampu menjawab persoalan nyata dan memberi manfaat,” ujarnya.


Sidang berlangsung di ruang ujian pascasarjana INISNU Temanggung, yang sederhana namun tertata rapi, menciptakan suasana akademik yang khidmat dan reflektif. Cahaya alami yang masuk melalui tirai hijau memperkuat kesan kesungguhan dalam mencetak lulusan yang berkualitas.

Kelulusan K.H. Muhammad Shodiq Mubasyir bukan hanya keberhasilan individu, tetapi menjadi tonggak penting bagi pengembangan Program Magister HKI INISNU Temanggung. Ia meletakkan dasar akademik yang kuat bagi generasi selanjutnya dan menunjukkan bahwa nilai budaya lokal dapat diangkat ke ranah akademik yang serius dan berdampak.

Momen ini menjadi pengingat bahwa komitmen terhadap keilmuan, integritas ilmiah, dan relevansi sosial adalah fondasi utama dalam membangun tradisi akademik yang bermakna, berakar pada nilai budaya, dan terbuka terhadap pembaruan zaman. (Red-Hartem-M)


Temanggung, Hariantemanggung.com
– Pemerintah Kabupaten Temanggung melalui Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinperinaker) terus berkomitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia berbasis keahlian. Salah satu program strategisnya adalah Pelatihan Tour Guide yang digelar oleh Pusat Kajian Budaya dan Bahasa (PKBB) BLKK INISNU Temanggung yang bekerja sama dengan Disnaker Kabupaten Temanggung. 

Kegiatan ini dilaksanakan mulai 30 Juni hingga 29 Juli 2025, dan menjadi bagian dari pelatihan berbasis kompetensi yang didanai oleh Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

Pelatihan ini menyasar keluarga petani tembakau, dengan harapan mereka bisa memiliki keterampilan baru untuk bersaing di sektor pariwisata. Para peserta dibekali kemampuan berbahasa Inggris, pemahaman budaya lokal, serta komunikasi lintas budaya agar siap menjadi pemandu wisata profesional.

Ketua Pusat Kajian Budaya dan Bahasa, Dr. Joni, M.Pd.B.I., menegaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya fokus pada keterampilan teknis, tetapi juga pembentukan karakter dan jati diri budaya. 

“Kami tidak hanya ingin mencetak pemandu wisata yang mahir, tetapi juga yang mampu menjadi duta budaya lokal. Masyarakat petani tembakau memiliki narasi yang kaya untuk dikenalkan pada dunia,” ujarnya.


Para peserta tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga terjun langsung ke lapangan melalui kegiatan hunting tourist di kawasan Candi Borobudur. Dalam sesi tersebut, peserta melakukan praktik langsung berkomunikasi dengan wisatawan asing menggunakan bahasa Inggris, sehingga membangun rasa percaya diri dan kesiapan kerja.

Instruktur utama, Nur Alfi Mu’anayah, S.S., M.Hum., menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran bersifat kontekstual dan aplikatif. 

“Kami tidak hanya mengajarkan grammar, tapi juga konteks sosial dan budaya yang akan mereka hadapi di lapangan. Karena seorang Tour Guide harus jadi jembatan yang ramah antara wisatawan dan masyarakat lokal,” ujarnya.

Pelatihan ini juga mencakup pembuatan media promosi wisata berupa poster, yang diajarkan oleh Riza Syaifulloh, desainer grafis muda. “Seorang Tour Guide tidak cukup hanya bisa bicara, tapi juga harus bisa menampilkan dan menjual destinasi. Poster yang menarik adalah pintu pertama ketertarikan wisatawan,” jelasnya.

Kepala BLK Kabupaten Temanggung, Beny, saat melakukan monitoring, mengungkapkan kebanggaannya terhadap hasil pelatihan. “Progresnya sangat membuat kita bersemangat, karena dalam baru 15 pertemuan, mereka sudah bisa mempromosikan kota Temanggung dengan berbahasa Inggris dan bercakap-cakap secara aktif,” katanya.

Acara penutupan dilaksanakan pada Selasa, 29 Juli 2025, di Kantor Dinperinaker Temanggung. Dalam sambutannya, Bupati Temanggung, Agus Setiawan, menyampaikan apresiasi dan motivasi bagi seluruh peserta. 

“Ilmu dan keterampilan adalah bekal untuk mengakses peluang rezeki yang lebih luas. Kejar peluang di mana pun berada, dan jangan lelah untuk terus belajar,” tegasnya.

Salah satu peserta, Rofiq Hidayah, menyampaikan bahwa pelatihan ini memberi dampak besar bagi pengembangan diri. “Saya merasa pelatihan ini sangat bermanfaat. Kami tidak hanya belajar teori, tapi juga langsung praktik. Saya sekarang lebih percaya diri bicara dengan wisatawan asing dan ingin melanjutkan karier di sektor pariwisata,” ujarnya saat diwawancarai.


Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pelatihan kerja berbasis DBHCHT yang melibatkan 144 peserta dari berbagai jurusan, seperti menjahit, tata boga, barber, sablon grafis, dan otomotif. Namun, program Tour Guide menjadi sorotan utama karena keberhasilannya mengintegrasikan kemampuan bahasa, budaya, dan promosi wisata.

Kegiatan ditutup dengan penampilan storytelling berbahasa Inggris dari para peserta serta sesi foto bersama Bupati dan seluruh peserta pelatihan. Dengan adanya kolaborasi antarlembaga, pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal menuju profesionalisasi SDM pariwisata lokal berbasis budaya Temanggung. (Red-Hartem-MPP)


Temanggung, Hariantemanggung.com
- KOPRI PC PMII Temanggung bersama dengan KOPRI Komisariat Temanggung semeja dan menyapa Ibu Pancadewi ketua PKK Kabupaten Temanggung pada Rabu (26/03/25).

Pada kesempatan yang berbahagia kali ini KOPRI PC PMII menyampaikan sebuah visi dan misi yang akan digaungkan sebagi bentuk tupoksi KOPRI untuk Temanggung.

Beliau Ibu Pancadewi menyampaikan, "Saya tidak menginginkan apa-apa dalam hal ini saya bekerja dan bertindak murni untuk kebermanfaatan."

Beliau yang terhitung masih baru dalam jabatan ketua PKK sekaligus anggota dewan sangat mendukung visi dan misi KOPRI PMII Temanggung.

Ketua KOPRI PC PMII Temanggung Izzatin Nisa menyampaikan, "Ibu dalam visi dan misi KOPRI tentu kami menawarkan diri untuk membantu segala hal yang berkaitan dengan keadilan dan kebaikan untuk para perempuan terkhusus Temanggung . Kami mendukung dan tolong libatkan kami dalam upaya kebermanfaatan yang sedang ibu gaungkan."

"Kami berupaya ibu, untuk perempuan dan anak korban kekerasan atau KDRT bisa untuk mempunyai mental yang berani speak up." Tambah Kurnia Laili, aktivis KOPRI PMII Temanggung. 

Ibu Pancadewi juga mengungkap rasa bahagia dan syukur serta menyatakan ketersediaan untuk menggandeng dan melibatkan KOPRI PC PMII Temanggung dalam kegiatan kebermanfaatan bersama. (htm/taf)



Semarang, Hariantemanggung.com
- Penetapan Calon ketua umum PKC PMII Jawa Tengah oleh BPK konkoorcab XXIII 2025 telah usai. Tiga nama dinyatakan lolos sebagai calon ketua umum PKC PMII Jawa Tengah. pengambilan nomor urut berlangsung di gedung DPD RI, Kota Semarang pada Senin, 27 Januari 2025.

Muhammad Santoso, ketua BPK PKC PMII Jawa Tengah 2025 mengatakan bahwa "Pengambilan nomor urut calon ketua umum dan Kopri PKC PMII Jawa Tengah ini dijalankan dengan sedemikian rupa untuk kebaikan proses Konkoorcab kedepan. Harapannya proses demi proses Konkoorcab yang dilalui berjalan dengan baik, aman dan kondusif".

Pengambilan nomor urut dimulai dari calon ketua umum PKC PMII Jawa Tengah. Calon nomer urut satu, Chintami Budi Pertiwi dari PMII cabang Surakarta. Calon nomer urut dua, Ahmad Farichin dari PMII cabang Temanggung. Nomer urut tiga, Zaidul Huda dari cabang PMII Purworejo.

Setelah pengambilan nomor urut selesai, melalui wawancara Ahmad Farichin mengatakan, "Alhamdulillah bersyukur proses pengambilan nomor urut ini dapat diikuti secara seksama, bersyukur bisa sampai pada tahap ini dan mohon doa, dukungan dari sahabat PMII se Jawa Tengah agar berjalan lancar sampai proses ini selesai dan mendapatkan hasil yang maslahah".

"Mendapatkan nomer urut dua adalah keberuntungan, di tahun kemarin pilkada banyak para pemimpin yang terpilih dengan nomer urut dua, Presiden Prabowo-Gibran terpilih sebagai presiden dan wakil presiden nomer urut 2, Gubernur Jawa Tengah terpilih Bapak Ahmad Luthfi dan Taj Yasin juga nomer urut 2. Tapi ini organisasi PMII, Konkoorcab PMII, bukan pemilihan kepala daerah". 

Calon ketua umum PKC PMII Jawa Tengah nomer urut dua melanjutkan, "Semoga dengan mendapatkan nomer 2 ini, menjadi berkah dan penyemangat bagi saya pribadi untuk terus melanjutkan proses di Konkoorcab PKC PMII Jawa Tengah 2025 ini". (htm/sul)

Semarang, Hariantemanggung.com
- Pendaftaran calon Ketua umum PKC PMII Jawa Tengah sudah selesai. Ahmad Farichin mantan ketua umum PC PMII Temanggung periode 2022-2023 mendaftarkan diri sebagai calon ketua umum PKC PMII Jawa Tengah di sekretariat Badan Pekerja Konkoorcab (BPK) Jl.Wonodri, Kec. Semarang Selatan, Kota Semarang pada Rabu malam, 22 Januari 2025.

Farichin panggilan akrabnya, adalah kader PMII Temanggung. Berkuliah di Institut Islam Nahdlatul ulama Temanggung masuk pada tahun 2017 dan lulus pada tahun 2022. Ia merupakan mahasiswa yang sering aktif berorganisasi di kampus ataupun di luar kampus. 

Selama berkuliah ia aktif di organisasi yaitu pernah menjadi ketua umum lembaga dakwah kampus (LDK) Nusantara INISNU Temanggung 2018-2020, Ketua Senat Mahasiswa INISNU Temanggung 2020-2021. kemudian menjadi koordinator biro kaderisasi komisariat Trisula INISNU Temanggung tahun 2019-2020. Menjadi ketua Komisariat Trisula INISNU Temanggung 2020-2021, menjadi ketua PC PMII Temanggung tahun 2022-2023 dan menjadi pengurus PKC PMII Jawa Tengah sebagai sekretaris bidang aparatur dan penataan organisasi tahun 2023-2025. Ia juga aktif di dalam komunitas, salah satunya komunitas literasi Pena Aswaja sebagai pengembangan SDM dan organisasi.

Ia dilahirkan di Temanggung pada 15 Juni 1998. Mengenyam pendidikan formal di SD N 2 Soborejo, SMP N 2 Pringsurat, MA N Temanggung kemudian meraih gelar sarjana di INISNU Temanggung Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Pendidikan program studi Pendidikan Agama Islam. Selain pendidikan formal ia juga pernah nyantri di pondok pesantren Miftakhurrosyudin, Cekelan, Temanggung.

Meskipun berkiprah banyak dalam organisasi Farichin tetep menorehkan beberapa prestasi seperti juara lomba Musbaqah Qiraatil Kutub tingkat kabupaten Temanggung tahun 2018, Nominasi Lomba karya tulis ilmiah LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah tingkat nasional tahun 2019 dan Mendapat nominasi lomba Artikel dan Karya Jurnalistik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tingkat nasional tahun 2020.

Dengan bekal yang ia miliki, Farichin siap menjadi calon ketua PKC PMII Jawa Tengah dengan membawa visi "Bergerak Kolektif - Kolaboratif untuk PMII Jawa Tengah Berkelanjutan". (htm/sul)

Temanggung, Hariantemanggung.com - Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) STAI Syubbanul Wathon Magelang melaksanakan kegiatan benchmarking di Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengembangan kurikulum di Prodi MPI.

Acara yang diselenggarakan di ruang rapat INISNU Temanggung pada Kamis, (9/1/2025) diisi dengan diskusi yang mencakup berbagai aspek, mulai dari pengembangan materi ajar, metode pengajaran, hingga evaluasi mahasiswa. Delegasi dari STAI Syubbanul Wathon yang dipimpin oleh Ketua Prodi MPI, Dr. Dahlia, S. Pd. I., M. Pd. melakukan diskusi mendalam dengan pihak INISNU Temanggung diantaranya Dekan FTK, Andrian Gandi W, M.Pd., Kaprodi MPI, Zaidatul Arifah, M.Pd dan Delegasi LP2M, M.Fadloli Al Hakim, M.Or. 

Ketua Prodi MPI STAI Syubbanul Wathon, Dr. Dahlia, menyatakan, "Kegiatan benchmarking ini sangat penting untuk mendapatkan masukan dan pengalaman dari institusi lain yang sudah berkembang. Kami berharap dapat mengimplementasikan hasil diskusi ini untuk meningkatkan kualitas pendidikan di prodi kami."

Dari pihak INISNU, Zaidatul Arifah, M. Pd., yang juga merupakan Kepala Prodi MPI, menyambut baik kunjungan tersebut dan berbagi pengalaman dalam pengelolaan program studi serta penerapan teknologi dalam pembelajaran.

Kegiatan ini juga dilaksanakan penandatanganan nota kesepahaman antara kedua institusi, yang menandakan komitmen untuk saling mendukung dalam pengembangan pendidikan di masa depan.

Dengan kegiatan ini, diharapkan Prodi MPI STAI Syubbanul Wathon berkolaborasi dengan PS MPI FTK INISNU Temanggung dapat semakin berkontribusi dalam mencetak lulusan yang kompeten dan siap menghadapi tantangan di bidang pendidikan Islam. (htm/taf)