oleh: Zahra Agid Tsabitah

Angin sore menyapu pelan lereng Gunung Sindoro. Di ujung desa, seorang anak lelaki bernama Lintang duduk sendirian di batu besar dekat kebun tembakau. Tangannya menggenggam sebuah buku lusuh, tulisannya sudah pudar, tapi di halaman pertama masih terbaca jelas: “Untuk Lintang, agar kau tetap percaya pada keajaiban.” Tulisan tangan itu milik ibu Lintang, yang sudah berpulang tiga tahun lalu.


Sejak kecil, Lintang percaya bahwa bulan bisa bicara. Ia yakin, malam hari adalah saat langit membuka telinga. Ia sering mengadu kepada bulan tentang hal-hal yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun tentang bapaknya yang jarang pulang, tentang guru yang suka meremehkan, tentang rasa sepi yang tak pernah habis. Setiap kali selesai bercerita, ia akan memejamkan mata dan berharap ada jawaban esok paginya, entah lewat angin, mimpi, atau daun yang jatuh di pangkuannya.


Suatu malam, saat langit begitu jernih dan bulan menggantung penuh seperti lentera raksasa, Lintang bermimpi aneh. Dalam mimpi itu, bulan turun dari langit, berubah menjadi seorang nenek tua berambut perak yang duduk di sampingnya di batu besar itu.


“Lintang,” kata sang nenek bulan, suaranya lembut seperti embun, “kau terlalu sering menunggu jawaban dari langit. Padahal, kadang jawaban itu ada di kakimu sendiri.”


Lintang bingung. “Apa maksudnya, nek?”

Satu hari nanti, kau akan tahu.”

Esok harinya, Lintang terbangun dengan napas terengah, keringat dingin membasahi lehernya. Tapi anehnya, ia merasa tenang. Seperti habis diberi pelukan dari langit. Ia membuka buku tua ibunya lagi, dan melihat bahwa di halaman terakhir yang kemarin kosong tiba-tiba ada tulisan baru: "Kalau kau rindu ibu, bantu orang lain. Di situlah aku tinggal.”


Lintang menutup buku itu dengan tangan bergetar. Ia berdiri, memandangi rumah-rumah yang tersebar di lereng, lalu berlari ke rumah Pak Lik Tumiran, tetangganya yang lumpuh sejak jatuh dari pohon cengkeh. Sejak hari itu, Lintang mulai membantu siapa pun yang ia bisa. Mengantar air ke rumah simbah-simbah, menyalakan lampu musala saat listrik mati, atau sekadar menemani anak kecil membaca buku.


Desa mulai mengenalnya bukan lagi sebagai anak pemurung yang suka menyendiri, tapi sebagai Lintang si Penjaga Lereng. Mereka bilang, setiap kali Lintang lewat, burung akan berkicau lebih ramai, dan daun tembakau bergoyang lebih halus.


Beberapa tahun kemudian, Lintang tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan bijaksana. Ia membuka perpustakaan kecil dari sumbangan buku yang ia kumpulkan dari berbagai tempat. Di dinding ruangan itu, ia menggantung foto ibunya dan tulisan: “Jangan tunggu jawaban dari langit. Kadang, kita sendirilah jawabannya.”


Malam-malam, Lintang masih suka duduk di batu besar itu, memandangi bulan yang tak pernah absen. Ia tak lagi meminta jawaban, hanya mengucap terima kasih. Karena ia tahu, kadang bulan memang tak perlu bicara. Cukup bersinar, dan kita tahu bahwa kita tidak sendirian.

Bagikan :

Tambahkan Komentar