Oleh : Indah Kurnia Sari
Di sudut halaman kecil rumah tua bercat biru pudar, tumbuh satu pohon mawar. Hanya satu. Sudah dua tahun lebih mawar itu ditanam Ayu, namun tak pernah sekalipun mengeluarkan bunga. Tidak kering, tidak layu. Ia hidup, tapi diam. Daun-daunnya hijau, batangnya kokoh, kuncupnya selalu tertutup rapat. Tak pernah mekar.
Setiap pagi dan sore, Ayu akan datang menyiramnya dengan air hujan yang ia tampung sendiri. Ia akan duduk diam di dekat pot besar tempat mawar itu tumbuh, membelai daunnya, lalu berbicara pelan seolah-olah mawar itu bisa mendengar.
“Mekarlah… sekali saja. Aku hanya ingin tahu apakah aku sudah cukup sabar.”
Bunga mawar itu bukan bunga biasa. Mawar itu adalah tanaman terakhir yang ditanam ibunya sebelum pergi untuk selamanya. Ibu Lestari meninggal karena kanker ketika Ayu duduk di bangku SMP. Sebelum masuk rumah sakit, ibu menanam benih mawar itu dan berkata padanya:
“Rawatlah bunga ini. Jika suatu hari ia mekar, berarti kamu sudah sembuh.”
Ayu tidak mengerti. Ia tidak sedang sakit. Tapi setelah kepergian ibunya, ia baru paham: ia sakit di dalam hati.
Sejak itu, hidupnya menjadi senyap. Ia menolak berteman, lebih sering menyendiri. Ayu melewati masa remajanya dalam diam. Ia belajar dengan baik, tapi tanpa tawa. Ia hidup, tapi tak benar-benar merasa hidup.
Suatu hari, seorang anak baru datang ke sekolahnya. Namanya Raka. Anak laki-laki itu ceria, suka bercanda, dan anehnya, sering mengajaknya bicara. Awalnya Ayu menolak. Tapi Raka tetap datang—dengan senyum, dengan cerita kecil, dengan sabar.
“Apa yang kamu rawat tiap pagi itu?” tanya Raka suatu sore saat ia tanpa sengaja melihat Ayu duduk di samping pot mawar.
Ayu menoleh pelan. “Bunga mawar. Tapi dia tak kunjung mekar.”
Raka duduk di sebelahnya. “Mungkin dia sedang menunggu sesuatu.”
“Menunggu apa?”
“Kamu,” jawab Raka. “Bisa jadi bunga itu mekar kalau hatimu juga ikut mekar.”
Ayu tertawa kecil. Itu pertama kalinya sejak lama ia tertawa di hadapan orang lain. Dan sejak hari itu, ia mulai terbuka. Mereka mulai sering mengobrol sepulang sekolah. Tentang bunga, tentang hidup, tentang luka yang tak kelihatan. Perlahan-lahan, Ayu mulai tersenyum. Ia mulai merasa ringan. Seolah hatinya sedang membenah.
Suatu pagi, saat matahari belum tinggi, Ayu melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti. Kuncup bunga mawar itu terbuka. Kelopaknya merah muda, segar dan lembut, merekah dengan anggun.
Ayu menatapnya lama, lalu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
“Mama… aku sudah siap,” bisiknya.
Di belakangnya, Raka berdiri sambil tersenyum. Bunga itu akhirnya mekar. Bukan karena waktu. Tapi karena Ayu sudah mulai hidup kembali.
Tambahkan Komentar