Oleh : Ratna Sari

Di era digital, media sosial telah menjadi ruang publik baru yang memungkinkan siapa saja untuk berbagi pendapat, informasi, bahkan emosi. Namun, meskipun berada di dunia maya, bukan berarti kita bebas bertindak sesuka hati. Sama seperti di dunia nyata, media sosial juga memerlukan etika dan adab dalam penggunaannya. Sayangnya, banyak orang yang lupa bahwa jejak digital bisa berdampak besar, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.


Adab bermedia sosial mencakup sikap sopan, jujur, serta bertanggung jawab dalam setiap aktivitas daring. Menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya bisa menimbulkan fitnah dan kepanikan. Oleh karena itu, penting untuk selalu berpikir sebelum membagikan sesuatu: apakah informasi tersebut benar, bermanfaat, dan tidak menyakiti pihak lain? Prinsip ini sejalan dengan nilai moral dan etika yang dijunjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari.


Salah satu bentuk adab yang sering dilupakan adalah menjaga kata-kata saat berkomentar. Banyak pengguna yang mudah menghakimi, mencaci, atau menghina hanya karena perbedaan pendapat. Padahal, komentar negatif atau ujaran kebencian bisa melukai psikologis seseorang dan memicu konflik yang lebih besar. Bersikap bijak dan saling menghormati pendapat adalah kunci menjaga keharmonisan di ruang digital.


Selain itu, menjaga privasi juga bagian dari adab bermedia sosial. Tidak semua hal harus dibagikan ke publik, terutama hal-hal yang bersifat pribadi atau sensitif. Mengunggah foto orang lain tanpa izin, membagikan lokasi secara real-time, atau menyebarkan data pribadi bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Maka, penting untuk selalu menjaga batas antara kehidupan pribadi dan publik.


Adab juga mencakup kejujuran dalam bermedia sosial. Banyak orang tergoda untuk membentuk citra palsu demi mendapatkan perhatian atau pengakuan. Padahal, keaslian dan kejujuran lebih bernilai daripada kepalsuan yang mengundang pujian semu. Konten yang positif, inspiratif, dan jujur akan lebih bermanfaat dan membangun karakter yang kuat di dunia maya.


Menjaga adab dalam bermedia sosial juga berarti tidak menyebarkan kebencian terhadap kelompok tertentu, baik berdasarkan suku, agama, ras, maupun pilihan hidup. Sikap toleran dan terbuka terhadap perbedaan sangat penting agar media sosial menjadi ruang yang sehat dan membangun. Kita bisa berbeda pendapat tanpa harus saling merendahkan.


Perlu diingat bahwa apa yang kita unggah hari ini bisa menjadi rekam jejak selamanya. Jejak digital sulit dihapus dan bisa berdampak pada masa depan, termasuk dalam dunia pendidikan dan pekerjaan. Oleh karena itu, berpikir panjang sebelum memposting sesuatu adalah salah satu bentuk tanggung jawab kita sebagai pengguna media sosial.


Dengan demikian, bermedia sosial seharusnya bukan hanya soal eksistensi dan hiburan, tetapi juga tentang bagaimana kita menunjukkan karakter dan nilai-nilai kebaikan. Jika semua orang mampu menjaga adab dalam bermedia sosial, maka dunia maya akan menjadi tempat yang lebih sehat, damai, dan bermanfaat bagi semua orang. (Foto: Eposdigi.com).

Bagikan :

Tambahkan Komentar