Oleh : Indah Kurnia Sari

Pagi itu seperti pagi-pagi sebelumnya: dingin, berkabut, dan penuh aroma kopi dari kedai kecil di pojok Jalan Kenanga. Aku duduk di bangku kayu yang sudah mulai retak di tepinya, menunggu secangkir kopi susu yang selalu disiapkan oleh Bu Rumi, pemilik warung sekaligus satu-satunya orang yang tahu rahasia kecilku.


“Masih suka kopi susu, ya?” tanya Bu Rumi sambil meletakkan cangkir di hadapanku.


Aku mengangguk. "Masih. Rasanya selalu mengingatkanku pada seseorang."


Ia tak bertanya lebih lanjut. Barangkali karena ia tahu, ada nama yang tak pernah bisa kuucapkan dengan ringan. Nama itu kutanam rapat-rapat di antara busa kopi dan manisnya susu kental yang larut perlahan.


Namanya Lira.


Lira dengan senyum kecil yang selalu hadir setiap pagi selama dua tahun kami duduk sebangku di bangku SMA. Ia tak pernah tahu bahwa aku menyukai caranya menulis, caranya menyebut namaku, atau bahkan caranya menggulung rambut dengan pensil ketika bosan.


Waktu itu, aku pengecut. Tak pernah benar-benar mengatakan apa yang kurasa. Dan ketika hari kelulusan datang, ia hanya meninggalkan catatan kecil di bukuku: “Terima kasih sudah jadi teman duduk yang tenang.”


Teman duduk. Aku tahu maksudnya baik. Tapi kata itu lebih menyakitkan dari apa pun yang bisa kubayangkan.


Sudah hampir delapan tahun sejak kami terakhir bertemu. Tapi entah kenapa, rasa itu tetap tinggal. Kadang hadir di antara aroma hujan dan kertas, kadang muncul begitu saja saat aku menyeduh kopi susu di pagi buta.


Hari ini, ketika aku sedang melamun menatap uap dari cangkirku, seseorang menarik kursi di depanku. Suara tarikan kayu di lantai semen itu membangunkanku dari lamunan.


“Masih suka kopi susu, ya?” katanya.


Aku mengangkat wajah. Dunia terasa berhenti berputar sesaat.


Lira.


Ia tertawa kecil. “Tadi Bu Rumi bilang kamu sering ke sini. Aku iseng mampir waktu pulang kampung.”


Aku membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar.


“Maaf kalau tiba-tiba. Aku cuma… penasaran,” katanya sambil menatap ke cangkirku. “Kopi susu dan satu nama yang mungkin belum pernah kamu ucapkan.”


Aku tertawa lirih. “Kamu tahu?”


Ia mengangguk. “Sejak lama.”


Dan untuk pertama kalinya, aku menyebutkan namanya, pelan, hangat, seperti doa yang kupendam selama ini.


“Lira.”


Ia tersenyum. “Ya. Aku.”


Kopi susuku pagi itu terasa berbeda. Masih manis, masih hangat, tapi kali ini tidak lagi menyimpan rahasia. Karena satu nama yang kupendam akhirnya menemukan rumahnya di antara cangkir-cangkir pagi dan kabut yang mulai menipis.

Bagikan :

Tambahkan Komentar