Articles by "Pendidikan"
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan


Magelang, Hariantemanggung.com
 - Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung terus memperluas peran strategisnya sebagai mitra pembangunan melalui penguatan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Salah satu langkah nyata diwujudkan melalui audiensi dengan Polres Magelang Kota untuk menjajaki kerja sama dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui PMB, penguatan literasi hukum bagi mahasiswa, serta peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis riset pada Kamis (30/7/2026).

Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Keaswajaan INISNU Temanggung, Andrian Gandi Wijanarko, M.Pd., menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai mitra strategis pemerintah dan institusi publik dalam menghadirkan solusi berbasis keilmuan.

"Kolaborasi antara perguruan tinggi dan institusi penegak hukum merupakan kebutuhan di era saat ini. Kampus memiliki sumber daya akademik, riset, dan pengabdian yang dapat dikolaborasikan untuk meningkatkan kualitas SDM sekaligus memperkuat pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, kami hadir tidak hanya untuk membangun jejaring, tetapi juga menawarkan kontribusi nyata melalui berbagai program yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," ungkap Gandi.

Audiensi dihadiri oleh jajaran pimpinan INISNU Temanggung, yaitu Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Keaswajaan Andrian Gandi Wijanarko, M.Pd., Wakil Rektor II Bidang SDM dan Kemahasiswaan Dr. Joni, M.Pd.B.I., Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama, Riset, dan Inovasi Dr. Husna Nashihin, M.Pd.I., Direktur Pascasarjana Dr. KH. Muhammad Syakur, S.Sy., M.H., Ketua Program Studi Magister Hukum Keluarga Islam Dr. Muhamad Jamal, S.H.I., S.H., M.H., serta Ketua Program Studi Sarjana Hukum Keluarga Islam H. Nashih Muhammad, S.H.I., M.H.


Rombongan diterima langsung oleh Kapolresta Magelang, AKBP Dikri Olfandi, S.E., S.I.K., M.M., M.I.K. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan produktif dengan membahas berbagai peluang sinergi, antara lain penyelenggaraan potensi kelas kerjasama, pelatihan dan peningkatan kapasitas SDM, kuliah umum, seminar, penyuluhan hukum, riset kolaboratif, pengabdian kepada masyarakat, hingga program pemberdayaan masyarakat berbasis kebutuhan kota Magelang.

Selain itu, dalam audiensi tersebut INISNU menawarkan layanan Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) terhadap pelayanan Polres Magelang Kota yang akan dilaksanakan oleh tim INISNU Temanggung. Survei ini dirancang sebagai instrumen akademik yang objektif untuk mengukur tingkat kepuasan masyarakat terhadap kualitas pelayanan kepolisian sekaligus menjadi dasar penyusunan rekomendasi peningkatan mutu layanan publik secara berkelanjutan.

Kapolresta Magelang, AKBP Dikri Olfandi, S.E., S.I.K., M.M., M.I.K., menyambut positif berbagai tawaran kolaborasi yang disampaikan INISNU Temanggung. Menurutnya, sinergi antara kepolisian dan perguruan tinggi akan memperkuat upaya peningkatan profesionalisme pelayanan, membangun budaya pelayanan prima, serta mempererat hubungan Polri dengan masyarakat melalui pendekatan akademik.

Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama, Riset, dan Inovasi, Dr. Husna Nashihin, M.Pd.I., menyampaikan bahwa hasil audiensi ini akan segera ditindaklanjuti melalui penyusunan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai dasar pelaksanaan berbagai program bersama bidang terkait di Polres Kota Magelang.

Selanjutnya, Kaprodi S2 Hukum Keluarga Islam, Dr. Muhamad Jamal, S.H.I., S.H., M.H.menyampaikan keunggulan layanan akademis melalui fleksibilitas pembelajaran dan sertifikat mediator bagi mahasiswa S2 INISNU Temanggung.

Melalui penjajakan kerja sama ini, INISNU Temanggung menegaskan komitmennya untuk menjadi mitra strategis bagi institusi pemerintah dalam pengembangan SDM, penguatan tata kelola pelayanan publik, serta pelaksanaan riset dan pengabdian yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan menjadi model sinergi antara perguruan tinggi dan kepolisian dalam mewujudkan pelayanan publik yang semakin profesional, dan akuntabel.

Temanggung, Hariantemanggung.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan inovasi berupa pemanfaatan alat penggiling kompos dalam program pembuatan pupuk kompos organik berbahan dasar kotoran ternak kepada Kelompok Tani Margi Lestari di Dusun Jurang, Desa Kemloko, Kecamatan Kranggan, Temanggung pada Selasa Pagi (28/07/2026). 

Inovasi tersebut diperkenalkan sebagai upaya meningkatkan kualitas pupuk organik sekaligus mendorong kemandirian petani dalam memenuhi kebutuhan pupuk melalui pemanfaatan sumber daya lokal.

Program ini dilaksanakan berdasarkan hasil observasi yang menunjukkan bahwa petani setempat belum menerapkan pengolahan pupuk kompos melalui prose
s fermentasi. Kotoran ternak umumnya dimanfaatkan secara langsung sebagai pupuk sehingga proses dekomposisi berlangsung lebih lama dan kualitas pupuk yang dihasilkan belum optimal. 

Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN memperkenalkan metode pembuatan kompos berbasis fermentasi yang dipadukan dengan penggunaan alat penggiling kompos sebagai inovasi dalam proses produksi. 

"Selama ini kotoran ternak biasanya langsung kami tebarkan ke lahan. Kami belum pernah mengolahnya menjadi kompos melalui fermentasi karena memang belum tahu caranya. Setelah mengikuti kegiatan ini, kami jadi paham kalau pengolahan yang benar bisa menghasilkan pupuk yang lebih baik," ujar Yono anggota kelompok tani.

Alat penggiling kompos menjadi salah satu teknologi tepat guna yang diperkenalkan kepada petani untuk menghasilkan bahan kompos dengan ukuran yang lebih seragam. Ukuran bahan yang lebih kecil dan homogen mampu mempercepat aktivitas mikroorganisme selama proses fermentasi sehingga penguraian bahan organik berlangsung lebih efektif. Selain mempercepat proses pengomposan, hasil penggilingan juga menghasilkan tekstur kompos yang lebih halus, merata, dan berkualitas sehingga lebih mudah diaplikasikan pada lahan pertanian.

Dalam kegiatan demonstrasi, mahasiswa KKN menjelaskan tahapan pembuatan kompos mulai dari pencampuran kotoran ternak dengan bahan pendukung, penambahan bioaktivator, proses fermentasi, hingga pemanfaatan alat penggiling pada tahap akhir untuk memperoleh kompos dengan ukuran partikel yang lebih seragam. Peserta juga diberikan kesempatan untuk mengoperasikan alat secara langsung sehingga dapat memahami prinsip kerja serta manfaatnya dalam meningkatkan efisiensi produksi kompos.

Pengenalan alat penggiling kompos mendapat respons positif dari para petani karena dinilai mampu menjadi solusi sederhana dalam meningkatkan mutu pupuk organik. Inovasi tersebut tidak hanya membantu menghasilkan kompos yang lebih berkualitas, tetapi juga memberikan gambaran mengenai penerapan teknologi tepat guna yang dapat diadaptasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa. 

"Harga pupuk kimia sekarang semakin mahal, jadi kalau kami bisa membuat pupuk organik sendiri tentu akan sangat membantu. Harapannya kompos ini bisa menjadi alternatif untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia sehingga biaya produksi pertanian juga bisa lebih hemat," ungkap Mariman anggota kelompok tani.

Melalui program ini, mahasiswa KKN-PPM UGM berharap inovasi pengolahan kompos berbasis fermentasi yang didukung penggunaan alat penggiling dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan produksi pupuk organik yang lebih berkualitas. Dengan memanfaatkan limbah kotoran ternak secara optimal dan mengadopsi teknologi sederhana, petani diharapkan semakin mandiri dalam penyediaan pupuk, mampu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, serta berkontribusi dalam menjaga kesuburan tanah dan keberlanjutan sektor pertanian.


Temanggung, Hariantemangggung.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) secara resmi disambut kedatangannya di Kantor Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, pada Senin pagi (22/6/2026). Suasana bahagia ini menandai dimulainya pengabdian mahasiswa UGM yang akan berlangsung selama 50 hari ke depan berlokasi di Desa Kemloko dan Desa Klepu.

Beberapa tokoh turut serta hadir dalam penyambutan ini. Tokoh-tokoh tersebut adalah Setyo Agung selaku sekretaris Kecamatan Kranggan yang mewakili Camat Kranggan, ada perwakilan Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama), perwakilan Bapperida Kabupaten Temanggung, dan perwakilan dari Puskesmas Kecamatan Kranggan. 

Selain itu, Kepala Desa Kemloko dan Kepala Desa Klepu, Kepala Dusun Jurang dan Mbolang, perwakilan Tim Penggerak PKK ikut mengahdiri undangan penyambutan mahasiswa KKN dari UGM.

Mahasiswa KKN-PPM UGM akan melaksanakan berbagai program pengabdian mulai 20 Juni hingga 8 Agustus 2026. Selama masa pengabdian tersebut, mahasiswa diharapkan dapat berkolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah setempat dalam menghadirkan inovasi serta solusi yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi wilayah.

Dalam sambutannya, Setyo Agung menyampaikan ucapan selamat datang kepada mahasiswa UGM yang akan melaksanakan KKN di wilayah Kecamatan Kranggan. Ia mengungkapkan rasa bangga atas kehadiran mahasiswa UGM dan berharap kegiatan KKN dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami berharap hadirnya mahasiswa KKN UGM ini dapat memberikan dampak positif dan solusi terhadap berbagai permasalahan yang ada,” tuturnya.

Sambungnya, harapannya mahasiswa UGM dapat mengaktifkan dan mengoptimalkan Rumah Digital di wilayah Kecamatan Kranggan. Program tersebut ditujukan untuk mendukung pemetaan lokasi yang lebih akurat serta meningkatkan akses informasi mengenai berbagai potensi daerah.

“Dengan pengaktifan dan pengoptimalan Rumah Digital, harapannya mampu memberikan informasi yang lebih akurat terkait berbagai lokasi yang ada serta mendorong kemudahan akses bagi wisatawan,” ujar Setyo Agung.

Program tersebut selaras dengan tema KKN-PPM UGM yang diusung di Desa Kemloko dan Desa Klepu, yakni “Perwujudan Desa Mandiri Melalui Peningkatan Kapasitas Sosial, Budaya, dan Ekonomi serta Pemberdayaan Potensi Daerah untuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat”. Melalui tema tersebut, mahasiswa diharapkan dapat berkontribusi dalam memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus mengembangkan potensi lokal yang dimiliki kedua desa.

Dengan adanya sinergi antara mahasiswa, pemerintah daerah, dan masyarakat, pelaksanaan KKN-PPM UGM di Desa Kemloko dan Desa Klepu diharapkan mampu memberikan dampak yang berkelanjutan serta mendukung terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan potensi daerah secara optimal.



Oleh: Joni MN

1. Pendahuluan

Temanggung, Hariantemanggung.com - Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang tidak hanya berkembang di ruang digital, tetapi juga merambah lingkungan pendidikan tinggi. Di tengah percepatan transformasi teknologi dan meningkatnya tuntutan produktivitas akademik, muncul gejala yang patut mendapat perhatian serius, yaitu menurunnya integritas sosial dan akademik dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam sejumlah kasus, praktik-praktik yang secara etis bermasalah mulai dianggap sebagai hal yang wajar, bahkan kerap dibenarkan demi memperoleh popularitas, pengakuan publik, atau pencapaian tertentu.

Fenomena tersebut tidak lagi dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan individu. Berbagai indikator menunjukkan adanya krisis nilai yang melibatkan ekosistem sosial, pendidikan, dan tata kelola pengetahuan secara lebih luas. Di ruang digital, misalnya, maraknya ujaran kebencian, disinformasi, dan perilaku komunikasi yang tidak beretika menunjukkan adanya penurunan kualitas tanggung jawab sosial dalam penggunaan teknologi. Kondisi ini menjadi cerminan bahwa tingkat pendidikan, status sosial, maupun identitas keagamaan tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas integritas seseorang.

Pada saat yang sama, dunia akademik juga menghadapi tantangan serupa. Meningkatnya tekanan untuk menghasilkan publikasi ilmiah, memperoleh pengakuan akademik, dan memenuhi indikator kinerja tertentu telah mendorong berkembangnya praktik-praktik yang mengarah pada komersialisasi publikasi dan orientasi kuantitas di atas kualitas. Situasi ini berpotensi menggeser fungsi utama ilmu pengetahuan sebagai sarana pencarian kebenaran menjadi sekadar instrumen pencapaian reputasi.

Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa pembenahan yang serius dari para pemangku kebijakan, khususnya pemerintah, maka yang terancam bukan hanya kualitas pendidikan tinggi, tetapi juga fondasi moral, intelektual, dan karakter bangsa. Pendidikan yang seharusnya membentuk manusia kritis, mandiri, dan berintegritas berisiko bergeser menjadi sistem yang lebih menekankan formalitas, kepatuhan administratif, dan ketergantungan, sehingga melemahkan daya kritis, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kemandirian intelektual. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat melahirkan generasi yang lebih mengejar pengakuan daripada kompetensi, lebih mengutamakan pencitraan daripada substansi, serta lebih memilih jalan pragmatis daripada nilai-nilai etis. Dampaknya tidak hanya dirasakan di dunia akademik, tetapi juga memengaruhi kualitas kepemimpinan, tata kelola kelembagaan, dan kehidupan demokrasi.

Karena itu, integritas harus dipandang sebagai isu strategis yang menentukan masa depan budaya keilmuan, kepercayaan publik, dan kualitas peradaban bangsa. Melemahnya budaya kejujuran bukan sekadar persoalan etika individu, melainkan gejala erosi nilai yang bersifat sistemik. Ketika manipulasi dianggap lumrah dan pencitraan lebih dihargai daripada kompetensi, maka yang dipertaruhkan adalah kredibilitas institusi pendidikan, mutu pengetahuan, dan kepercayaan sosial. Pada akhirnya, integritas bukan hanya persoalan moral, melainkan modal utama pembangunan bangsa. Tanpa kejujuran dan akuntabilitas, kemajuan yang dicapai akan rapuh, kehilangan legitimasi publik, dan sulit bertahan dalam jangka panjang.

2. Netizen Indonesia dan Krisis Etika Digital

Laporan Digital Civility Index (DCI) 2021 menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat kesantunan digital yang rendah. Skor Indonesia mencapai 76 poin, meningkat signifikan dibandingkan 67 poin pada tahun 2019. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, perundungan siber, hingga berbagai bentuk penipuan digital.

Para pengamat menilai bahwa rendahnya etika dalam ruang digital bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Ketidaksantunan di media sosial menunjukkan adanya pergeseran nilai sosial yang lebih luas, termasuk melemahnya budaya kejujuran dalam berbagai institusi formal, termasuk lembaga pendidikan. Ketika ruang publik dipenuhi informasi yang tidak terverifikasi dan komunikasi yang minim etika, maka kualitas literasi dan integritas masyarakat secara keseluruhan ikut terdampak.

3. Jurnal Predator dan Bisnis Publikasi Ilmiah

Krisis integritas tidak hanya terjadi di media sosial. Dunia akademik Indonesia juga menghadapi persoalan serius terkait maraknya praktik publikasi ilmiah yang berorientasi pada keuntungan ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir, publikasi ilmiah yang seharusnya menjadi sarana pengembangan ilmu pengetahuan justru mengalami pergeseran fungsi. Banyak akademisi terjebak dalam praktik publikasi pada jurnal predator, yakni jurnal yang mengabaikan proses penelaahan ilmiah (peer review) yang ketat demi memperoleh keuntungan finansial.

Fenomena ini diperparah oleh munculnya praktik paper mill, yaitu industri yang menyediakan jasa pembuatan artikel ilmiah secara instan, serta praktik jual-beli nama penulis atau kepengarangan akademik. Akibatnya, publikasi tidak lagi sepenuhnya mencerminkan kualitas penelitian, tetapi sering kali ditentukan oleh kemampuan finansial penulis. Sejumlah kajian internasional bahkan menunjukkan bahwa reputasi indeks publikasi bereputasi global juga menghadapi tantangan akibat berbagai bentuk manipulasi sitasi, rekayasa publikasi, dan praktik-praktik yang mengaburkan standar mutu akademik. Saat ini, berbagai kegiatan akademik, seperti kerja sama, seminar, dan aktivitas akademik lainnya, dalam banyak kasus lebih banyak dilaksanakan sebagai kegiatan seremonial. Perhatian sering kali tidak diberikan secara memadai terhadap kualitas proses pelaksanaannya, melainkan lebih berfokus pada dokumentasi kegiatan, publikasi berita, serta penyusunan laporan administratif. Bahkan, dalam beberapa kondisi, aspek publikasi dan dokumentasi dianggap lebih penting dibandingkan substansi pelaksanaan kegiatan itu sendiri. Akibatnya, kualitas kegiatan akademik sering kali tidak menjadi tanggung jawab utama, padahal nilai-nilai pendidikan sejatinya menempatkan kualitas proses dan kebermanfaatan sebagai tujuan utama.

Salah satu persoalan yang banyak mendapat sorotan adalah tingginya biaya publikasi atau Article Processing Charges (APC) yang harus dibayarkan penulis kepada sejumlah jurnal. Dalam praktiknya, biaya publikasi yang semakin mahal sering kali menimbulkan persepsi bahwa proses penerbitan artikel lebih ditentukan oleh kemampuan finansial penulis daripada kualitas substansi penelitian yang dihasilkan. Kondisi ini berpotensi mendorong munculnya berbagai bentuk penyimpangan akademik, termasuk manipulasi data, rekayasa hasil penelitian, hingga praktik yang dikenal sebagai Questionable Research Practices (QRP). Alih-alih menghasilkan temuan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sebagian penelitian justru diarahkan untuk memenuhi target administratif serta tuntutan birokrasi akademik.

4. Menyontek dan Plagiarisme Masih Mengakar

Gambaran mengenai kondisi integritas pendidikan Indonesia semakin terlihat dari hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024 yang menunjukkan bahwa praktik menyontek masih ditemukan pada sebagian besar institusi pendidikan. Data tersebut memperlihatkan bahwa budaya ketidakjujuran akademik belum sepenuhnya teratasi. Praktik plagiarisme, manipulasi tugas akademik, hingga berbagai bentuk pelanggaran etika masih menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan nasional.

Sejumlah akademisi menilai bahwa kondisi tersebut merupakan gejala dari budaya pendidikan yang terlalu menekankan capaian administratif dan kuantitatif dibandingkan proses pembelajaran yang substantif.

5. Budaya “Publish or Perish”

Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai dampak dari budaya publish or perish, yakni tekanan yang mendorong akademisi untuk terus menghasilkan publikasi demi memenuhi syarat kenaikan jabatan, akreditasi, maupun pengakuan institusi.

Dalam sistem yang terlalu berorientasi pada angka, keberhasilan sering kali diukur melalui jumlah artikel, indeks sitasi, dan berbagai indikator kuantitatif lainnya. Akibatnya, kualitas penelitian berpotensi tersisih oleh tuntutan produktivitas. Ketika target yang ditetapkan tidak sebanding dengan dukungan sumber daya penelitian yang tersedia, sebagian akademisi memilih jalan pintas yang berisiko mengorbankan integritas ilmiah.

6. Mengembalikan Martabat Ilmu Pengetahuan

Penguatan budaya integritas menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan Indonesia. Reformasi tidak cukup dilakukan melalui pengetatan regulasi, tetapi juga harus menyentuh perubahan paradigma. Publikasi ilmiah perlu dikembalikan pada tujuan utamanya, yakni menghasilkan pengetahuan yang valid, dapat dipertanggungjawabkan, dan bermanfaat bagi masyarakat. Selama publikasi masih dipandang sebagai target administratif semata, maka berbagai bentuk penyimpangan akan terus menemukan ruang untuk berkembang.

Indonesia membutuhkan transformasi budaya akademik yang menempatkan kejujuran, ketelitian metodologis, dan tanggung jawab ilmiah sebagai fondasi utama. Tanpa upaya tersebut, dunia pendidikan berisiko kehilangan kredibilitasnya sebagai penjaga kebenaran dan penggerak kemajuan bangsa. Krisis integritas yang terjadi hari ini sesungguhnya bukan hanya persoalan kampus atau media sosial. Ia merupakan cerminan kualitas peradaban. Ketika kejujuran mulai diperdagangkan dan ilmu pengetahuan berubah menjadi komoditas, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi akademik, melainkan masa depan bangsa itu sendiri.

7. Distingsi Akademik yang Semakin Kabur

Selain persoalan plagiarisme dan ketidakjujuran akademik, dunia pendidikan tinggi Indonesia juga menghadapi tantangan berupa semakin kaburnya distingsi atau pembeda kualitas lulusan pada jenjang magister dan doktoral. Dalam beberapa tahun terakhir, akses terhadap pendidikan pascasarjana memang semakin terbuka, sebuah perkembangan yang positif dalam perspektif demokratisasi pendidikan. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan kritis mengenai konsistensi standar akademik yang diterapkan dalam proses pendidikan, penelitian, pembimbingan, publikasi, dan penyelesaian tugas akhir.

Sebagian akademisi yang mengalami pendidikan pascasarjana pada periode sebelum 2016 menilai bahwa proses penyusunan tesis dan disertasi pada masa tersebut umumnya menuntut keterlibatan yang lebih intens dalam penelitian lapangan, penguasaan teori, kedalaman analisis, serta proses bimbingan yang relatif ketat. Meskipun penilaian ini tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh perguruan tinggi, fenomena tersebut memunculkan persepsi adanya pergeseran orientasi dari penekanan pada kualitas akademik menuju percepatan penyelesaian studi dan pemenuhan indikator administratif (Altbach, Reisberg, & de Wit, 2017; Marginson, 2016).

Fenomena ini sejalan dengan konsep credential inflation, yaitu kondisi ketika peningkatan jumlah pemegang gelar tidak selalu diikuti oleh peningkatan kualitas kompetensi yang setara (Collins, 1979). Akibatnya, gelar akademik berpotensi kehilangan sebagian fungsi distingtifnya sebagai indikator kapasitas intelektual dan kemampuan riset. Dalam konteks yang lebih luas, kondisi tersebut diperkuat oleh budaya publish or perish, tuntutan akreditasi, target kelulusan tepat waktu, dan berbagai indikator kuantitatif yang sering kali lebih mudah diukur dibandingkan kualitas berpikir kritis, kedalaman analisis, serta integritas ilmiah (Moosa, 2018).

Persoalan utama bukan terletak pada semakin banyaknya lulusan magister dan doktor, melainkan pada kemampuan sistem pendidikan tinggi untuk memastikan bahwa setiap gelar yang diberikan benar-benar merepresentasikan capaian akademik, kompetensi penelitian, dan integritas ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Ketika gelar lebih mudah diperoleh daripada kualitas yang seharusnya menyertainya, maka yang mengalami penurunan bukan hanya nilai sebuah ijazah, melainkan juga kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan tinggi itu sendiri.

 

8. Kesimpulan

Kajian ini menunjukkan bahwa krisis integritas di Indonesia tidak lagi dapat dipahami sebagai persoalan perilaku individu semata, melainkan telah berkembang menjadi persoalan sistemik yang menghubungkan ruang digital, pendidikan tinggi, dan tata kelola pengetahuan. Maraknya hoaks, ketidaksantunan digital, plagiarisme, jurnal predator, paper mill, manipulasi publikasi, budaya publish or perish, hingga kaburnya distingsi akademik menunjukkan adanya pergeseran orientasi dari kejujuran dan kompetensi menuju pencitraan, formalitas, dan pengakuan simbolik. Kajian ini menunjukkan bahwa krisis etika digital dan krisis integritas akademik sesungguhnya merupakan dua manifestasi dari akar persoalan yang sama, yaitu normalisasi ketidakjujuran dalam sistem sosial dan pendidikan. Ketika popularitas lebih dihargai daripada kualitas, sertifikat lebih dihargai daripada kompetensi, dan kuantitas lebih diutamakan daripada substansi, maka pendidikan berisiko kehilangan fungsi utamanya sebagai pembentuk karakter, penghasil pengetahuan yang kredibel, dan penjaga kebenaran ilmiah.

Kondisi pendidikan tinggi saat ini mengindikasikan terjadinya pergeseran fundamental dari culture of achievement (budaya prestasi) menuju culture of appearance (budaya penampilan). Dalam paradigma ini, keberhasilan diukur melalui simbol-simbol prestiseseperti gelar, jumlah publikasi, indeks sitasi, jabatan, dan popularitasalih-alih berdasarkan kualitas pemikiran, integritas, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Dampak dari pergeseran ini bersifat sistemik: integritas akademik, kualitas penelitian, dan kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan mengalami degradasi secara simultan. Oleh karena itu, evaluasi kualitas pendidikan tinggi tidak dapat lagi hanya bertumpu pada indikator kuantitatif seperti jumlah lulusan, peringkat akreditasi, atau posisi dalam daftar pemeringkatan institusi. Sebaliknya, kualitas harus diukur melalui kemampuan institusi dalam menjaga integritas, memproduksi pengetahuan yang valid, serta membentuk karakter individu yang jujur, kritis, mandiri, dan bertanggung jawab.

Secara fundamental, ancaman terbesar bagi pendidikan tinggi bukanlah keterbatasan sumber daya, melainkan hilangnya integritas sebagai fondasi utama ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa. Bangsa tidak akan runtuh karena kekurangan orang pintar; namun, negara berada dalam risiko kehancuran ketika jumlah orang jujur semakin berkurang.Ketika kejujuran menjadi komoditas yang dapat dibeli, publikasi ilmiah menjadi objek transaksi, dan pencitraan lebih dihargai daripada integritas serta kompetensi, maka yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi akademik, melainkan masa depan peradaban Indonesia. Jika fenomena ini dibiarkan berlangsung tanpa kajian dan peninjauan serius, narasi mengenai Indonesia Emas 2045 akan kehilangan relevansi dan sekadar menjadi khayalan. Tanpa transformasi nyata, bangsa ini berisiko melahirkan generasi "Pak Turut" yang bermental subordinat, yang tunduk dan terperbudak oleh orientasi harta serta jabatan semata.





Temanggung, Hariantemanggung.com
- Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) PCNU Kabupaten Temanggung menggelar kegiatan Halal Bihalal Media Gathering Media NU Vol. 3 pada Jumat (1/5/2026) di Gedung PCNU Temanggung. Kegiatan ini menjadi ajang konsolidasi pegiat media NU sekaligus penguatan strategi dakwah digital di tengah derasnya arus informasi media sosial.

Ketua LTN NU Temanggung, Gus Fais Syauqy, S.I.Kom., menyampaikan bahwa pengelolaan media sosial dan website resmi organisasi kini menjadi kebutuhan penting dalam gerakan dakwah NU. Menurutnya, masyarakat saat ini memperoleh informasi secara cepat melalui telepon genggam sehingga NU harus hadir aktif di ruang digital.

“Informasi sekarang ada dalam genggaman. Karena itu, kegiatan NU mulai dari tingkat ranting hingga MWC harus bisa diketahui masyarakat luas, khususnya warga Nahdliyin,” ujarnya.

Sebagai langkah konkret, LTN NU Temanggung berencana memperkuat kapasitas kader media melalui program kelas desain grafis dan pelatihan menulis bagi pengurus MWC maupun ranting. Selain itu, LTN juga tengah menyiapkan literasi sejarah dengan merancang penerbitan buku mengenai tokoh-tokoh penggerak awal NU di Temanggung.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Temanggung, KH. M. Nurul Yaqin, S. Sos., menegaskan bahwa media sosial saat ini telah menjadi ruang strategis dalam dakwah dan pembentukan opini publik. Ia menyebut perubahan zaman menuntut NU untuk lebih aktif dan terorganisir dalam memanfaatkan media digital.

“Kalau dulu syiar dilakukan lewat syiir dan pengajian, sekarang media sosial menjadi medan dakwah sekaligus pertarungan opini,” tegasnya.

Ia juga menyoroti maraknya pemberitaan negatif tentang oknum pesantren dalam beberapa tahun terakhir yang dinilai berpotensi memecah belah umat serta mencoreng citra lembaga pendidikan Islam. Karena itu, ia mengajak seluruh pegiat media NU untuk menghadirkan narasi yang menyejukkan, edukatif, dan berimbang.

Selain membangun kontra-narasi positif, Gus Nurul juga mendorong warga NU agar aktif mengikuti akun resmi media sosial PCNU dan jejaring media NU di berbagai tingkatan. Menurutnya, kekuatan media organisasi akan terbentuk apabila didukung partisipasi warga secara kolektif.

Melalui kegiatan Media Gathering ini, LTN NU Temanggung berharap lahir sinergi antarpengelola media di tingkat ranting, MWC, hingga cabang. Dengan demikian, media NU dapat menjadi garda terdepan dalam menyebarkan informasi yang terpercaya, menangkal hoaks, serta memperkuat nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di ruang digital. (htm/sul)


Yogyakarta, Hariantemanggung.com
 - Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menunjukkan komitmen nyata terhadap pembangunan berkelanjutan dengan berpartisipasi dalam Lokakarya UI GreenMetric Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Tahun 2026 yang diselenggarakan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tanggal 28–29 April 2026.

Kegiatan nasional bertema “Integrasi UI GreenMetric dalam Mewujudkan Kampus Hijau Berbasis Ekoteologi” ini menjadi forum strategis bagi perguruan tinggi Islam di Indonesia untuk memperkuat peran akademik dalam menjawab tantangan krisis lingkungan global melalui integrasi ilmu pengetahuan, nilai keislaman, dan praktik keberlanjutan lingkungan.

Forum tersebut diikuti berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam, di antaranya UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dan UIN Antasari Banjarmasin bersama puluhan PTKI lainnya dari seluruh Indonesia, termasuk INISNU Temanggung.

Penandatanganan Komitmen Bersama SDGs GreenMetric

Salah satu agenda utama kegiatan adalah penandatanganan Piagam Komitmen Bersama Implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) melalui inisiatif Green Campus yang diikuti oleh 59 perguruan tinggi peserta, termasuk perwakilan INISNU Temanggung.

Komitmen bersama tersebut menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai:

1. pusat transformasi manusia inklusif dan berkelanjutan, 
2. pelopor pelestarian lingkungan melalui inovasi akademik, 
3. penggerak tata kelola kampus berbasis kemitraan global. 

Isu strategis yang dibahas meliputi pengelolaan infrastruktur berkelanjutan, efisiensi energi, mitigasi perubahan iklim, konservasi air, pengelolaan limbah, transportasi ramah lingkungan, serta penguatan pendidikan dan riset berbasis lingkungan.

INISNU Temanggung Dorong Kampus Berbasis Ekoteologi dan Kearifan Leluhur

Keikutsertaan INISNU Temanggung menjadi langkah penting dalam memperkuat arah kebijakan kampus menuju konsep green campus yang tidak hanya berbasis teknologi lingkungan, tetapi juga berakar pada kesadaran spiritual dan budaya masyarakat Nusantara.

Dalam perspektif ini, gagasan GreenMetric dan ekoteologi sesungguhnya bukan konsep baru bagi bangsa Indonesia. Nilai merawat bumi dan melestarikan alam telah lama hidup dalam warisan leluhur. Di tanah Jawa, misalnya, dikenal amanah budaya Memayu Hayuning Bawana, yaitu panggilan moral manusia untuk memperindah dunia, menjaga keseimbangan kehidupan, serta menghadirkan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Tradisi seperti Nyadran Gunung maupun Nyadran Kali juga menjadi simbol kearifan ekologis masyarakat, sebagai bentuk syukur sekaligus pengingat kolektif bahwa bumi bukan objek eksploitasi, melainkan titipan yang harus dirawat dan dilestarikan bersama. Praktik-praktik budaya tersebut menunjukkan bahwa konsep kampus hijau modern sejatinya merupakan kelanjutan nilai-nilai ekologis yang telah diwariskan oleh leluhur Nusantara.

Delegasi INISNU Temanggung mengikuti rangkaian diskusi akademik, lokakarya kebijakan, serta forum kolaborasi antarperguruan tinggi dalam pengembangan praktik terbaik pengelolaan lingkungan kampus yang berkelanjutan.

Pandangan Dr. Joni, M.Pd.B.I.: Merawat Bumi sebagai Amanah Wahyu dan Budaya

Dalam sesi diskusi tematik mengenai ekoteologi dan pendidikan berkelanjutan, perwakilan INISNU Temanggung, Dr. Joni, M.Pd.B.I., menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan harus berpijak pada kesadaran wahyu sekaligus kebijaksanaan lokal. Menurutnya, krisis lingkungan modern terjadi karena manusia memisahkan ilmu dari nilai dan teknologi dari moralitas.

“GreenMetric dan ekoteologi sejatinya menghidupkan kembali kesadaran lama yang sudah diwariskan leluhur kita. Islam melalui wahyu mengajarkan amanah kekhalifahan, sementara budaya Nusantara mengajarkan bagaimana amanah itu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa tradisi seperti Memayu Hayuning Bawana maupun ritual ekologis masyarakat merupakan bentuk pendidikan lingkungan yang telah berlangsung jauh sebelum konsep sustainability dikenal secara global.

“Ketika wahyu bertemu kearifan lokal, maka kampus tidak hanya membangun gedung hijau, tetapi membangun manusia yang sadar bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah,” tegasnya.

Menuju Kampus sebagai Agen Perubahan Berkelanjutan

Melalui forum UI GreenMetric 2026, diharapkan tercipta kolaborasi lebih luas antarperguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi pengelolaan lingkungan kampus yang berkelanjutan dan inklusif.

Bagi INISNU Temanggung, partisipasi ini menjadi bagian dari langkah strategis menuju kampus yang unggul secara akademik sekaligus memiliki tanggung jawab ekologis dan sosial. Dengan mengintegrasikan ilmu pengetahuan, nilai keislaman, serta kearifan lokal Nusantara, INISNU Temanggung berkomitmen menjadi bagian dari gerakan pendidikan tinggi yang tidak hanya mencerdaskan bangsa, tetapi juga menjaga kelestarian bumi sebagai amanah bersama umat manusia.


Temanggung, Hariantemanggung.com
 – Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) INISNU Temanggung menggelar kuliah pakar yang menghadirkan Ervi Rosmayanti, M.Pd., Pengawas SD dari Disdikpora Kabupaten Kudus.

Dalam acara yang berlangsung pada Rabu, (26/11/2025) secara virtual ini, Dekan FTK, Andrian Gandi W., menyampaikan sambutan hangat. "Keterlibatan pakar dalam pembelajaran akan meningkatkan kompetensi mahasiswa PGMI FTK INISNU dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Melalui penyampaian materi oleh seorang ahli, mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih nyata dan relevan dengan dunia profesional," paparnya.

Ervi Rosmayanti, M.Pd., dalam sesi pemaparannya mengangkat tema Pembelajaran Mendalam (PM) sebagai solusi untuk pendidikan yang berkualitas. Ia menjelaskan, "Pendekatan PM hadir untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang telah diterapkan. Melalui PM, kita diajak untuk melihat pentingnya proses pembelajaran yang memuliakan, berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pendekatan ini mengintegrasikan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara menyeluruh dan holistik."

Ervi juga menekankan bahwa prinsip PM dilaksanakan melalui empat elemen tersebut. "Ini selaras dengan pandangan Ki Hajar Dewantara, yang melihat pendidikan sebagai upaya membentuk manusia seutuhnya," imbuh  Pengawas Berprestasi Jawa Tengah dalam Apresiasi GTK 2025 Kategori Pengawas Sekolah Dikdas Dedikatif itu.


Selain itu, Ervi menyoroti kebiasaan "Anak Indonesia Hebat" dan pentingnya implementasi coding dalam pembelajaran, baik secara unplugged maupun plugged, dengan mempertimbangkan etika digital peserta didik. "Dengan pemahaman ini, kita dapat mempersiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan di era digital," tandasnya.

Kegiatan ini menunjukkan partisipasi peserta yang sangat aktif. Meskipun dilaksanakan secara virtual, para peserta bersemangat mengikuti sesi dan berdiskusi dengan narasumber. Mereka memberikan tanggapan positif terhadap materi yang disampaikan, yang dianggap relevan dan bermanfaat dalam pembelajaran di sekolah.

Kuliah pakar ini merupakan salah satu langkah strategis PS PGMI dan FTK INISNU Temanggung dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat menggali lebih dalam pengetahuan dan keterampilan mereka serta mengaplikasikan pembelajaran dalam praktik nyata di lapangan.

Diharapkan, dengan mengintegrasikan pendekatan Pembelajaran Mendalam dalam kurikulum, PS PGMI dan FTK INISNU Temanggung dapat terus berkontribusi dalam mencetak pendidik berkualitas yang mampu menjawab tantangan zaman. (Red-Hartem-AGW)


Temanggung, Hariantemanggung.com – SDN 1 Banyuurip baru saja menggelar In House Training (IHT) mengenai pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) pada Selasa, (25/11/2025). Acara ini dihadiri oleh Andrian Gandi W., Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) INISNU Temanggung, sebagai pembicara.

Dalam sambutannya, Kepala Sekolah SDN 1 Banyuurip, Pono, S.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan IHT ini bertujuan untuk memfasilitasi perkembangan kompetensi guru di bidang literasi digital. 

“Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan fasilitasi kepada guru dan siswa dalam mempercepat kemajuan sekolah dalam mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran.” Tandasnya

Gandi menjelaskan bahwa KKA lahir dari konsep berpikir komputasional, pemrograman, dan koding. Ia menerangkan pentingnya pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial sebagai proses berbasis berpikir komputasional yang mendorong peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kreatif. 

“Pembelajaran ini memiliki fokus pada keterampilan menulis kode dasar. Selain itu, peserta dilatih untuk menyelesaikan berbagai masalah melalui pendekatan komputasional,” terang Gandi, yang juga merupakan Fasilitator Pandu Digital.

Gandi menjabarkan berbagai teknik koding yang diajarkan, termasuk algoritma, looping, logika kondisional (If-Else), dan variabel. Seluruh peserta menerima pelatihan penyusunan perangkat pembelajaran yang mengintegrasikan KKA dengan berbagai mata pelajaran, termasuk pelajaran pilihan dan ekstrakurikuler.

Dalam sesi praktik, seluruh peserta diajarkan penggunaan berbagai platform AI serta melakukan Block Coding dengan proyek kecil seperti membuat cerita interaktif menggunakan aplikasi Scratch, mendesain game sederhana, dan membuat animasi bergerak.

Antusiasme para guru terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Salah satu guru Kelas V, Istiwin, S.Pd., menyatakan bahwa kegiatan ini sangat menarik dan mampu mengubah paradigma bahwa koding itu sulit. Ternyata dengan pelatihan ini, kami dapat membuat program sederhana.

Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), Jazimatul F, S.Pd., menambahkan bahwa kerjasama antara INISNU dan SDN 1 Banyuurip ini seboga bisa dilanjutkan dengan kegiatan lain di masa mendatang, 

“Kerja sama antara INISNU dan SDN 1 Banyuurip ini sangat penting dan bisa dilanjutkan dengan kegiatan lain di masa mendatang.” Papar Alumni INISNU itu.

Dengan adanya IHT ini, diharapkan guru-guru di SDN 1 Banyuurip dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat dalam proses belajar mengajar. Kompetensi yang diperoleh diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan guru, tetapi juga memotivasi siswa untuk lebih tertarik pada bidang teknologi dan inovasi.

Kegiatan ini mencerminkan komitmen SDN 1 Banyuurip dan INISNU untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui teknologi dan inovasi, serta menyiapkan generasi muda yang siap menghadapi tantangan di era digital. (Red-htm-MPP)


Temanggung, Hariantemanggung.com
- Kelompok mahasiswa magang dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Terintegrasi dari Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung resmi melaksanakan kegiatan serah terima mahasiswa di Madrasah Aliyah (MA) Mu’allimin Temanggung pada hari Senin (6/10/2025).

Kegiatan ini dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Bapak Abdul Wahab, yang turut mendampingi proses serah terima kepada pihak madrasah mitra. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan harapan agar pihak MA Mu’allimin dapat memberikan arahan dan bimbingan kepada mahasiswa selama pelaksanaan kegiatan berlangsung.

“Kami berharap pihak madrasah dapat membantu dan mengarahkan mahasiswa dalam kegiatan magang serta KKN terintegrasi ini agar berjalan dengan baik,” ujar Abdul Wahab.

Sementara itu, Kepala MA Mu’allimin Temanggung, Bapak Faiz, menyambut kedatangan mahasiswa dengan penuh kehangatan. Ia menyampaikan bahwa meskipun jumlah murid di madrasah tersebut tidak terlalu banyak, ia berharap para mahasiswa dapat mengambil pengalaman berharga sebagai bekal menjadi pendidik di masa depan.

“Murid-murid kami memang tidak banyak, tapi semoga kalian bisa memperoleh hasil terbaik dan pengalaman nyata sebelum menjadi guru sesungguhnya,” tutur Faiz.

Menariknya, dalam kegiatan tersebut pihak MA Mu’allimin juga memberikan informasi mengenai akan dilaksanakannya Kegiatan Pengabdian Masyarakat (KPM), di mana para siswa madrasah akan diterjunkan ke beberapa desa tertentu. Mahasiswa magang dan KKN terintegrasi turut dilibatkan sebagai pendamping lapangan dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan KPM dijadwalkan berlangsung pada 13–27 Oktober 2025. Sementara itu, pada minggu pertama, mahasiswa difokuskan untuk melakukan observasi dan pengenalan lingkungan madrasah, serta mengenal karakteristik peserta didik di MA Mu’allimin.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah pembelajaran nyata bagi mahasiswa INISNU Temanggung dalam menerapkan teori pendidikan di lapangan serta memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan menengah di daerah. (hartem)


Malaysia, Hariantemanggung.com
– MI ELPIST Temanggung kembali menorehkan kiprah di kancah internasional dengan menjadi peserta sekaligus presenter dalam Seminar Konferensi Internasional yang diselenggarakan di Universiti Sultan Abdul Halim Mu’adzam Shah (UniSHAMS), Malaysia, pada Kamis (28/8/2025).

Kegiatan bergengsi ini diikuti oleh berbagai lembaga pendidikan dan perguruan tinggi dari Indonesia, di antaranya Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, Institut Agama Islam (IAI) An Nawawi Purworejo, STAINU Purworejo, STAI Al Kamal Rembang, serta STAI Al Anwar Rembang.


Acara diawali dengan sambutan hangat dari Dekan Kulliyah Usuluddin, Sains Al-Quran dan Bahasa Arab  Assoc Prof Dr. mukhamd Hadi Musolin Subagio. Kemudian acara dilanjutkan sambutan keynote speaker oleh Rektor INISNU Temanggung, Dr. H. Muh Baihaqi, MM. Keduanya menekankan pentingnya kolaborasi akademik lintas negara dalam penguatan keilmuan, moderasi beragama, serta pengembangan pendidikan Islam.

Usai pembukaan, seminar dilanjutkan dengan pemaparan hasil kajian dan penelitian dari para peserta dengan topik Pendidikan Islam dan tantangan multikulturalisme di Asia Tenggara dan Peran Universitas Islam yang dalam moderasi bergama.

Kehadiran MI ELPIST Temanggung dalam forum internasional ini menjadi langkah penting dalam memperluas wawasan, jejaring akademik, dan memperkokoh kontribusi lembaga pendidikan dasar Islam dalam pengembangan ilmu pengetahuan. (red-htm-mp)


Malaysia, Hariantemanggung.com
- Madrasah Ibtidaiyah (MI) ELPIST Temanggung mengukir langkah penting dalam pengembangan pendidikan Al-Qur’an dengan melakukan lawatan silaturahmi sekaligus penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) bersama Maahad Tahfiz An-Nur (MATAN) Puchong, Selangor, Malaysia.

Kegiatan yang diadakan pada Rabu, (27/08/2025) berlangsung penuh kehangatan yang disambut langsung oleh tuan rumah Maahad, En. Abdul Hadi Sabran.

Dalam sambutannya, En. Abdul Hadi Sabran menyampaikan rasa syukur dan optimisme bahwa pertukaran pengalaman dan strategi akan semakin memperkokoh ukhuwah Islamiyah dan memperkaya dunia pendidikan tahfiz.

Kepala MI ELPIST Temanggung, Muhammad Ulfi Fadli, M.Pd., menyampaikan bahwa penandatanganan MoU ini sebagai salah satu komitmen madrasah untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran tahfiz, dan melalui kerjasama ini diharapkan akan lahir inovasi-inovasi baru yang lebih efektif dalam mendidik para penghafal Al-Qur’an.


Setelah penandatanganan MoU, kegiatan dilanjutkan dengan dialog edukatif mengenai kurikulum tahfiz, sistem manajemen, hingga program pendampingan hafalan yang selama ini diterapkan di MATAN.

Rombongan MI ELPIST juga berkesempatan melakukan kunjungan langsung ke ruang-ruang belajar dan asrama santri, menyaksikan secara dekat bagaimana proses pendidikan tahfiz dijalankan di Malaysia dengan penuh disiplin dan semangat kebersamaan.

Kerja sama ini dipandang memiliki makna strategis karena mampu membuka jejaring internasional,  memperkaya metode pengajaran Al-Qur’an, serta memperkuat hubungan persaudaraan antara Indonesia dan Malaysia. 

Ketua YAPTINU, Drs, H Nur Makhsun, MSI menyampaikan bahwa dengan adanya jalinan ini, MI ELPIST diharapkan dapat terus mengembangkan kualitas pendidikan Al-Qur’an, sekaligus menjadi pelopor dalam membangun generasi Qur’ani yang unggul.

Selain Ketua Yayasan, kegiatan ini juga didampingi oleh pembina Yayasan, Sri Yatun, S.Ag., M.Pd dan Musrifah, S.Pd.I, M.Sc. (red-htm-mp)


Yogyakarta, Hariantemanggung.com — Dekan Fakultas Syariah, Hukum, dan Ekonomi Islam (FSHEI) INISNU Temanggung resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang mengkaji pengaruh budaya Hellenisme terhadap perkembangan hukum Islam pada Program Studi S3 Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 25 Juli 2025. Penelitian ini membuka kembali wacana kritis mengenai kontribusi budaya Yunani kuno dalam pembentukan konstruksi pemikiran hukum Islam klasik.

Dalam disertasinya, sang dekan memetakan perdebatan antara abstraksi yang dihasilkan para orientalis dengan abstraksi yang berkembang dalam tradisi intelektual Islam. "Perbedaan tajam di antara keduanya, menurutnya, menjadi titik awal untuk meninjau ulang proses domestikasi dan formalisasi hukum Islam melalui pendekatan filosofis," tegas Sumarjoko

Penelitian tersebut mengungkap dua jalur utama relasi antara Hellenisme dan Islam. "Pertama, jalur tidak langsung melalui integrasi budaya kawasan Mediterania dan Mesopotamia sebagai dampak dari proses Hellenisasi pasca penaklukan Alexander Agung pada abad ke-3 SM. Jalur ini menyebar melalui saluran politik dan budaya di wilayah Mesir, Persia, dan Jazirah Arab pra-Islam,"  tambah Joko.

Sumarjoko menambahkan, yang kedua, relasi langsung terjadi melalui proyek besar transliterasi karya-karya filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab pada masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Salah satu tokoh penting dalam fase awal ini adalah Khalid bin Yazid yang mendorong penerjemahan di Mesir, kemudian dilanjutkan secara masif dalam lembaga Baitul Hikmah di Baghdad.

"Penelitian ini juga menyoroti bagaimana filsafat dan logika Yunani bagian dari budaya Hellenisme didomestikasi secara fungsional dalam kerangka penalaran hukum Islam. Konsep kausalitas (ta'lil) dalam penentuan 'illat hukum, serta metode berpikir deduktif dalam qiyas mantiqi (silogisme) dan induktif dalam istiqra’ naqish menjadi contoh nyata dari adopsi tersebut. Instrumen-instrumen ini kemudian berperan penting dalam pembentukan kaidah-kaidah fiqih (al-qawaid al-fiqhiyyah) yang menjadi pilar penting dalam hukum Islam," tukas Joko.

"Keberhasilan ini tidak hanya memperkaya kajian hukum Islam kontemporer, tetapi juga menjadi kontribusi signifikan dalam dialog antara peradaban, khususnya dalam melihat ulang relasi antara Islam dan warisan intelektual Yunani," tambahnya.

Acara diuji oleh beberapa Guru Besar seperti Prof. Muhammad Abdul Karim, M.A., Dr. Nurul Hak S.Ag., M.Hum. Dr. Fahruddin Faiz, M.Ag., Prof. Dr. Machasin,M.A., Dr. Muhammad Anis, Masduqi, Lc., M.S.I. dan juga Prof. Syafa'atun Almizarnah, P.h.D., Min. Acara dituutup oleh Ketua sidang Prof. Noorhaidi Hasan, P.hD. dengan pesan kepada promovendus. (Htm44).