Oleh : Fitria Agustin Indah Yulianti

Tangan Rina bergetar saat memegang pisau dapur. Di sekelilingnya, sembilan koki profesional bergerak dengan percaya diri, memotong sayuran dalam tempo yang sempurna. Suara pisau mengenai talenan mereka terdengar seperti orkestra yang harmonis, sementara suara Rina... terdengar seperti pemain drum pemula yang kehilangan irama.


"Satu jam tersisa!" teriak Chef Mario, juri utama kompetisi. Kameranya merekam setiap gerakan, setiap tetes keringat yang mengalir di dahi para kontestan.


Rina menghela napas panjang. Bagaimana dia bisa sampai di sini? Seorang ibu rumah tangga dari Yogyakarta yang hobi memasak untuk keluarga, kini berdiri di panggung kompetisi masak paling bergengsi di Indonesia. Peserta lain adalah lulusan sekolah kuliner ternama, chef dari hotel berbintang lima, pemilik restoran yang sudah malang melintang puluhan tahun.

"Kenapa aku di sini?" bisiknya pada diri sendiri.


Flashback tiga bulan lalu muncul di benaknya. Video masakan sederhana yang dia unggah di media sosial—gudeg buatannya yang dimodifikasi dengan sentuhan modern—tiba-tiba viral. Jutaan views, ribuan komentar positif, dan undangan untuk mengikuti audisi kompetisi ini.

"Bunda, masak apa hari ini?" suara anaknya yang berusia tujuh tahun menggema di telinganya. Iya, dia memasak bukan untuk menang kompetisi atau mendapat pujian juri. Dia memasak karena cinta.

Rina melirik ke kiri. Chef Andreas sedang membuat foam molekuler dengan peralatan canggih. Di sebelah kanan, Chef Sari menata hidangannya seperti lukisan di atas piring. Teknik mereka sempurna, presentasi menawan.


Tapi Rina punya sesuatu yang berbeda. Dia punya cerita.

Tangannya mulai bergerak lebih mantap. Dia tidak akan membuat foam atau teknik molekuler yang rumit. Dia akan membuat nasi gudeg, tapi dengan cara yang belum pernah ada. Gudeg yang membawa rasa kampung halaman, kehangatan keluarga, dan cinta seorang ibu.


Bumbu-bumbu tradisional mulai menari di atas wajan. Aroma gula kelapa dan santan segar menyebar, mengalahkan bau truffle oil dari stasiun sebelah. Beberapa koki profesional menoleh, penasaran dengan aroma yang begitu autentik namun berbeda.

"Tiga puluh menit!" Chef Mario berteriak lagi.


Rina tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak kompetisi dimulai, dia merasa berada di rumah. Tangannya bergerak seperti sedang memasak untuk keluarga di dapur kecilnya. Tidak ada tekanan, tidak ada ketakutan. Hanya ada cinta yang dicurahkan dalam setiap irisan nangka muda, setiap taburan kelapa parut.

Dia menambahkan sentuhan modernnya: presentasi yang elegan namun tetap mempertahankan soul makanan tradisional. Gudeg disajikan dalam mangkuk keramik putih, ditaburi kerupuk rambak yang dipecah artistik, dan daun pisang muda sebagai garnish.

"Waktu habis! Tangan ke atas!"


Rina mundur dari stasiunnya, memandangi karyanya. Tidak secanggih yang lain, tidak semewah presentasi pesaing, tapi hidangannya bercerita tentang tradisi, keluarga, dan keaslian rasa Indonesia.

Satu per satu juri mencicipi hidangan. Ekspresi mereka tak terbaca. Ketika giliran Rina, Chef Mario mengambil sendok pertama, mengunyah perlahan. Mata pria Italia itu terpejam sejenak.


"Ini..." dia terdiam. "Ini seperti pelukan hangat dari nenek yang sudah lama tidak kutemui. Rasa yang kompleks, autentik, namun ada inovasi yang tidak mengkhianati tradisi."

Juri lainnya mengangguk setuju. "Teknik memang tidak secanggih yang lain, tapi rasa dan cerita di balik hidangan ini... luar biasa."


Malam itu, Rina tidak menjadi juara utama. Chef Andreas dengan molecular gastronomy-nya yang meraih posisi pertama. Tapi Rina mendapat sesuatu yang lebih berharga: pengakuan bahwa masakan dari hati, meski sederhana, bisa bersanding dengan teknik tinggi.


"Ibu, di TV!" teriak anaknya ketika Rina sampai di rumah keesokan harinya.

Di layar televisi, sosoknya muncul dengan caption: "Finalis yang Menginspirasi - Membuktikan Cinta adalah Bumbu Terbaik."


Rina tersenyum, memeluk anaknya erat. Kompetisi terakhirnya memang berakhir, tapi perjalanan barunya sebagai chef yang membawa cerita Indonesia baru saja dimulai.

Bagikan :

Tambahkan Komentar