Oleh: Sufi Saniatul Mabruroh
Fenomena PayLater atau "beli sekarang, bayar nanti" semakin populer, terutama di kalangan anak muda. Kemudahan dan kecepatan transaksi yang ditawarkan menjadi daya tarik utama. Namun, di balik kemudahan tersebut, PayLater menyimpan potensi bahaya yang serius, khususnya bagi anak muda yang cenderung impulsif dan belum matang dalam mengelola keuangan.
Salah satu bahaya utama PayLater adalah mendorong perilaku konsumtif dan boros. Dengan PayLater, transaksi seolah tidak terasa seperti pengeluaran uang tunai. Hal ini membuat anak muda tergoda untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan atau di luar kemampuan finansial mereka, sekadar untuk mengikuti tren atau gaya hidup. Ketika tagihan datang, mereka baru menyadari bahwa beban yang ditanggung jauh lebih besar dari perkiraan awal.
Kemudian, PayLater dapat menjebak anak muda dalam lingkaran utang. Skema pembayaran cicilan yang ditawarkan seringkali terlihat ringan di awal. Namun, ketika memiliki beberapa cicilan PayLater sekaligus, ditambah dengan utang lain seperti pulsa atau paket data, beban kumulatifnya bisa menjadi sangat besar. Jika terlambat membayar, denda dan bunga yang dikenakan akan semakin melipatgandakan jumlah utang, bahkan bisa merusak riwayat kredit mereka di masa depan. Ini tentu akan menyulitkan mereka jika suatu saat ingin mengajukan pinjaman bank atau kredit lainnya.
Selain itu, minimnya literasi keuangan pada anak muda memperparah bahaya PayLater. Banyak dari mereka yang belum sepenuhnya memahami konsep bunga, denda, atau bahkan risiko gagal bayar. Mereka hanya melihat kemudahan di depan mata tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjangnya. Edukasi mengenai pentingnya pengelolaan keuangan yang sehat, menabung, dan berinvestasi masih sangat kurang.
Terakhir, PayLater juga bisa memicu stres dan masalah psikologis. Tekanan untuk membayar tagihan yang menumpuk dapat menimbulkan kecemasan, stres, bahkan depresi. Jika tidak segera diatasi, masalah keuangan ini bisa berdampak pada performa akademik atau pekerjaan, serta hubungan sosial mereka.
Pemerintah, lembaga keuangan, dan orang tua memiliki peran penting dalam mengedukasi anak muda tentang bahaya PayLater. Penting untuk menanamkan pemahaman bahwa kemudahan transaksi harus dibarengi dengan tanggung jawab finansial yang tinggi. Alih-alih terjerumus pada gaya hidup konsumtif, anak muda perlu didorong untuk lebih bijak dalam mengatur keuangan, menabung, dan berinvestasi demi masa depan yang lebih baik.
Tambahkan Komentar