Oleh:Faizal adyanto

Kesepian bukanlah sekadar ketiadaan orang di sekitar kita. Ia bisa hadir di tengah keramaian, membisikkan sunyi saat dunia tampak sibuk. Kesepian menyelinap pelan, kadang tanpa disadari. Ia bukan hanya milik mereka yang tinggal sendiri, tapi juga milik siapa saja yang merasa tak benar-benar dimengerti.


Di zaman modern ini, koneksi digital terasa instan dan cepat. Kita bisa terhubung dengan siapa saja dalam hitungan detik. Namun anehnya, justru di era serba terkoneksi ini, banyak dari kita merasa lebih kesepian dari sebelumnya. Media sosial yang semestinya menghubungkan, kadang hanya memperlihatkan betapa kita tertinggal, sendiri, dan berbeda.


Kesepian bukan hal yang memalukan. Ia adalah bagian dari kehidupan manusia. Bahkan bisa menjadi momen refleksi paling jujur—ketika tidak ada suara lain selain suara hati kita sendiri. Dari kesepian, seseorang bisa belajar mengenal diri, menemukan makna, dan membangun kembali hubungan yang lebih otentik dengan dunia.


Namun, penting juga untuk mengenali batas. Jika kesepian berubah menjadi keputusasaan, maka perlu keberanian untuk meminta bantuan. Bercerita, membuka diri, atau sekadar hadir dalam ruang bersama seseorang, bisa menjadi jembatan keluar dari ruang sepi yang menyesakkan.


Kesepian tidak harus diusir. Kadang, ia hanya ingin didengar. Ia bisa menjadi teman yang mengajarkan bahwa tidak apa-apa merasa rapuh. Karena dari keretakan itu, seringkali tumbuh kekuatan yang baru.

Bagikan :

Tambahkan Komentar