Temanggung, Hariantemanggung.com - Workshop bertajuk "Kilau Jelantah: Dari Sisa Jadi Bisa" akan diselenggarakan di Pasar Papringan, Temanggung, Jawa Tengah sebagai bentuk nyata komitmen pemberdayaan ibu-ibu rumah tangga di tingkat akar rumput. Kegiatan ini mengajak para peserta untuk bersama-sama mempelajari cara mengolah minyak goreng bekas pakai atau minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai jual, serta membangun kesadaran kolektif akan pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga yang bertanggung jawab.
Berdasarkan
data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Indonesia
menghasilkan sekitar 4,4 juta kiloliter minyak jelantah setiap tahunnya, namun
hanya sebagian kecil yang dikelola dengan benar. Sebagian besar minyak jelantah
masih dibuang ke saluran pembuangan atau digunakan kembali untuk menggoreng,
padahal kandungan senyawa akrolein dan radikal bebas di dalamnya telah terbukti
berbahaya bagi kesehatan, khususnya berisiko meningkatkan penyakit
kardiovaskular dan kanker.
Melihat
kondisi tersebut, workshop Kilau Jelantah hadir sebagai solusi praktis yang
tidak hanya menjawab persoalan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi
baru bagi para ibu rumah tangga. Kegiatan Workshop Kilau Jelantah ini berada di
bawah supervision Spedagi sebagai organisasi pendamping komunitas dan didukung
oleh Universitas Multimedia Nusantara dalam pelaksanaan serta pengembangan
program pemberdayaan masyarakat.
Workshop Kilau
Jelantah dirancang secara interaktif dan berbasis praktik langsung agar para
peserta tidak sekadar mendengar, tetapi benar-benar dapat memproduksi lilin
aromaterapi sejak hari pertama mengikuti kegiatan. Seluruh proses mulai dari
pengumpulan minyak jelantah, proses penyaringan sederhana, pencampuran bahan
alami, hingga pengemasan produk akhir akan dipandu oleh fasilitator yang
berpengalaman.
Kegiatan ini
juga dilengkapi dengan sesi diskusi tentang bahaya minyak jelantah bagi
kesehatan dan lingkungan, serta pengenalan dasar pemasaran produk rumahan
melalui media sosial. Saat acara selesai seluruh peserta akan membawa pulang
hasil karya lilin aromaterapi buatan mereka sendiri sebagai bekal untuk
dipraktikkan di rumah.
Pemilihan
Pasar Papringan sebagai lokasi kegiatan merupakan bagian dari strategi untuk
menjangkau komunitas secara langsung di ruang yang sudah akrab bagi mereka.
Pasar yang berdiri di antara rumpun bambu di Dusun Ngadiprono, Kecamatan Kedu,
Temanggung ini dikenal sebagai ruang publik yang hidup dan inklusif, sehingga
menjadi tempat yang tepat untuk menyemai nilai-nilai keberdayaan perempuan dan
kepedulian lingkungan. Inisiatif ini juga sejalan dengan semangat ekonomi
sirkular yang kini semakin menjadi perhatian global, di mana limbah diubah
menjadi sumber daya yang produktif.
Workshop Kilau
Jelantah menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan difokuskan pada edukasi,
keterampilan praktis, dan pemberdayaan ekonomi komunitas. Dengan semangat
"dari sisa jadi bisa", Kilau Jelantah berharap dapat menginspirasi
lebih banyak perempuan untuk menjadi motor penggerak perubahan di lingkungan
terdekat mereka.
Seperti
diketahui, Kilau Jelantah adalah inisiatif pemberdayaan masyarakat berbasis
komunitas yang berfokus pada pemanfaatan limbah minyak goreng rumah tangga
menjadi produk lilin aromaterapi bernilai ekonomi. Dengan tagline "Dari
Sisa Jadi Bisa", Kilau Jelantah berkomitmen untuk memperluas edukasi
lingkungan dan membuka peluang usaha kreatif bagi ibu-ibu rumah tangga di
Temanggung, Jawa Tengah.

Tambahkan Komentar