Oleh : Deby Arum Sari

Di tengah gempuran standar kecantikan yang ditampilkan di media sosial dan iklan, banyak orang khususnya perempuan mereka merasa dituntut untuk tampil sesuai dengan citra “cantik” yang dibentuk oleh industri yang kulit harus cerah, tubuh ramping, hidung yang proporsional, dan wajah mulus tanpa noda. Padahal, kecantikan sejati tidak seharusnya diukur dari penampilan fisik semata, melainkan dari keunikan serta rasa percaya diri yang dimiliki setiap individu.


Kita hidup di era digital yang memungkinkan wajah berubah seketika berkat filter kamera dan aplikasi editing. Akibatnya, tidak sedikit orang merasa tidak cukup baik dengan penampilan asli mereka. Hal ini berisiko menurunkan rasa percaya diri dan bahkan dapat memicu gangguan citra tubuh serta tekanan psikologis.


Padahal, makna kecantikan yang sesungguhnya terpancar ketika seseorang merasa damai dan menerima dirinya sendiri. Bukan hanya tentang fisik, tetapi juga terlihat dari cara seseorang bersikap, berbicara, memperlakukan sesama, dan mencintai dirinya secara utuh. Keramahan, empati, keberanian, dan ketulusan menjadi bagian dari pesona yang jauh lebih bernilai dan bertahan lama.


Kini saatnya masyarakat terutama generasi muda menyadari bahwa cantik tidak harus mengikuti standar yang digambarkan media atau tren internet. Kecantikan tidak bisa dipukul rata. Setiap orang memiliki definisinya sendiri. Dan yang terpenting standar kecantikan terbaik yaitu yang membuat kita merasa berharga tanpa perlu mengubah jati diri demi diterima orang lain.

Bagikan :

Tambahkan Komentar