Oleh: Anisa Rejeki
Istilah self healing kini semakin sering terdengar, terutama di kalangan remaja dan anak muda. Di media sosial, banyak yang membagikan momen “healing” ke pantai, ke gunung, atau sekadar duduk tenang sambil minum kopi. Namun, lebih dari sekadar gaya hidup kekinian, self healing sebenarnya merupakan kebutuhan dasar setiap orang untuk menjaga kesehatan mental dan emosionalnya.
Dulu, mungkin tidak banyak yang membicarakan soal luka batin atau kelelahan jiwa. Tapi sekarang, kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan mental mulai meningkat. Banyak orang yang mulai menyadari bahwa tubuh yang sehat tidak cukup, pikiran dan perasaan juga perlu dirawat. Di sinilah peran self healing menjadi penting.
Self healing bukan berarti lari dari masalah atau menghindari tanggung jawab. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk keberanian untuk mengakui bahwa diri sedang lelah, dan butuh waktu untuk memulihkan diri. Apalagi, di tengah tekanan akademik, tuntutan sosial, dan rutinitas yang padat, siapa pun bisa merasa jenuh atau kehilangan semangat.
Proses self healing bisa dilakukan dengan cara yang sederhana. Misalnya, meluangkan waktu untuk melakukan hal yang disukai, seperti membaca buku, mendengarkan musik, menulis jurnal, atau berjalan santai. Bahkan, duduk tenang sendirian sambil merenung juga bisa menjadi bagian dari proses ini. Yang penting, kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasa, menerima, dan menyembuhkan.
Selain itu, self healing juga bisa mempererat hubungan dengan diri sendiri. Saat kita terbiasa mendengarkan isi hati dan mengenali perasaan, kita akan lebih paham apa yang benar-benar kita butuhkan. Hal ini bisa membuat kita lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup, dan tidak mudah goyah saat berada di titik terendah.
Namun tentu saja, self healing tetap harus dilakukan dengan bijak. Jangan sampai dijadikan alasan untuk menunda tanggung jawab atau menghindari masalah secara terus-menerus. Self healing bukan tentang kabur dari kenyataan, tapi memberi waktu bagi diri untuk siap kembali menghadapi kenyataan dengan lebih tenang dan kuat.
Pertama, penting bagi lingkungan baik keluarga, sekolah, maupun pondok untuk mendukung proses self healing ini. Edukasi mengenai kesehatan mental dan empati terhadap sesama bisa membantu menciptakan suasana yang lebih nyaman dan sehat secara emosional. Kedua, proses self healing juga bisa dijadikan bagian dari kegiatan positif di lembaga pendidikan atau pesantren, seperti pelatihan kesadaran diri, journaling, atau diskusi santai.
Dengan begitu, self healing tidak hanya menjadi tren sesaat, tapi bisa menjadi budaya hidup sehat yang terus berkembang. Karena setiap orang berhak merasa lelah, beristirahat, dan bangkit kembali dengan versi terbaik dirinya.
Tambahkan Komentar