Oleh : Khansa Aisyatul Nabilla

Hujan malam ini turun pelan, seolah langit tak sanggup menangis terlalu deras. Aku duduk sendiri di sudut kamar yang sunyi, menatap layar ponsel yang sudah lama tak menerima pesan darimu. Dulu, kau selalu ada di sela-sela hariku dengan tawa ringanmu, dengan pertanyaan-pertanyaan kecil yang selalu membuatku merasa penting. Tapi kini, semuanya hanya tinggal ingatan. Aku masih memutar lagu-lagu kita, salah satunya Location Unknown dari HONNE. Lagu itu seperti portal ke masa lalu, membawa kembali sore-sore penuh senyum dan percakapan hangat saat kita tak pernah membicarakan soal kehilangan.


Kau pergi tanpa jejak, tanpa kata perpisahan, hanya menghilang seperti kabut yang ditelan matahari. Tak ada yang benar-benar tahu ke mana kau pergi, termasuk aku. Yang kutahu hanya satu hal 'kepergianmu membuatku seperti kehilangan arah'. Aku berjalan, bekerja, berbicara, tertawa tapi semua itu hampa. Karena ada sesuatu dalam diriku yang ikut kau bawa pergi. Aku mengirim pesan, satu baris sederhana: "Where are you now?" Tak pernah terbaca, tak pernah dibalas. Tapi aku terus menunggu, seolah balasan itu akan datang suatu hari nanti, saat kau sudah menemukan jalan pulang. Atau setidaknya, saat aku sudah siap untuk benar-benar melepaskan.


Kita dulu pernah membicarakan soal rumah. Bukan dalam bentuk bangunan, tapi tentang rasa. Tentang tempat yang membuatmu ingin tinggal. Tentang seseorang yang bisa menjadi tempat kau kembali, tanpa merasa dihakimi. Dan malam ini, saat lagu itu kembali terdengar dari playlist yang aku gunakan sebagai pengantar tidur, aku sadar satu hal Aku tahu ke mana aku ingin pulang, tapi aku tersesat. Karena rumah bagiku bukanlah tempat, rumah adalah kamu.


Aku menyusuri kembali tempat-tempat yang pernah kita datangi. Kedai kopi kecil yang dulu jadi tempat kita saling mencuri pandang, taman kota di mana kau pernah membaca puisi sambil menertawai suara serakmu sendiri. Bahkan halte bus tempat kita pertama kali bertemu. Semuanya masih ada, tapi kehilangan nyawanya. Tanpa kehadiranmu, semuanya seperti lukisan indah yang kehilangan warna. Aku berharap bisa memutar waktu, mengulang semua dari awal, dan bertanya 'apa yang membuatmu pergi?'.


Suatu malam, aku menerima sebuah pesan singkat. Hanya lima baris. “Aku baik. Maaf belum bisa kembali. Tapi aku juga tersesat. Sama sepertimu. Kalau nanti kita bertemu lagi, aku harap kita sudah saling pulang ke diri kita masing-masing.” Aku membaca kalimat itu berulang-ulang, meresapinya seperti mantra pahit namun menenangkan. Kau masih hidup. Kau masih merasakan hal yang sama. Tapi itu tak berarti kita akan kembali. Dan mungkin memang begitu seharusnya, kita belajar menerima meski tak memahami.


Aku tak lagi mencarimu ke mana-mana. Tapi dalam diam, aku tetap menyimpanmu di banyak hal seperti  aroma kopi hitam, suara hujan di pagi hari, hingga bait-bait lagu yang dulu kau nyanyikan dengan nada sumbang. Aku mencoba mencintai hal-hal lain, mencoba membuka halaman baru. Tapi kadang, satu paragraf darimu muncul begitu saja, dan aku terpaksa membaca ulang semuanya dari awal.


Kini, aku tak yakin apakah aku ingin menemukanmu, atau hanya ingin tahu kau bahagia. Karena sekeras apa pun aku mencoba, beberapa orang memang ditakdirkan untuk singgah, bukan tinggal. Dan mungkin, kehilanganmu adalah cara semesta mengajarkanku arti ketulusan. Bahwa mencintai bukan berarti menggenggam. Bahwa merindukan bukan berarti harus memiliki.


Dan mungkin, satu-satunya cara untuk menemukanmu adalah dengan menemukan diriku sendiri terlebih dahulu.

Karena kadang, yang hilang bukan cuma orangnya. Tapi juga versi dirimu yang dulu.

Bagikan :

Tambahkan Komentar