oleh : Ratna Sari
Di sudut sebuah desa kecil yang sejuk, tinggal seorang anak laki-laki bernama Raka. Ia baru berusia sembilan tahun, namun hidup telah memberinya luka yang terlalu dalam untuk anak seusianya. Ibunya, satu-satunya orang yang selalu ada untuknya, baru saja meninggal dunia sebulan yang lalu karena sakit yang lama ia sembunyikan dari Raka.
Sejak kecil, Raka hanya hidup berdua dengan ibunya. Ayahnya sudah pergi entah ke mana, bahkan sebelum Raka bisa mengingat wajahnya. Ibunya bekerja sebagai penjual kue keliling. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ibunya akan menyiapkan sepotong roti dan segelas susu untuk sarapan Raka. Itu adalah kebiasaan yang tak pernah terlewat. Meski sederhana, bagi Raka, roti dan susu itu adalah lambang cinta.
Kini, pagi-pagi terasa sunyi. Tidak ada lagi suara sendok mengaduk susu. Tidak ada bau harum roti yang dipanggang. Hanya ada diam. Dan sepi. Raka duduk di meja makan, memandangi kursi kosong di seberangnya. Matanya menatap piring yang kosong dan gelas yang tak pernah terisi lagi. Hatinya seperti ikut kosong, seperti tidak tahu lagi bagaimana caranya merasa utuh.
Setiap malam, sebelum tidur, Raka memeluk selimut lusuh peninggalan ibunya. Ia masih bisa mencium samar-samar aroma tubuh ibunya di sana. Ia sering berbicara dengan bayangan ibunya, berharap angin malam akan menyampaikan setiap katanya. “Bu, Raka rindu... Raka janji akan jadi anak baik, seperti Ibu mau,” bisiknya, lalu air mata menetes membasahi bantal.
Di sekolah, Raka menjadi lebih pendiam. Teman-temannya mencoba menghiburnya, tapi tak ada yang bisa menggantikan kehangatan pelukan ibu. Guru-gurunya memperhatikan perubahan itu, namun hanya bisa menepuk pundaknya dan berkata, “Kamu anak kuat, Raka.”
Suatu sore, Raka membuka lemari tua milik ibunya. Di dalamnya, ia menemukan sebuah kotak kecil berisi surat. Surat itu ditulis tangan, ditujukan untuknya.
"Untuk Raka, anak Ibu tersayang..."
"Maafkan Ibu karena tak bisa menemanimu lebih lama. Tapi Ibu tahu, kamu anak hebat. Kamu harus tetap makan roti dan minum susu setiap pagi, seperti biasa. Bukan karena Ibu memintanya, tapi karena kamu harus tumbuh kuat dan sehat. Raka, jangan berhenti bermimpi. Dan jangan lupa, Ibu akan selalu mencintaimu, bahkan dari langit yang paling tinggi."
Tangis Raka pecah seketika. Ia memeluk surat itu seolah memeluk ibunya sendiri. Untuk pertama kalinya setelah sebulan penuh luka, Raka tersenyum dalam tangis. Esok paginya, ia bangun lebih awal, membuat roti sendiri, dan menuang segelas susu. Ia duduk di meja, menatap kursi kosong itu, lalu berbisik pelan,
"Selamat pagi, Bu... Raka makan dulu ya..."
Tambahkan Komentar