Oleh Danik Ermilasari
Mahasiswi Prodi PGMI 1A STAINU Temanggung

Sejarah atau asal-usul kue cethil
Cethil adalah makanan yang unik dan universal karena makanan ini mudah dijumpai dipasar-pasar tradisional. Kue cethil bersifat lengket dan sulit untuk dipisahkan, hal ini menggambarkan karakter orang jawa memiliki sifat persaudaraan yang sangat erat dan sulit untuk memecah belah tali persaudaraan mereka.


Jajanan pasar di Jawa Tengah memang beragam, namun yang sangat familiar dikalangan masyarakat salah satunya ialah cethil. Harga kue ini sangat terjangkau namun memiliki rasa yang enak, sehingga bagi orang jawa yang merantau ke daerah di luar jawa akan merasakan kangen terhadap makanan khas ini.

Makna lain yang terkandung dari kata cethil dalam bahasa jawa juga memiliki arti pelit, namun maksud yang terkandung dalam kue ini bukanlah merujuk kepada orang-orang yang pelit. Apalagi jika dikatakan bahwa orang yang memakan makanan ini akan mengakibatkan orang yang tadinya dermawan akan menjadi pelit. Anggapan semacam ini tentu tidak sesuai dengan makna kata cethil dalam penamaan jajanan pasar ini. Ada juga yang menafsirkan bahwa penamaan cethil pada makan ini karena bentuknya yang kecil-kecil.

Kue cethil sebagai salah satu makanan khas jawa memiliki bentuk bulat dengan tekstur kenyal dan memiliki warna yang beragam. Kue ini berbahan dasar sagu sebagai bahan utama pembuatannya. Keunikan lain yang dimiliki oleh jajanan ini adalah cara menyantapnya, makanan ini biasanya disajikan dengan menggunakan pincuk yang merupakan akronim dari kata “pinten-pinten cukup” yang dalam masyarakat jawa menggambarkan rasa syukur kepada Tuhan.
Dengan demikian nama cethil pada makanan ini merujuk pada bentuk yang bulat dan kecil-kecil serta bertekstur kenyal. Sifat lengket antar kue ini melambangkan karakter orang jawa yang memiliki persaudaraan yang erat meskipun tidak saling mengenal.

Makanan itu tetap eksis
Menurutnya makanan itu sangat unik dan ada dimana-mana. Harganya yang murah, teksturnya yang khas (kenyal), serta warna-warninya menyebabakan orang kangen untuk menyantap makanan tersebut.

Cara mempromosikan
Jajanan pasar ini biasanya dijajakan di pasar-pasar tradisional terdekat. Dalam menyajikan makanan ini biasanya disajikan bersama dengan beberapa makanan sejenis lainnya. Namun disantap dengan begitu saja juga memeiliki rasa yang enak. Agar keberadaan makanan ini tetap eksis ditengah perkembangan zaman, tidak jarang pula penyajian dibuat semenarik mungkin misalnya dnegan menggunakan daun pisang dengan bentuk-bentuk yang unik.

Bahan-bahan Cethil
275 gr tepung sagu
100 ml ,,,,, dididihkan dnegna air hingga 200 ml
½ butir kelapa muda, diparut
¼ sendok teh garam
100 gr gula halus
Pewarna makanan (hijau dan merah)

Cara membuat makanan cethil
Ambil sesendok tepung sagu, kemudian campur di 2 air dingin kemudian tuangkan pada air hangat.
Ambil dari kompor lalau diaduk-aduk sampai kental
Masukkan tepung yang sudah kental tersebut kamudian aduk sampai bisa dibentuk-bentuk
Bagi adonan menjadi 3 bagian, lalau campurkan pewarna makanan
Kemudian adonan-adonan tersebut dimasak (menanak) di dalam air mendidih
Setelah adonan tersebut mengambang, adonan tersebut diangkat.
Campurkan parutan kelapa muda, taruh diatas daun pisasng lalau taburi dengan gula pasir halus
Cethil siap disajikan

Makana unik ini sebagai makana khas jawa yang masih ada di jaman modern ini dan untuk menjaga keunikan lokal.

Hasil artikel ini dari wawancara dengan narasumber Diyana (40) RT 02 RW 01 Magelang. Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Umum yang diampu Hamidulloh Ibda

Bagikan :

Tambahkan Komentar